Aku bener-bener gak ada waktu nulis dan spark menulisnya hilang gitu aja.
Sorry yang udah nunggu lama dan thanks karena setia menunggu.
Jujur aja, yang jadi semangat aku nulis lagi hari ini karena lihat vote-vote dan komen dan rank cerita aku yang naik dikit-dikit.
Draft ini udah kuganti berkali-kali karena aku bingung lanjutinnya, jadi ini yang terakhir dan akhirnya selesai ke-publish. Semoga menikmati.
Jangan lupa vote, komen, dan rekomendasikan pada teman-teman kalian ya. Love you all <3
***
Erys banyak melihat pengalaman percintaan teman-temannya. Kadang naik, kadang turun tapi kadang juga datar tanpa permasalahan apapun. Dia juga sering melihat pasangan bertengkar karena hal-hal yang dulu menurutnya sepele.
Cemburu. Dia selalu menganggap rasa cemburu seseorang pada pasangannya itu bukan hal yang besar asal bisa terjalin komunikasi. Pentingnya suatu hubungan adalah rasa percaya dan komunikasi, itu yang dia selalu yakini.
Memang benar, trust takes years to build, seconds to break and forever to repair. Mungkin di hubungannya dengan Eros ini, kepercayaan itu masih sulit tercapai. Ketakutan Eros, kelabilan Erys yang sewaktu-waktu timbul, ketakutan atas reaksi orang di sekitar, dan hal-hal negatif lainnya membuat mereka masih berada di tempat.
Takut oleh pandangan orang lain yang memang benar, hubungan antara sepupu sangat tabu di sini. Cinta lama yang masih sedikit membayangi langkah menyebabkan ketakutan Eros. Karena itu pula Erys percaya, love must be learned, and learned again and again because there is no end to it.
Mereka terus belajar, karena tidak ada cinta yang mudah.
"Long time no see?"
Erys mengalihkan pandangannya pada Aidan yang menyesap orange juicenya dengan santai. Dia tertawa pelan, "gak selama kalau Ai kuliah, How's life?"
"Good, banyak perkembangan." Aidan mengedipkan satu matanya.
"Glad to hear that."
Lalu keduanya terdiam lama sebelum kemudian meja makan terisi orang-orang. Sarapan pagi ini terasa hikmat karena mereka semua berkumpul.
"Hai?" Erys segera melambaikan tangannya saat melihat Eros muncul, dia juga melihat mata Eros yang melirik Aidan dan dirinya tetapi Erys mempertahankan lambaian tangannya dan senyuman.
"Hai." Eros duduk tepat di samping kanan Erys, kini Erys diapit Aidan dan Eros. "Kaki kamu sudah tidak sakit?" Tanya Eros tersenyum tipis.
Erys menggelengkan kepalanya, "ada bekasnya dikit tapi gak masalah. Kak Eros pagi ini enggak pusing kan?"
Menggelengkan kepalanya dengan pelan, Eros memberikan Erys senyuman tipis. Matanya hanya menatap Erys, tanpa melihat Aidan sama sekali.
"Hallo Kak Eros," Aidan yang sadar hal itu tampak tersenyum tipis, dia dengan sengaja mencondongkan dirinya pada Erys sembari melambaikan tangan.
Eros menatapnya datar lalu mengangguk. Itu saja sampai membuat Erys meringis sendiri. Dengan pelan Erys mencubit tangan Eros, memberi kode agar ramah sedikit. Mereka di sini sedang berkumpul sebagai keluarga, bukan sebagai saingan cinta.
"Oh, hallo." Jawab Eros memberikan pandangan sekilas pada Aidan lalu kembali menatap Erys. "Sudah." Adunya seperti anak kecil mengadu pada ibunya sudah melakukan apa yang ibunya pinta.
Oke. Erys tidak memaksa, setidaknya agar Eros tidak jelek di mata Aidan walaupun sepertinya semua orang juga tahu Eros sangat pendiam.
"Perhatian."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall Apart
Ficção GeralSequel of Fall in Love Eros Kalnandra Nararya Adam mengenal Erys Serapina Adam bahkan sejak Erys masih dalam kandungan tantenya. Nama Erys pun pilihan Eros, mereka sedekat nadi dan tidak terpisahkan walau bahkan oleh jarak umur yang terpaut jauh. Ba...
