71. Datang dan Pergi dalam satu waktu (End)

1.4K 78 5
                                        

Dengan langkah mantap, Arsya membuka pintu kamar, sementara Aruna mengikutinya perlahan, menatap lurus ke arah sosok Bella yang kini terbaring di atas ranjang dengan tatapan jernih dan penuh penyesalan.

dalam ruangan bernuansa putih dan sunyi itu, Bella terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Tubuhnya tampak rapuh, dibalut selimut putih yang menutupi hingga dada. Wajahnya pucat, dengan beberapa luka yang belum sepenuhnya pulih.

Di mulutnya terpasang selang oksigen tipis yang membantu pernapasannya tetap stabil. Di pergelangan tangan kirinya, terhubung infus yang menggantung di tiang besi di samping ranjang. Lengan dan jari-jarinya tampak kaku, namun sesekali bergerak kecil, pertanda ia masih berjuang untuk bertahan.

Di sisi kanan ranjang, terdapat monitor detak jantung. Layar itu menampilkan garis-garis hijau bergerak perlahan, disertai bunyi 'beep... beep...' yang teratur menjadi satu-satunya suara yang terdengar di ruangan selain hembusan napas lemah Bella.

Matanya terbuka setengah, menatap ke atas tanpa banyak ekspresi, namun setelah mendengar suara langkah kaki pandangan Bella berusaha beralih ke samping nya mencari siapa yang datang.

"A-rsya." Ucap Bella lirih. Air mata nya kembali jatuh saat melihat Arsya dan Aruna kini berada di hadapannya. "Ar-runa." Lanjut nya menyapa Aruna.

Arsya membiarkan Aruna berdiri tepat di samping Bella dan Arsya berada di samping Aruna.

"Kamu kenapa? Ko nangis?" Tanya Aruna, jari jemari nya berusaha menghapus air mata Bella.

"Aruna...maaf." Kata Bella dengan suaranya yang lirih dan juga senyuman tulus nya.

Aruna mengangguk pelan dan juga memberikan senyuman terbaiknya. "Aku dan Arsya udah maafin. Sekarang kamu fokus sama kesehatan kamu yah?"

"A-aku udah jahat banget sama kalian."

"Suut...semua orang pasti pernah salah bel. Tinggal tergantung diri kita nya mau memperbaiki atau enggak. Yang penting kamu sembuh aja dulu, sehat sehat yah!?"

Bella mengangguk lalu pandangan mata nya tertuju pada Arsya. "Sya..."

Aruna memilih bergeser dan membiarkan Arsya berada di samping Bella. Bagaimanapun ada yang harus mereka selesaikan.

"Iya bel aku udah maafin kamu." Sahut Arsya.

Bella tersenyum. "Makasih buat semua nya sya." Ucap nya lirih.

"Iya... sekarang fokus sama kesehatan kamu. Masa depan kamu masih panjang, waktu kamu untuk memperbaiki diri masih ada bell."

Bella menggeleng kan kepalanya pelan meskipun terhalang selang oksigen yang menghalanginya. "Aku capek sya..."

"Sembuh bell gue percaya itu Lo pasti sembuh."

Arsya berdiri di sisi kiri ranjang, dan Aruna kini duduk di kursi samping Arsya mengelus-elus kaki Bella yang tertutup selimut, sementara Rena di sebelah kanan, menggenggam tangan Bella yang terasa dingin dan lemah. Mata Bella terbuka setengah, memandangi mereka berdua dengan pandangan jernih namun sayu, seolah mengucapkan salam perpisahan tanpa kata.

Napas Bella semakin pelan, bibirnya yang pucat bergerak sedikit suara hampir tak terdengar keluar dari mulutnya:

"Arsya...ar-una...Maaf... dan terima kasih..."

Setelah itu, kelopak matanya mulai tertutup perlahan. Pandangan terakhirnya terkunci pada wajah Arsya dan Aruna.

Arsya dan Aruna saling beradu pandang sejenak, dalam diam, tanpa perlu bicara apa pun. Ada rasa berat yang tak bisa dijelaskan. Aruna menahan air mata, sementara Arsya hanya menghela napas panjang, menatap layar monitor di samping ranjang.

Arsya & ArunaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang