36. loml

312 17 0
                                        

Erys jarang berhubungan dengan laki-laki, kecuali memang yang sudah dekat dengan dia sejak dulu. Memilihkan hadiah ulang tahun untuk Kaivan dan Aidan itu gampang, akhir-akhir ini Erys akan memberikan kit kedokteran untuk Kaivan dan untuk Aidan gampang juga, Erys akan memberikan lego kesukaan Aidan atau berbagai macam komik.

Erys pernah membelikan hadiah Eros, sebuah dasi yang sekarang menjadi favorite Eros karena sering sekali dipakai tapi itu hadiah biasa, ulang tahun harusnya lebih spesifik. Dan Erys tidak tahu apa kesukaan Eros.

"Lo berdiri di depan Kak Eros aja doi udah senang," itu kata Kaivan yang sekarang menemani Erys berkeliling mall. "Oh, lo kan habis dikasih Mini Cooper ya?" Kaivan tampak menatap Erys dengan ejekan yang khas, by the way, Kaivan sudah seperti itu sejak tau Erys punya mobil baru bahkan dada dan bundanya hanya bisa melongo tetapi tidak menolak.

"Stop it!" Erys menatap Kaivan dengan sebal, "gue bosan dengar itu terus menerus dari mulut lo."

"Siapa suruh ngajak gue."

Menanggapi Kaivan itu tidak ada habisnya, jadi Erys sekarang lebih memilih melihat-lihat dasi di stand depannya. "Gimana kalau gue beli dasi terus dikasih sign tapi yang gue buat sendiri?"

Dan begitulah akhirnya, Erys dan Kaivan sudah berpindah tempat di gazebo rumah Erys. Dengan Erys yang sibuk memberikan bordiran nama Eros di balik dasinya. "Kemampuan gue menurun drastis," gumamnya saat tangannya kembali berdarah karena tertusuk jarum.

Dengan segera Erys menunjuk tangannya pada Kaivan, "tolong ya."

Kaivan berdecih lalu membersihkan tangan Erys dari darah, "ini tau Kak Eros bisa jadi bukannya happy malah ngambek."

"Ini berarti gue effort, harusnya—"

"Orangnya datang heh, sembunyiin."

Erys panik, sudahkah Erys beritahu? Dia sangat ceroboh jika sudah panik, maka dari itu bukannya menyembunyikan di tas atau apapun di sampingnya. Erys malah meloncat turun dari gazebo bersamaan dengan Eros yang membuka gerbang sambil membawa bungkusan yang Erys tebak martabak dari baunya.

Tetapi Erys terlena dengan bau itu, tanpa sadar menginjak tanaman puteri malu yang membuatnya berjengit lalu dengan sangat keras menghantam tanah. "AH!"

Eros terbelalak lalu berlari menghampiri Erys yang tengkurap dengan wajah menunduk, Kaivan pun melongo maksimal dibuatnya. "Hei," Eros mengerutkan keningnya melihat wajah Erys yang kotor.

"Yaampun sayang," Arena yang mendengar bunyi gedebukan langsung menghampiri Erys bersama Chandra. "Astaga kamu ngapain?"

Makin menjadi rasa malu Erys, "gak mau bangun." Rengeknya membuat semua yang melongo langsung tertawa kecuali Eros yang masih menatap Erys sambil mengerutkan dahinya.

"Sini-sini," Chandra menghampiri Erys lalu membawa Erys berdiri, yang tidak dia sangka adalah Erys langsung memeluknya sambil membisikkan, "Dada please, bawa ini pergi dengan cepat."

Erys langsung membalikkan badan Dada dan Bundanya agar segera masuk, "Erys oke, jadi masuk aja ya." Erys mengatakannya dengan keras lalu kembali berbisik pada Chandra. "Taruh di tempat yang sulit dijangkau Kak Eros, Erys minta tolong."

Arena dan Chandra langsung mengerti, "ayo sayang kita masuk." Ajak Chandra merangkul Arena, menyembunyikan sesuatu di kaosnya.

Setelah memastikan orang tuanya tidak terlihat, Erys membalikkan badannya pada Eros sembari meringis. "Aku... tadi itu... kaget ada kecoa." Erys menatap Kaivan, memberikan kode agar mengangguk yang tentu Kaivan angguki saja karena masih tidak bisa berkata-kata.

Fall ApartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang