Satu hari, satu minggu dan satu bulan. Genap. Erys belum pernah bertemu dengan Eros, Eros seolah menghilang sejak malam itu. Bukannya dulu Erys selalu melihat Eros, ya seperti inilah. Mereka baru dekat kembali beberapa bulan terakhir. Tetapi memang hanya bertahan sebentar.
Liburan juga terasa membosankan walaupun sesekali Erys masih keluar bersama sahabatnya, tetapi hanya sebatas itu. Jika sudah di rumah pasti sepi, Kaivan sibuk sekali dan Aidan sesekali saja. Tetapi hari ini berbeda, Erys sudah siap dengan baju santai. Rencananya hari ini dia akan menonton basket dengan Aidan dan Kaivan, sembari mengenang masa lalu mereka yang selalu bersama karena Aidan sebentar lagi kembali.
"Ditunggu Kai di depan."
Dengan itu Erys segera berjalan ke depan rumah dan mendapati Kaivan sudah siap dengan baju basket yang ditutupi oleh jaket. "Sore," Erys menyapa dengan senyum lebar.
Kaivan berdecih, "seneng amat lo." Gumamnya pelan, lalu mengkode Erys untuk berjalan bersama. Mereka hanya akan basket di lapangan taman komplek, katanya Aidan sudah menunggu di sana.
Erys yang sedang dalam good mood tidak memperdulikan balasan sinis Kaivan, "segar banget ya udara sore gini," Erys merentangkan tangannya lalu menghirup udara segar di sekitarnya dengan senyuman.
Kaivan menghela napasnya. "Masih bisa seneng-seneng ni bocah," gumamnya pelan. Tidak adilnya dunia, bocah di sampingnya masih bisa tersenyum-senyum riang sedangkan kakaknya entahlah. Mereka juga tidak bertemu, hanya Nara dan Rajendra yang datang ke apartement Eros itupun katanya sebentar saja karena Eros yang gila kerja itu sibuk 24/7.
Erys diam saja karena sepertinya Kaivan yang badmood, sebenarnya mulut Erys gatal ingin bertanya bagaimana kabar Eros. Sudah satu bulan tanpa kabar, Erys penasaran juga khawatir. Tetapi sepertinya bertanya pada Kaivan bukan pilihan yang tepat.
Perjalanan pun terasa hening, untung saja di sana, di samping mobilnya berdiri Aidan yang tampan sekali sedang tersenyum dan melambaikan tangannya. Jantung Erys berdebar keras, ternyata memang rasa cintanya masih milik Aidan. Tidak ada yang berubah.
"Ai!" Erys berlari menghampiri Aidan yang langsung mengacak-acak lembut rambutnya, masih dengan senyuman manis.
"Semangat banget," ujarnya. "Hai Kai!" Aidan menyapa Kaivan yang tersenyum tipis padanya. Mereka bertiga berjalan menuju lapangan yang ternyata sudah banyak anak-anak muda dari berbagai usia.
Erys menunggu di kursi samping, menyimpan barang-barang Aidan dan Kaivan. Sesekali berteriak memberi semangat, Erys merasa energinya terisi penuh sekali hari ini hingga seorang laki-laki tampak memanggil Aidan heboh. Erys mengerutkan keningnya.
"Sini gabung, Ja!" Aidan melambai pada laki-laki yang dipanggilnya 'Ja' itu. Erys masih berpikir keras, wajahnya familiar tetapi tidak familiar juga hingga terlihat seorang perempuan bermasker, memakai topi, dan berkacamata hitam menepuk pipi laki-laki itu.
"Duduk sana, Beib." Ujar laki-laki itu sebelum berlari ke arah Kaivan dan Aidan. Sedangkan si wanita melihat handphonenya dan berjalan pelan menuju samping Erys, tidak sadar ada yang menatapnya lekat-lekat.
Mengalihkan pandangannya, Erys tersenyum saat baru sebentar Aidan sudah mencetak angka. Keren sekali, sedangkan Kaivan tampak kewalahan membuat Erys tertawa kecil.
"Duk—ASTAGA!"
Erys mengalihkan pandangannya dari lapangan kepada perempuan yang tampak akan mengajaknya berbicara tetapi malah terkeju. Diberikannya senyum geli, dia sekarang ingat. Ini adalah Ratu, wanita yang diajak Eros ke rumah dan di sana adalah Raja, mungkin masih menjadi pacarnya. "Hai Kak Ratu!"
"Aduh stupid!" Ratu menepuk-nepuk kepalanya dan bertambah keras saat Erys tertawa. "Baru satu kali kerja," gumamnya pelan yang didengar Erys.
"Aku tahu kok, tenang aja." Erys tersenyum. Dia tahu. Eros sekarang tampak seperti buku terbuka di hadapannya, Erys sudah tahu bahkan sejak dari awal. Menundukkan kepalanya sembari tersenyum tipis, Eros tidak pandai bersandiwara. Bukan hanya dirinya, mungkin hampir semua akan tahu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall Apart
General FictionSequel of Fall in Love Eros Kalnandra Nararya Adam mengenal Erys Serapina Adam bahkan sejak Erys masih dalam kandungan tantenya. Nama Erys pun pilihan Eros, mereka sedekat nadi dan tidak terpisahkan walau bahkan oleh jarak umur yang terpaut jauh. Ba...
