25. Kiss Kiss Kiss

1.1K 37 1
                                        

Otak Erys rasanya kosong saat merasakan napas berbau mint Eros tepat berada di hadapannya, sejengkal lagi sampai kedua bibirnya bersentuhan. Gugup menguasai Erys walaupun ini bukanlah yang pertama kali bagi mereka.

Pelan sekali saat Eros semakin dekat, Erys menutup matanya tetapi hanya begitu saja saat ponselnya berdering. Erys melirik pada ponselnya yang tergeletak begitupula Eros.

Aidan, nama Aidan yang Erys tambahi dengan embel-embel masa depan. Dengan segera, Erys beranjak mengambil ponselnya cepat.

Tapi tidak lebih cepat Eros yang menariknya, membawa tubuhnya rebah di sofa sebelum sempat mengangkat telepon. Dengan rengkuhan erat, Erys menutup mata. Eros menciumnya, sekali lagi dengan pelan, lembut, dan penuh perasaan.

Tangan Erys masih mencengkeram handphonenya dengan erat, masih ada nama Aidan di sana. Erys merasa seolah berselingkuh tetapi... tetapi Erys menggerakkan bibirnya pelan untuk membalas ciuman Eros.

Tangan kanannya mencengkeram baju Eros tepat di dada, belitan lidah Eros seakan membuat Erys melayang. Keduanya terengah-engah sampai Eros melepaskan pertautan bibir mereka.

Saling menatap.

Masih saling mendekap.

Erys meneguk ludahnya saat tatapan Eros sangat lekat, tampak lembut penuh perasaan. Dibiarkannya tangan Eros mengelus rambut, alis, mata, hidung, pipi, dan berhenti di bibirnya yang Erys yakin masih memerah. Erys tidak tahu bagaimana posisi mereka saat ini, yang pasti mereka saling membelit.

Menutup matanya saat Eros semakin mendekat, Erys tidak merasakan apapun menyentuh bibirnya. Tetapi kecupan di dahinya oleh bibir Eros berlangsung lama dan dalam. Lalu kedua matanya juga tidak luput dari bibir Eros. Dan pipinya, terasa geli saat Eros menggosok-gosokkan pipinya pada pipi Erys.

"Why?" Erys menjauhkan wajah Eros dengan tangannya. "Cousin doesn't kiss right?" Tanyanya dengan pelan, tidak tahu kenapa Eros menciumnya dan lebih tidak tahu kenapa dia menerimanya begitu saja.

Eros tidak menjawab, tangannya mengelus alis Erys yang mengerut. Kembali mengecup pipi Erys seolah tidak mendengar perkataan Erys.

"Kak Eros, stop!" Erys mendelik sebal karena Eros mengabaikan pertanyaannya.

Terkekeh pelan, Eros menjawab, "but lovers kiss."

Erys mengerutkan keningnya semakin erat, mereka... bahkan mereka tidak sedekat itu kan?

"Aku gak ngerti," menggelengkan kepalanya pelan, Erys mencebik. "Aku gak ngerti, Kak Eros."

"Kamu marah?"

Mendengus, Erys menjawab, "seharusnya kan? Tapi aku gak ngerti kenapa gak marah."

Eros tertawa kecil lalu dalam sekali hentakan, posisinya berubah. Kini Eros yang berada di bawah, dengan tangan memeluk pinggang Erys. Tidak lupa membawa ponsel Erys ke saku celananya. Mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan.

"Ini lagi, kenapa posisinya gini?" Pelan sekali Erys bertanya, tetapi dia juga menyandarkan kepalanya di dada Eros. Terasa debaran Eros yang menggila. "Periksa ke Papa Rajen sana, jantung Kak Eros mau meledak."

"Ini juga ada sebabnya," jawab Eros, tangannya mengelus rambut Erys.

"Kenapa?"

"Erys. Penyebabnya Erys."

Erys mendongak tidak mengerti, kenapa bisa dia menjadi penyebab Eros sakit jantung? Perasaan dia tidak melakukan apapun. "Kok bisa?"

"Rahasia," balas Eros sambil terkekeh membuat Erys mencebik.

Lalu hening, Erys merasakan jantung Eros yang masih berdebar kencang sembari membiarkan tangan Eros yang mengelusi rambutnya dan sesekali memberi kecupan di sana.

Fall ApartCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang