Erys hanya berniat mengembalikan nampannya ke dapur lalu kembali ke kamar Eros. Dia ingat untuk tidak meninggalkan Edos begitu saja tetapi langkahnya terhenti saat melihat Nara menangis dalam pelukan Rajendra di taman belakang.
Ada juga Kaivan yang diam di balik tembok, tepat di depan Erys yang turut penasaran. Perlahan, Erys berjalan pelan di belakang Kaivan yang langsung memberinya kode untuk diam. Erys mengerti.
"Sudah ya sayang?" Rajendra terlihat mengecupi rambut Mama Nara sayang, tangannya tidak pernah berhenti mengelus punggu Nara yang bergetar pelan.
"Aku... aku cuma kasihan aja, Mas Rajen. Kenapa Eros gak pernah bahagia ya?" Nara masih menangis tetapi sudah tidak sekeras tadi, sadar jika di rumah masih ada orang lain. "Kalau ingat gimana Eros yang pemberani dulu dan Eros yang sekarang, aku ngerasa gak becus jadi ibu."
Rajendra memeluk Nara makin erat, "no, kamu ibu terbaik buat anak-anak." Sekali lagi memberikan kecupan di dahi Nara. "Bukan berarti kamu tidak becus jadi ibu tetapi memang ada hal-hal yang gak bisa kita peluk dalam diri anak kita. Selain Eros mau memeluk dirinya sendiri, tugas kita adalah mendampingi." Pelan dan lembut sekali Rajendra berucap, Erys bisa melihat bagaimana Rajendra menatap Nara. Tatapan penuh cinta mirip tatapan Eros.
"Aku cuma takut... takut dia gak—"
Rajendra menyela dengan lembut, "sayang, Eros perlahan-lahan bisa bangkit dari traumanya dan aku yakin akan selalu begitu. Kita jalan bersama-sama ya?"
Nara menganggukkan kepalanya, "maaf ya karena aku takut berlebih kayak gini."
"Gak papa, jangan ditahan sendiri rasa takutnya. Selalu ada mas di sini, ada Kaivan juga. Banyak yang sayang sama Eros, jangan terlalu khawatir." Rajendra tersenyum.
"Tapi yang Eros sayangi banget gak sayang Eros," Nara menghela napasnya berat.
Erys tertegun mendengar itu, lalu melirik Kaivan yang juga meliriknya dengan tatapan seolah mengatakan : mati lo.
Rajendra tertawa, "bukannya mirip sama kamu dulu ya?" Rajendra menusuk pipi Nara yang halus. Nara membelalakkan mata dan merajuk mendengar celetukan sang suami. "Mas Rajennnn." Rajuknya manja.
Lalu Kaivan menarik Erys untuk berjalan menjauh karena setelah itu pasti ada adegan dewasa yang belum cocok dilihat anak seumuran Erys. Kaivan tidak tahu saja, Erys sudah pernah melakukan adegan dewasa itu.
"Pulang lo?" Tanya Kaivan kemudian setelah mereka berada dalam jarak aman.
Erys menjawab, "menurut lo?"
Kaivan mengangguk, "pastilah, mana ada lo peduli sama kakak gue."
Erys menggelengkan kepalanya mendengar itu, hatinya sedang gundah saat ini dan jujur saja rasanya ingin menangis... menangis memeluk Eros. "Tell me, seberapa menderitanya Kak Eros." Pintanya pelan.
Kaivan mengerjapkan matanya. "Lo tau, dia kena PTSD atau Post Traumatic Stress Disorder karena kecelakaan kalian berdua. Kalau ini pasti tau, setelah itu Kak Eros takut naik mobil dan rutin konsul ke Om Ale. Tapi dia bandel, yang diomongin Om Ale masuk kuping kiri keluar kuping kanan terus. Gue pernah nemu obat antidepresan di laci kamarnya, gue pernah lihat dia self harm—"
"Self harm?" Tanya Erys yang tidak tahu sampai separah itu.
"Ya, dulu udah lama. Tapi bekasnya masih kelihatan samar. Waktu dia ke luar negeri juga mama sering banget kesana kan, karena Kak Eros tipe orang yang banyak pikiran ya dialihkan sama kerjaan maka dari itu dia sering tumbang. Karena itu semua, kita berusaha buat dia tenang." Kaivan menjelaskannya dengan cepat. Sebenarnya, dia selalu beranggapan jika Erys perlu tahu semua ini karena semua ini pun berawalan dari kejadian yang melibatkan Erys. Tetapi semua oranh seolah bungkam dan Kaivan turut bungkam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall Apart
Ficción GeneralSequel of Fall in Love Eros Kalnandra Nararya Adam mengenal Erys Serapina Adam bahkan sejak Erys masih dalam kandungan tantenya. Nama Erys pun pilihan Eros, mereka sedekat nadi dan tidak terpisahkan walau bahkan oleh jarak umur yang terpaut jauh. Ba...
