"Memang gak sakit?"
Erys menatap punggung tangan Eros yang tampak memerah, sangat kontras dengan kulit Eros yang putih pucat. Setelah menangis di pelukan Eros, Erys terdiam sambil menghindari tatapan Eros karena dia masih merasa bersalah.
"It's okay," jawab Eros sembari membawa tangannya untuk bersendekap.
Keduanya duduk bersisihan di sofa tanpa mengatakan apapun lagi dalam waktu yang lama. Erys memilih diam sedangkan Eros memang selalu pendiam. Meminta maaf karena kesalahan yang besar sangat mendebarkan dan Erys merasakan itu sekarang.
"Maaf," Erys menghela napasnya lalu menghadap Eros yang menatap lurus ke depan, "maaf karena udah keterlaluan waktu itu. Kak Eros baik-baik aja sekarang?" Tanya Erys dengan pelan.
"Kamu bisa lihat sendiri," jawab Eros pelan pula. "Jangan merasa terlalu bersalah," lanjutnya lagi yang malah membuat Erys bukannya lega tetapi tambah merasa perasaannya menjadi tercampur aduk.
"Gimana bisa? Aku yang bu—"
Eros menyela perkataan Erys, "kakak bilang jangan terlalu merasa bersalah. Pulanglah, kakak mau ke kantor setelah ini."
Eros bersiap-siap untuk berdiri tanpa menatap Erys yang membelalakkan matanya karena Eros yang akan pergi begitu saja. Maka dengan cepat pula Erys menggenggam tangan Eros sembari merengek pelan.
"Jangan marah lama-lama Kak Eros, please." Erys merengek sembari menggenggam tangan Eros pelan. "Aku... aku bener-bener udah keterlaluan waktu itu—"
"Pulang Erys," Eros melepaskan tangan Erys yang menggenggamnya dengan pelan lalu bergegas keluar untuk menuju basement dengan Erys yang masih mengekori di belakang.
"Aku gak bisa tidur nyenyak kalau gak dapat maaf. Maaf Kak Eros, please." Erys beralih memegang jas Eros dengan erat. Tidak mau ditinggalkan begitu saja sedangkan Eros seolah menutup telinga tidak mau mendengar. "Kak Eros please!" Mohonnya.
Namun Eros seolah tidak mendengar rengekan Erys sampai tiba di basement pun Eros hanya terdiam dan Erys juga masih belum menyerah walaupun mulutnya sudah merasa haus karena berbicara daritadi.
"Aku bakal ikut Kak Eros kemanapun sampai kakak maafin aku!" Ikrarnya.
Dengan itu pula, Erys selalu mengikuti Eros walaupun tanpa ada sepatah kata yang Eros ucapkan pada Erys. Namun Erys tahu jika Eros tetap menganggap dirinya ada, selama menunggu di kantor pun ruangan Eros penuh dengan makanan kesukaan Erys. Tidak pernah menyahut perkataan Erys namun menyediakan camilan dan makanan berat untuk Erys.
Erys menghela napasnya, sudah sampai di parkiran kantor pun Eros belum membuka mulutnya untuk berbicara dengan Erys walaupun Erys tidak diusir juga. Memilih diam hanya mengikuti Eros pun Erys lakukan karena ya mau bagiamana lagi, perasaan bersalah itu jelas mempengaruhi ritme hidup Erys.
"Aku gak pulang, Dada. Kayaknya sih," Erys sedang menelpon Chandra saat Eros meletakkan makanan di hadapan Erys untuk kemudian kembali lagi ke dalam kamar tanpa makan. "Aku gak ganggu Kak Eros," jelasnya karena sang ayah malah menuduhnya mengganggu Eros.
"Aku matikan, mau makan."
Erys meringis karena ayahnya tampak tidak terima saat teleponnya dimatikan begitu saja namun Erys sudah malas mendengarkan perintah sang ayah untuk pulang saja. Misinya saja belum selesai, maka tidak ada kata menyerah di seluruh tubuh Erys.
Setelah makan pun Eros tidak keluar dari kamar padahal seingatnya tadi Eros belum makan apapun kecuali meminum air putih dan kopi. Tidak makan siang dan belum makan malah, Erys yakin juga Eros tidak sarapan.
"Kenapa sih gini banget sama diri sendiri, Kak Eros?" Erys membatin sedih. Sependek ingatan masa kecilnya, Eros memang sudah pendiam dan tidak banyak tingkah. Sampai remaja sebelum kuliah pun, tetapi sampai jarang makan itu benar-benar berbeda dengan ingatannya tentang Eros.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall Apart
Narrativa generaleSequel of Fall in Love Eros Kalnandra Nararya Adam mengenal Erys Serapina Adam bahkan sejak Erys masih dalam kandungan tantenya. Nama Erys pun pilihan Eros, mereka sedekat nadi dan tidak terpisahkan walau bahkan oleh jarak umur yang terpaut jauh. Ba...
