48. This Emptiness is Scary, Honey

479 17 1
                                        

Rajendra mencintai keluarganya dengan tulus. Dia memang masih tidak suka banyak bicara, tetapi kasih sayangnya tidak pernah sebatas hanya wicara.

Kelahiran putra pertamanya, Eros selalu tampak menyerupai Rajendra. Caranya tersenyum, berbicara, sikap, pemikiran, dan hatinya. Rajendra tahu, Eros tidak pernah suka berbicara. Tetapi dia juga tahu tanpa harus diberitahu, Eros tidak sekuat itu.

Rajendra juga tahu, Eros memiliki perasaan yang tidak biasa pada keponakannya, Erys. Bagaimana anaknya yang terlihat kuat di luar itu diam-diam mengamati Erys dari kejauhan, memastikan bahwa Erys selalu sehat, dan terkadang tampak cemburu dengan kedekatan putra keduanya dengan sang keponakan.

Rajendra juga menjadi saksi betapa remuknya mental Eros karena kecelakaan bertahun-tahun silam. Menjadi alasan orang tersayangnya terbaring lemah dengan berbagai selang penunjang kehidupan, bukan hanya Erys yang berdiri di atas seutas tali. Eros juga. Begitupun bertahun-tahun kemudian.

Baru saja dia melihat Eros kembali bahagia perlahan, peristiwa ini tentu saja mengguncangnya. Karena dia tahu betul, bahkan kali ini anaknya akan kembali hancur lebur.

Rajendra menghela napasnya, menenangkan Nara yang tersedu sambil memandang ke depan. Lalu perlahan, tampak Eros yang berjalan lurus menuju mereka dengan tatapan kosong. "Sayang." Rajendra mengelus kepala Nara dengan sayang. "Anak kita."

Nara mendengar itu, lalu menjauhkan dirinya dari pelukan Rajendra. Berjalan pelan menuju Eros, yang tampak pucat dengan seluruh tubuh bergetar. Tangisan Nara makin tidak terbendung, digenggamnya tangan gemetar itu. "Hei?"

Tatapan Eros yang kosong menatap mamanya dengan dingin. Dia tetap terdiam, perlahan melepas tangan Nara yang menggenggamnya. Berjalan menuju pintu ruang operasi yang tertutup rapat.

Kaivan juga berdiri di sana melihat kakaknya tampak tidak bernyawa. Lalu memandang ke sekitarnya yang juga menampakkan kesedihan mendalam. Dada Chandra yang memeluk bunda erat juga. Semuanya menampakkan kesedihan di mata, tetapi Eros, pandangannya kosong nyaris tidak hidup. Seperti tahanan yang menunggu vonis mati.

"Kak," panggilnya pelan, tetapi tidak ada tanggapan dari Eros yang terpaku menatap pintu tertutup di depannya. "We'll be okay."

Mereka akan baik-baik saja, Erys akan baik-baik saja sehingga merekapun.

Katanya, waktu terasa cepat bagi yang bahagia, terasa lambat bagi yang tersiska, dan terasa sesak bagi yang gula. Eros merasakan itu, kakinya hampir tidak bisa berdiri dengan tegak. Kepalanya penuh dengan bisikan-bisikan yang membuatnya takut.  Jantungnya bahkan tidak memberikan kesempatan untuk sejenak mengambil nafas.

Berat.

Sesak.

Menyakitkan.

Jika bisa, dia ingin menggantikan Erys di dalam sana. Menggantikan seluruh rasa sakitnya.

Jika bisa, dia ingin memutar waktu. Seandainya dia menahan Erys lebih lama, seandainya dia tidak takut untuk berkendara, dan segala pengandaian lain yang Eros tahu tidak berguna.

Semua ini adalah kesalahannya, mutlak kesalahannya karena bahkan pecundang sepertinya tidak bisa melindungi satu-satunya wanita yang ia cintai. Dialah yang pantas merasakan seluruh kesakitan dunia, dia yang pantas mati.

Kepalanya kian berdengung tetapi bahkan ekspresi wajahnya tidak berubah. Bisikan-bisikan menakutkan semakin kuat, menelannya perlahan. Eros sampai tidak bisa membedakan, kejadian dulu dan sekarang. Rasanya kacau.

Eros remaja menatap tangannya dengan pandangan kejam. Tangan ini yang menyebabkan Erys kesakitan di dalam ruang operasi. Gadis kecil itu mungkin sekarang penuh dengan darah.

Fall ApartCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang