Mejikuhibuniu, ada tujuh warna pelangi yang membentuh harmoni hingga menciptakan karya abadi. Pelangi tidak selalu turun setelah hujan, tetapi pelangi berusaha turun setelah hujan. Begitupun kehidupan, setelah banyak tangis tentu ingin bahagia datang tetapi tidak selalu bahagia datang setelah kesedihan. Tetapi setelah kesedihan, selalu ada yang berusaha untuk mendatangkan kebahagiaan.
Dua minggu mungkin memang waktu yang sangat singkat, Erys sudah kembali ke rutinitas membosankan—tetapi harus dia lalui itu. Hari ini tambah sungguh Erys kelelahan, setelah dihajar perkuliahan hingga siang hari lalu rapat UKM yang memakan waktu hingga menjelang malam tentu yang diinginkan Erys adalah segera bergelung di kamarnya.
Totebagnya sudah merosot, wajahnya juga pasti sudah kusam dan rambutnya yang sudah tidak berbentuk ini sungguh perpaduan tidak sempurna penampilannya untuk pergi ke rumah sakit. Tetapi apa mau dikata, sudah berjanji pada Om Ale untuk menyerahkan barang Aidan yang ketinggalan. Tau begitu, Erys memilih mengiyakan saja saat Om Ale ingin mampir saat pulang kerja, tetapi nasi udah menjadi bubur.
"Kak Eros masih di kantor Pak?" Erys baru mendudukkan dirinya di kursi penumpang, Pak Adi yang hari ini ditugaskan Eros untuk menjemputnya. Oh dan jangan lupakan agenda Erys hari ini, dia juga berjanji untuk mampir apartement Eros. Terlalu rikuh jika membiarkan Eros harus selalu kelelahan menemuinya.
"Iya Mbak, tadi Mas Eros bilang langsung ke apart aja." Pak Adi menjawab setelah mengabari Eros jika Erys sudah duduk manis di kursi penumpang dan mendengarkan petuah-petuah yang membuat Eros cerewet. Pak Adi jelas tahu, majikannya itu sangat extra pada Erys.
Erys mengangguk, "aku mau mampir ke Rumah Sakit Adam dulu, mau ketemu Om Ale." Erys memberitahu Pak Adi.
"Mas Eros sudah tahu?"
"Jangan tahu deh," Erys berbisik sambil meletakkan telunjuknya di depan bibir.
Pak Adi tertawa kecil, "mana bisa Mbak. Mobil kan ada GPS nya, pasti Mas Eros ini lihat."
Ah Eros memang posesif tingkat dewa, walaupun tampak sering menahan diri tetapi tidak dapat dipungkiri terkadang Erys sadar jika Eros posesif. "Yah, emang biasanya juga dicek?"
"Kalau ada mbak kan pasti." Pak Adi mengendarai mobilnya menuju Rumah Sakit Adam. "Telepon aja mbak, biar ten—"
Belum juga Pak Adi menyelesaikan kalimatnya, handphone Erys sudah berdering keras. Nama Eros terpampang nyata di sana. "Hallo."
"Mau kemana dulu, Erys?"
Erys menyandarkan tubuhnya di kursi, "aku mau nitip sesuatu di Om Ale, gak lama kok."
Terdengar Eros yang menghela napasnya sebentar, "Tunggu di sana. Kita pulang bersama."
"Kan ja—"
"Tunggu atau tidak sama sekali."
"Fine!" Telepon tertutup dengan bibir Erys yang sudah manyun. Ya sudahlah, terpenting dia bisa ke rumah sakit dulu.
Setalah sampai, Erys segera mendatangi ruangan Ale yang ternyata Ale sudah selesai pelayanan polinya. Erys juga menemani Ale yang makan. "Om mau kesana kapan emang?"
"Bisa cutinya minggu depan sih. Mau ikut?" Tawa Ale menaikkan satu alisnya.
"Mau," Erys mencebik, "tapi baru masuk kuliah masa udah bolos." Mana boleh juga, sekarang ada Eros yang memegang peranan penting dalam pengambilan keputusannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall Apart
Ficción GeneralSequel of Fall in Love Eros Kalnandra Nararya Adam mengenal Erys Serapina Adam bahkan sejak Erys masih dalam kandungan tantenya. Nama Erys pun pilihan Eros, mereka sedekat nadi dan tidak terpisahkan walau bahkan oleh jarak umur yang terpaut jauh. Ba...
