"Nah ini yang ditunggu-tunggu."
Kaivan tersenyum menghampiri Aidan untuk mengambil plastik yang Aidan bawa, "sesuai pesanan," ujarnya saat mengintip apa yang ada di dalam plastik.
"Jangan lupa transfer ke gue bayarnya," ujar Erys sembari melangkah menuju sofa tempat Kaivan duduk tadi. Aidan menyusul duduk di samping Erys.
"Emang lo yang bayarin?" Tanya Kaivan sembari mencibir, Kaivan mengeluarkan ayam dan scramble egg nya dengan semangat. "Kalau liburan tuh rasanya halal aja beli makanan cepat saji gini."
Erys menggelengkan kepalanya, tentu Aidan yang mengeluarkan uang sejak tadi. Dengan sengaja meninggalkan dompet Erys di dalam dashboard mobil tetapi Erys berhasil membelikan Aidan hadiah. Begini-begini Erys tau cara mengembalikan pemberian dengan pemberian lain yah walaupun pada Eros tidak. Erys tahu kalau Eros sangat kaya jadi ya sudah, oh membicarakan Eros, dimana ya?
Memutar kepalanya melihat villa yang sudah sangat sepi, Erys menatapi Kaivan yang bagai makan harta karun. Sangat bahagia. Villa baru jam segini saja sudah sepi, entahlah mereka hanya ramai saat siang hari karena memang semuanya sudah tua. Jadi hanya mereka bertiga yang selalu semangat 24 jam. "Kok sepi banget?"
Kaivan menelan nasinya sebelum menjawab pertanyaan Erys, "udah pada di kamar habis makan malam cerita-cerita dulu. Kalian aja yang kelamaan di luar," kata Kaivan, kembali mengambil nasi dan ayam.
"Padahal kerasa sebentar banget ya, Ai?"
Aidan mengangguk, tangannya mengambil bungkusan yang berbeda lalu memberikannya pada Erys. "Nih, jadi kasih kuteknya?" Tanya Aidan, mereka tadi bermain dan siapa yang kalah akan mengenakan apa yang dimenangkan dan ternyata Erys menang. Erys dapat kutek berwarna merah merona, Erys juga tahu kalau Aidan sengaja kalah agar seru.
"Sepi gini mana ada yang lihat, paling Kaivan." Erys mengambil kutek itu sambil menimbang-nimbang. Tidak seru jika tidak ada banyak orang yang menyadarinya. Akan lebih seru saat mereka pergi berjalan-jalan, Aidan memakai kutek itu.
"Aha!" Erys menjentikkan jarinya, "besok aja sekalian jalan-jalan."
Esok harinya Erys merasa seluruh tubuhnya pegal, tetapi mengingat hari ini mereka akan mulai berlibur yang benar-benar liburan maka Erys dengan cepat mengambil pakaian dan memakai make up tipis.
"Emang lo paling cantik," Erys bermonolog menatap dirinya yang sudah cantik dengan cardigan berwarna merah cerah dengan sentuhan warna putih, rok broken white dan sepatu merah pula. "Perfect, gini Aidan gak suka? Pasti suka!"
Membuka pintunya, Erys berjalan untuk menuju meja makan. Dari koridor saja sudah terdengar suara-suara meriah. Saat akan mengumumkan kedatangannya, Erys merasakan ada yang menepuk kepalanya. "Kak Eros?"
Eros tersenyum tipis, "morning," sapanya singkat.
Melihat Eros memakai baju polo hitam dengan celana pendek berwarna cream, tampak sedikit kantung mata hitam tetapi masih sangat terlihat rupawan. "Morning, gimana tidurnya tadi malam? Ada mata pandanya," Erys menunjuk pada matanya sendiri. Dia bangun sampai dini hari tetapi tidak melihat Eros sama sekali, Erys pikir Eros sudah tidur tetapi melihat ada mata panda di mata Eros, sepertinya Eros tidak tidur nyenyak tadi malam.
"Pulang jam berapa?" Eros tidak menjawab, malah memberi Erys pertanyaan. Mereka masih berdiri di koridor, berbicara saling berhadapan.
"Jam sebelas," jawab Erys jujur. "Kaivan masih nunggu di depan, aku kira Kak Eros udah tidur," lanjut Erys menatap Eros.
Eros mengangguk, "masuk kamar dulu tadi malam, ayo!" Eros menggandeng tangan Erys untuk menuju meja, mendudukkannya di samping sang Oma.
Kirana tersenyum, "Ini kemana aja cucu sulung oma. Tadi malam kok gak ikut makan, katanya gak enak badan? Udah minum obat, Eros?" Tanya Kirana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall Apart
Ficção GeralSequel of Fall in Love Eros Kalnandra Nararya Adam mengenal Erys Serapina Adam bahkan sejak Erys masih dalam kandungan tantenya. Nama Erys pun pilihan Eros, mereka sedekat nadi dan tidak terpisahkan walau bahkan oleh jarak umur yang terpaut jauh. Ba...
