39. Never Enough

243 19 1
                                        

Semakin hari, waktu berlalu begitu cepatnya. Seminggu terasa hanya seperti lima hari, satu bulan terasa hanya memiliki tiga minggu, dan berbulan-bulan hanya terasa sangat singkat.

Banyak orang mengatakan, waktu diperkuliahan selalu terasa cepat bagi yang melihat tetapi Erys yang merasakannya pun juga merasa waktu perkuliahannya lebih cepat. Tidak disangka, liburan semester sudah kembali di depan mata.

"Kak Eros sini!"

Liburan yang akan datang, artinya adalah hari bahagia. Rencana-rencana yang disusun bersama dan list-list yang akan terpenuhi sungguh membuat Erys bersemangat. Kini, duduk berdua dengan Kaivan, Erys sudah membuat to do listnya selama liburan.

Eros perlahan berjalan menghampiri Erys, tangannya membawa pizza yang Erys pesan dan berbagai makanan ringan kesukaan Erys. Tatapannya selalu dalam, seolah memiliki makna yang mendalam. Bibirnya selalu tersenyum tipis saat melihat senyuman Erys. "Hai." Eros memberikan kecupan ringan di rambut Erys, lalu memilih duduk di sampingnya.

"Wah, tahu aja." Kaivan mengambil pizza di tangan Eros dengan semangat lalu menatanya sedemikian rupa di hadapan mereka bertiga.

"Gercep kalau ada makanan doang," Erys mendengus menatap Kaivan yang berbinar-binar bagai anak kecil. Tatapan Erys beralih pada Eros yang senyum tipisnya tidak luntur. "Kak Eros mau istirahat aja?" Tanyanya perhatian.

"Di sini aja," oh seolah Erys tidak tahu jawaban Eros saja saat menanyakan itu.

"Oke." Ujar Erys lalu mengambil potongan pizzanya. Katanya, perempuan cenderung suka menggoyang-goyangkan kepalanya saat merasakan makanan yang lezat. Erys juga termasuk di dalamnya.

Eros tidak terlalu suka makan, tetapi jika sudah menatap Erys yang lahap makan dan sangat bahagia, maka Eros akan dengan semangat turut menikmati makanannya. Mamanya sering mengatakan pipinya agak berisi, setiap makanan yang mamanya buat pasti ada bagian untuk Erys.

"Mau buat liburan khusus anak muda gak?" Kaivan mengusulkannya pada Erys dan Eros. "Kita bertiga aja," lanjutnya.

"Kemana?" Tanya Erys, sesekali mulutnya menerima suapan kentang goreng dari Eros. Untung saja Erys tidak makan banyak tadi.

"Phuket? Gue pengin kesana dari lama belum keturutan," usul Kaivan, lalu tangannya membuka iPad untuk menunjukkan plannya jika memang mereka pergi ke Phuket. "Look, gue punya planningnya."

Eros memeganginya untuk Erys. "Mau?" Tanya Eros saat melihat Erys mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kakak yang tanggung."

"Bagus, boleh deh. Dada sama bunda pasti boleh kalau sama kalian," Erys setuju dengan rencana Kaivan selama mereka liburan di sana. Lalu Aidan selintas masuk dalam pikirannya. "Kita bertiga aja?" Tanya Erys.

Kaivan mengangguk, "gak menutup kemungkinan ada yang join lagi." Kaivan tahu kemungkinan itu adalah Aidan tetapi tidak yakin juga Aidan akan pulang. Sahabat mereka itu susah dihubungi akhir-akhir ini.

"Ya udah booked tiket sama reservasi hotelnya nanti aja. Gak bakal kehabisan kan ya?"

"Gak, aman." Kaivan tersenyum lalu menatap Eros. "Nanti totalnya aku forward ke Kak Eros." Katanya dengan semangat.

Eros mengangguk.

Setelah itu Eros kembali fokus pada Erys yang tidak henti mengunyah, senyumnya terkembang tipis lalu tangannya mengambil pizza dan mengunyahnya dengan pelan. Enak. Tidak pernah seenak ini selain jika makan bersama Erys.

Kaivan juga tersenyum saat melihat kakaknya tampak bahagia, hidupnya juga terasa tenang berbulan-bulan ini karena rumahnya terasa menjadi lebih-lebih hangat. Eros selalu pulang ke rumah membuat Nara kelewat bahagia karena dua anaknya di rumah semua. Kalau mamanya tidak sering khawatir maka papanya juga jadi bahagia.

Fall ApartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang