Ini notifnya ngga pada dapat kenapa ya
***
Erys yang sedang asyik melamun tersentak mendengar bunyi suara benda besar terjatuh dari depan balkonnya. Dengan tubuh menegang, Erys bangkit tetapi tidak berani melangkah menuju balkon. Tidak pun pergi keluar.
Rasanya deg-degan. Jantungnya berdetak sangat kencang, entah karena takut saja atau faktor lain yang tidak Erys tahu. Tadi setelah menerima makanan dari Eros yang Erys intip, Erys menerimanya dan menghabiskan makanannya dengan sesekali melamun.
Menghindari Eros seharusnya tidak Erys lalukan, tetapi dia hanya ingin menerka dan mengamati perasaannya sendiri. Itu karena hormonya, karena dia seorang wanita gampang baper, atau karena dia Eros. Erys menelaah dan belum menemukan jawaban apapun hingga sekarang.
Meminta saran pada sahabatnya juga tidak bisa, dia malu bercerita seperti itu. Apakah berciuman dengan sepupu itu hal normal? Maka dari itu pun Erys memilih menyimpannya sendiri.
Dan bayangan tubuh seseorang yang amat Erys kenali berdiri di balkonnya, tanpa sadar Erys membelalakkan matanya dan menganga. Eros. Datang. Ke. Kamarnya. Memanjat. Balkon. Sialan, Eros datang ke kamarnya dengan memanjat balkon.
Tubuh laki-laki yang dibalut kemeja slim-fit berwarna putih tampak berantakan itu. Dengan bekas tanah menempel di kemeja putihnya. Ah, darah. Tangan Eros berdarah.
"Kak Eros..." Erys melangkah pelan menuju Eros yang menatapnya dengan tatapan tidak habis pikir dan terluka. Erys tidak mengerti, oh bukan, Erys tidak mau mengerti.
"Sudah puas?" Langkah Erys terhenti mendengar itu, dia takut mendekat.
Erys yang tidak mau mengerti ini bertanya, pelan, "Kenap—"
"Kalau tidak suka dengan kakak, kenapa harus seperti ini Erys?" Eros menyela, tatapannya masih sama. Mengunci netra Erys yang bahkan tidak mau beralih. Otaknya menyuruh menatap Eros, tapi hatinya tidak mampu menatap Eros. Apa dia menyakiti Eros?
"Aku... aku gak tau," Erys menggelengkan kepalanya menolak menjawab. Pandangannya sekarang fokus pada tangan Eros yang terluka. "Aku obatin dulu tangannya ya?" Bujuk Erys. Tetapi tatapan Eros masih seperti tadi, tidak bergerak. Hanya diam, berdiri tegak, tampak tegang, dan kaku.
Memberanikan diri, Erys mendekati Eros. Membawa tangannya menggenggam lengan Eros, menariknya ke kursi meja belajar. Erys mempelajari pertolong pertama pada luka dengan Kaivan, setidaknya kotak First Aidnya lengkap. Memilih mengambil bangku kecil, Erys duduk di hadapan Eros. Mengamati lukanya yang masih mengeluarkan darah lalu menghela napasnya.
"Kenapa?" Eros bertanya lagi, tatapannya menunduk pada Erys. "Kenapa begini?" Lagi. Lagi dan Erys tidak menjawab.
Erys membersihkan luka Eros, memperhatikan wajah Eros yang datar padahal Erys yakin ini sakit. "Sakit?" Erys mengeluarkan suaranya setelah sejak tadi diam.
"Kalau tidak suka bilang, Erys." Gumam Eros pelan. Tentu Erys mendengar, posisi keduanya sangat dekat. "Jangan begini." Eros menyentuh pelan kening Erys.
Setelah selesai membalut luka Eros dengan kasa, Erys berdiri mengembalikan alatnya. Menghela napasnya, sebelum mulai bicara. "Kak Eros ngerasa kita ngelewati batas?"
Eros menggeleng.
"Kita ngelewati batas Kak Eros." Erys menarik napas panjang. Teringat perkataan omanya, lebih baik memang hubungan mereka tetap hubungan antara sepupu lebih-lebih kakak dan adik. "Sepupu gak tidur bareng begitu, sepupu gak ciuman dan sepupu gak saling natap begini Kak Eros." Kini Erys yang menyentuh ujung mata Eros.
"Bukan berarti kamu meminta hal mustahil seperti itu Erys, jangan begini." Eros menggeleng. Pernikahan Erys dan Aidan. Jika hanya untuk menghindarinya, jika untuk menolaknya kenapa harus sejahat ini? Kenapa harus sekejam ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall Apart
Ficción GeneralSequel of Fall in Love Eros Kalnandra Nararya Adam mengenal Erys Serapina Adam bahkan sejak Erys masih dalam kandungan tantenya. Nama Erys pun pilihan Eros, mereka sedekat nadi dan tidak terpisahkan walau bahkan oleh jarak umur yang terpaut jauh. Ba...
