24. Butterfly in Your Eyes

551 34 1
                                        

Boleh sambil dengerin musiknya hehehe
Like untuk update segera❤️

****

Erys tau, hatinya akan selalu memiliki ruang tersendiri untuk Eros. Bagaimanapun, selupanya dia dengan kenangan mereka maka tetap saja. Eros lah yang selalu menemaninya, menyayanginya, dan menjadikannya prioritas di atas segalanya dulu. Dan mungkin sekarang pun. Jadi saat Eros berada dalam situasi susah apalagi semua itu juga bermuara padanya, Erys tidak ragu untuk menemani Eros.

Perlahan langkahnya membawa ke ruang tengah, dimana ada Eros yang merebahkan diri dengan lengan menutupi matanya yang terpejam. Erys tahu, Eros tidak tidur. Lalu perlahan sekali, Erys berjongkok di samping Eros. Menatapnya selembut yang dia bis, menyadari ada air menetes dari sudut mata Eros.

Erys mengusapnya teramat lembut. Mata Eros terbuka pelan, sepelan senyumnya yang mengembang. "Mau peluk?"

Eros terdiam menatapnya, maka dari itu Erys mengambil inisiatif. Membawa tubuhnya membungkuk, memeluk seluruh tubuh Eros dengan rengkuhan hangatnya. Berharap jika ada rasa dingin di hati Eros yang beku, mencair bersama peluknya.

"Everything will be oke, Kak Eros." Katanya memang klise, Erys pun tahu jika tidak akan ada yang tahu kejadian ke depan. Tetapi Erys berharap, jika ada rasa sedih di hati Eros yang hampa, terhempas kebahagiaan bersama peluk mereka.

"You are here." Eros bukan bertanya, tetapi meyakinkan dirinya sendiri jika kali ini, Erys pun hadir di tengah kalutnya. Sungguh keinginan yang kontraindikatif. Eros tidak mau Erys melihatnya di titik ini, tetapi Eros... Eros sangat membutuhkan Erys.

Bagi Eros, Erys bisa menyebabkan hatinya terluka namun Erys lah satu-satu obat pada hati terlukanya. Bagai racun dan obat.

"Ya, I am here. With you," Erys tertawa lirih, mengelus rambut kakak sepupunya yang selalu selembut ini. Kenapa ya Erys baru sadar, selama ini memang Eros menyebalkan karena sangat protektif. Tetapi melihat bagaimana kecelakaan itu meninggalkan bekas 'luka' pada Eros, Erys bisa mengerti.

Inilah cara Eros menyayangi dan melindunginya. Walau terkadang sulit diterima Erys, kali ini saja, kali ini saja Erys tidak akan membantah apapun. Berdua dengan Eros tanpa memikirkan apapun.

Perlahan, Erys merubah posisinya. Membuat tubuh Eros bersandar padanya dengan punggungnya sendiri bersandar di sofa. "Tidur dulu," ujar Erys mengintip pada mata Eros yang tampak sayu mengantuk. "Ngantuk kan?"

Eros mengangguk, dia selalu memiliki masalah pola tidur. Tidurnya selalu tidak nyenyak, merasa seolah diteror mimpi buruk dengan rasa gelisah yang tidak terpahami. Tetapi jika bersama Erys, kantuk itu dengan cepat datang. Tanpa pemberitahuan dan tentu Eros bersyukur atas itu. Memilih tidur dengan nyaman. Eros berharap saat terbangun tidak ada yang berubah, inilah yang terjadi.

Eros merasa lama sekali tidur sampai merasakan tangan yang memeluknya semakin terkulai. Tersenyum tipis, Eros mendongak dan mendapati Erys juga ikut tertidur dengannya. Eros membawa tubuhnya menjauh dengan pelan, merapikan rambut Erys. "Selalu cantik," gumamnya dengan tatapan memuja dan penuh damba. Tangannya tidak pernah diam, sesekali mengelus wajah Erys dan sesekali membenarkan rambut Erys yang menutupi wajahnya.

Sampai mata itu terbuka, senyum Eros bertambah lebar. "Sudah?"

Erys mengangguk malu, dia jadi tertidur padahal sudah berjanji dalam hati akan memeluk Eros sepanjang tidurnya. "Sekarang aku jadi laper lagi," gumamnya sambil memegang perut.

Eros tertawa lalu mengulurkan tangannya, "mau pesan atau masak?" Tanyanya, Eros mengangkat Erys yang masih duduk. Membawanya ke dapur untuk melihat stok bahan makanan.

Erys berpikir sejenak, dia ingin makan sesuatu yang simple tapi enak, tidak butuh waktu yang lama untuk masak dan tidak sehat. "Boleh mie instan?" Erys bertanya dengan mata berbinar memohon.

Fall ApartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang