42. La La La Lost You

379 26 3
                                        

Perbedaan waktu 6 jam antara Indonesia dan London pasti membuat Kaivan jadi tidak waras. Di sana pasti sudah malam, sedangkan di sini masih sore. Pasti Kaivan mengantuk saat menelponnya hingga hanya diam saja.

"Ai istirahat aja, lusa kalau Om Ale datang biar tambah fit." Erys memperhatikan Aidan yang berdiri di depannya sambil tersenyum.

"Hum, kamu juga. Mumpung masih sore juga," Aidan mengusap rambut Erys.

Keduanya berpisah, Erys menuju kamarnya sedangkan Aidan menuju kamarnya sendiri. Sebelum itu, Erys memilih mengambil air minum terlebih dahulu untuk dibawa ke kamar.

Tangan kanannya sibuk memegang handphone untuk menghubungi orangtuanya sedangkan tangan kirinya memegang gelas kaca. Tiba-tiba saja, tangannya terasa licin hingga gelas itu meluncur dengan cepat menyebarkan air di dalamnya.

Erys membelalak bahkan Aidan berjalan keluar dengan tergesa. "Erys?"

Dengan cepat Erys berjongkok sebelum Aidan berjalan menghampirinya, tangannya tanpa segaja menyentuh bagian yang tajam hingga memunculkan sengatan menyakitkan. Tetesan darah dengan cepat keluar membuat Erys tanpa sadar melamun dan mengerjap.

Entah kenapa, tangannya yang menggenggam telepon terasa bergetar. Jantungnya tiba-tiba terasa sesak tanpa sebab, tanpa peringatan. Dan matanya... matanya terasa panas seolah ada air mata yang akan keluar.

"Astaga," Kaivan menarik tangan Erys agar mengikutinya, menghindari pecahan kaca.

Begitupun Airin yang juga ikut keluar melihat kekacauan itu. "Biar tante yang bereskan, kamu manut Aidan dulu ya Erys sayang."

Erys mengamati saat Aidan membersihkan darahnya dengan air mengalir lalu memberinya gel pendingin. Tidak terlalu banyak darah tetapi tidak tahu kenapa Erys ingin menangis.

"Kenapa?" Aidan bertanya lembut karena Erys terdiam. "It's okay," ujar Aidan.

Tante Airin juga tersenyum lalu menepuk bahu Erys, "langsung istirahat habis ini. Kamu mau telfon Arena ya?"

Erys mengangguk lalu melirik ponselnya yang sudah mati karena panggilannya tidak dijawab sang mama. "Udah tidur kayaknya." Katanya pelan.

Airin mengangguk, "dia kan pelor, pasti udah tidur." Candanya membuat Erys tersenyum.

"Sudah, Erys tidur dulu aja." Aidan lalu mengajak Erys masuk ke dalam kamarnya namun sebelum itu, ponsel Erys yang sejak tadi di genggam mengeluarkan nada dering.

"Bunda." Erys duduk kembali bersama Aidan, menunjukkan ponselnya.

Bersamaan dengan itu, terdengar ponsel Airin yang berbunyi. Dari suaminya, Ale. Lalu Erys, Airin, dan Aidan saling berpandangan merasakan firasat buruk.

"Halo, Bun?" Erys mengangkat teleponnya bersama dengan Airin yang menjauh mengangkat telepon sang suami.

Terdengar suara heboh dari seberang sana, suara tangis Mama Nara juga lalu suara panik Kaivan. Erys semakin khawatir saat mendengar suara Bundanya, terdengar sengau menahan tangis.

"Bunda, di sana baik-baik aja kan?" Mendadak Erys teringat bagaimana gelasnya pecah dan tangannya terluka. Reaksi tubuhnya yang mendadak terasa sesak. "Dada baik-baik aja kan?"

Erys khawatir terjadi sesuatu pada Dadanya hingga sang bunda menangis, pandangannya melirik Aidan sekilas. Di seberang sana bundanya masih tidak bersuara.

Suara-suara tidak jelas yang Erys dengar membuatnya takut setengah mati.

"Erys," suara bundanya kemudian terdengar sangat pelan. "Kak Eros...."

***

Erys tidak tahu bagaimana dia berpikir akhir-akhir ini. Dia lelah jujur saja, banyak kemungkinan muncul di kepalanya memaksa Erys untuk berpikir keras. Tetapi dia tidak tahu bagaimana caranya berpikir.

Fall ApartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang