Genre: romance, youth, love, enemies
Rolfagez dan Hesvior adalah dua Geng motor yang sudah menjadi musuh sejak lama. Bagaimana jika seorang Gadis tiba-tiba terlibat dan menjadi pemicu berkobar nya api permusuhan antara Michael Januarta (Ketua Rolfag...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Cey, gue mau ngomong sebentar" Sagara mengetuk pelan pintu kamar Cesie. "Gue minta maaf, kami tau kami semua bersalah sama lo, kami terpaksa Cey" ujar nya lirih
Namun tak ada tanda-tanda pintu kamar Cesie akan dibuka oleh si pemilik kamar. Sagara menghela pelan lalu menuruni tangga sambil membawa tas di bahu kanan nya. Semalam bahu kiri nya dipukul kuat oleh Gama sehingga terasa nyeri hingga saat ini, seluruh wajah nya saja penuh lebam dan luka, sudah pasti dia akan dimarahi saat bertemu Papa dan Mami di meja makan.
"Puas tawuran nya? Kurang bonyok lagi itu, mau Papa tambahin?" sambut Papa ketika Sagara menarik kursi untuk duduk disana. "Motor, mobil dan segala fasilitas kamu Papa sita sementara. Kamu di anter jemput sama Pak Ali selama tiga bulan!"
Sagara mengerutkan kening. "Pa! Tiga bulan lama banget? Biasanya cuma seminggu!"
Papa menyodorkan ponsel nya kepada Sagara dan menunjukkan berita tawuran semalam sudah masuk artikel berita. "Kamu mau kalian di tangkep polisi hm? Atau Papa bantu biar berita nya hilang gitu aja. Papa tau tanpa Papa turun tangan, orang tua temen-temen kamu pasti sudah gerak cepat atasi masalah ini. Kalau kamu gak nurut sama Papa, Papa biarin polisi nangkep kamu. Biar kamu sadar kalau itu salah!"
"Maaf Pa..." dia mengakhiri dengan mengalah, bagaimanapun dia harus mengakui kesalahan nya
"Sekarang Papa tanya, kenapa tawuran lagi? Mentang-mentang Papa izinin kamu ikut geng motor gitu, kamu jadi seenaknya nantangin orang. Kita ini jadi manusia perbanyak teman Sagara, bukan perbanyak musuh"
"Memang mereka duluan Pa! Mereka duluan yang jahatin kita! Intinya dendam masa lalu---" mulut nya otomatis diam saat melihat Cesie datang dan duduk di sebelah Mami. Biasanya Cesie akan duduk di sebelah nya. Gadis itu juga diam dan tak menoleh kepada mereka sedikit pun seolah dia hanya fokus pada kegiatan nya saja
Mami dan Papa saling melempar pandang. Sangat terlihat kalau Cesie dan Sagara itu sedang ada masalah. Tapi Papa mengkode pada Mami bahwa lebih baik sekarang diam saja. Mami memandangi putri nya itu cukup dalam, hingga mata nya melihat telapak tangan Cesie yang terluka, luka yang dibiarkan begitu saja tanpa di obati.
Mami menarik tangan Cesie dengan perasaan campur aduk, apalagi ini. "Tangan kamu kenapa?" Mami menarik tangan satu nya lagi sambil menunjukkan nya kepada Papa. "Ini kenapa Cey? Luka kerena apa? Kenapa gak di obatin"
"Biarin aja Mi" dia menarik tangan nya pelan lalu memakan sarapan dengan tenang
Namun Mami tak bisa diam saja, dia langsung beranjak dari tempat duduk nya lalu mengambil kotak obat untuk mengobati luka Cesie. Mami dan Papa terus bertanya namun Cesie hanya diam. Gadis itu lebih banyak diam hari ini. Setelah menghabiskan satu roti tawar nya, Cesie segera pamit dengan kedua orang tua nya untuk pergi sekolah. Dia menghiraukan omelan Mami yang marah karena dia hanya makan satu lembar roti tawar saja.