40. Fall Apart

247 16 3
                                        

Wattpad ada masalah apa sih, notifnya amburadul banget:(

***

Waktu terasa berjalan lebih cepat setelah Erys mendengar kabar itu, pikirannya mendadak blank. Dia tidak bisa berpikir sama sekali. Hanya mengikuti kemana Tanye Airin dan Bundanya pergi dengan pikiran yang melayang kemana-mana.

Aidan yang selalu sehat ternyata menyembunyikan penyakit yang mengerikan. Multiple myeloma. Kanker yang menyerang plasmosit. Erys tidak tahu detailnya, tetapi kanker selalu terdengar menakutkan 'kan?

Tentu saja, Tante Airin tidak berhenti menangis hingga mereka sampai ke tempat Oma Aidan. Om Ale sudah menyusul ke London beberapa hari lalu karena curiga dengan Aidan yang akhir-akhir ini terlihat mulai jarang menghubungi. Dan seharusnya Erys juga curiga tetapi dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.

Erys menghela napasnya berat lalu menyandarkan sepenuh tubuhnya di tubuh sang bunda yang sama-sama terdiam. Tangan Arena tampak mengelus kepalanya dengan lembut. "Aku—" Erys menjeda ucapannya lalu mendongak perlahan.

Arena mengangguk, "tentu, temani Tante Airin ya?"

Erys langsung memeluk bundanya, tangisnya tumpah tak terkendali. Lagi. Seolah tidak ada habisnya kesedihan itu menghampirinya. "Ai gak bakal kenapa-kenapa kan?"

"Berdoa saja ya? Kita doakan Aidan baik-baik saja. Yang paling penting dukungan kita bisa buat Aidan lebih semangat. Bunda yakin Erys bisa," lembut sekali Arena menenangkan Erys yang menangis hingga tenang. "Besok bunda bantu siap-siap biar sewaktu-waktu bisa langsung ikut."

Erys menganggukkan kepalanya setuju, keduanya hanya diam hingga sampai di rumah. Sibuk dengan pikirannya, pandangan Erys langsung tertumbuk pada Eros yang sudah berdiri menunggu mobilnya masuk. Kerjapan mata Erys membuatnya sadar, dia melupakan janjinya pada Eros.

"Astaga." Erys menepuk dahinya pelan tetapi dia sekarang tidak memiliki tenaga untuk menemui siapapun.

"Ada Eros, Erys mau ketemu Eros dulu?" Tanya Arena.

"Boleh gak kalau aku langsung masuk?" Erys menghela napasnya lalu keluar dari mobil, berjalan pelan menuju Eros lalu tersenyum tipis.

Eros tersenyum. Pakaiannya belum berganti sejak tadi, badannya terasa remuk karena pekerjaan, perjalanan, dan penantiannya. Erys tidak datang, setelah dia menunggu di bandara, Erys masih tidak datang. Saat memutuskan pulang, pikirannya hanya ingin cepat menemui Erys. Menanyakan mengapa Erys tidak datang, mengapa Erys tidak mengangkat teleponnya dan mengapa lainnya. Tetapi, mata Erys tampak sembab. Pertanyaannya menyangkut di tenggorokan, tidak bisa dikeluarkan.

"Kak Eros bisa pulang." Erys menghela napasnya, tidak berani menatap Eros secara langsung. "Aku mau sendiri."

Erys berjalan melewati Eros namun dengan sigap tangan Eros menggenggam pergelangan tangan Erys. Tersenyum sambil mengulurkan papper bag, "hadiah yang kakak bilang."

Erys menatapnya lalu mengambil papper bag itu, "terimakasih." Ujarnya lalu mengangguk.

Senyum Eros menghilang perlahan, biasanya Erys akan mengucapkan terimakasih dengan semangat. Jika beruntung, dia akan mendapat pelukan bahkan kecupan di pipi. Tetapi kali ini, senyuman Erys bahkan terlihat dipaksakan.

"Mau masuk?"

Eros mengalihkan pandangannya dari Erys yang sudah menghilang ke dalam pada Arena. Eros menggeleng pelan sebagai jawaban. "Eros pulang dulu, Bunda." Eros menyalami tangan Arena lalu berjalan kaku keluar rumah Erys meninggalkan Arena yang menghela napasnya.

Arena melangkah ke dalam dan mendapati putrinya terdiam menatap kosong pada papper bag pemberian Eros. Tidak tahu apa yang ada di pikirannya sekarang, apalagi saat Erys tampak menghela napasnya berkali-kali.

Fall ApartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang