Erys merasakan matanya sangat berat. Tidak hanya matanya, tetapi semua tubuhnya terasa berat seolah beban puluhan kilogram menimpa tubuhnya.
Dia tidak tahu apa yang terjadi, pikirannya linglung tetapi semua di depannya tampak gelap. Dia ingin bangun, dia haus.
Lalu entah sudah berapa lama, matanya terbuka dengan perlahan. Amat perlahan hingga menampakkan pandangan dindinh putih kosong dengan bau disinfektan yang menyengat. Hidungnya agak mengerut untuk merasakan nafasnya agak aneh.
Dengan seluruh tenaga, Erys memalingkan wajahnya dan dia melihat di sana ada bundanya yang duduk sembari merajut entah apa. "Aaa..." Tenggorokannya perih, untuk berbicara bagaikan siksaan.
Erys meruntuk dalam hati, apasih yang terjadi padanya sampai merasa selamah ini. "Bundahh," gumamnya lagi dengan menyeret hingga Arena yang mendengar gumaman lirih langsung menatap ke arahnya.
"Erys? Sayang? Sayang sudah bangun?" Arena bergegas ke depan, air mata bahagianya tumpah. "Apa yang sakit sayang? Bunda panggilkan dokter dulu?"
Erys tidak tahu apa lagi yang terjadi selanjutnya karena dia kemudian melihat sekitarnya semakin ramai dan tangisan haru sang bunda. Erys juga hanya bisa sesekali meringis saat bundanya mendaratkan banyak kecupan di pipi.
"Gimana perasaan Anda?" Dokter dengan nametag Ali itu bertanya sembari tersenyum.
"Good?" Erys menjawab dengan pelan, tangannya melambai sedikit. "Agak lemas."
Dokter Ali tersenyum, "Nona Erys tahu ini tanggal berapa?"
Erys menggelengkan kepalanya, "Eum?" Lalu ingatan tentang bagaimana taksi tumpangannya ditabrak dari belakang membanjiri otak Erys dengan cepat. "Supir taksi itu, is he okay?"
"Ya, bisa dibilang Nona Erys yang terdampak paling banyak di kasus ini." Dokter Ali menjelaskan berbagai kondisi yang dilaluinya kemarin-kemarin. Oh bukan kemarin-kemarin, tetapi satu bulan lebih yang lalu. Dimana dia kemudian koma sampai sadar hari ini.
Erys masih sesekali bingung sampai kemudian satu persatu keluarganya hadir. Bahkan Kaivan yang datang-datang langsung menyerocos, "gue yang sesibuk ini aja datang ke sini dengan cepat, harusnya lo berterimakasih karena gue menampatkan diri lo di prioritas hidup gue—"
Dia hanya menggaruk kepala sambil mengangguk-anggukkannya. Lalu tiba-tiba saja dia terlonjak kaget. Sialan benar, dia tiba-tiba ingat keberadaan satu orang yang bisa saja tengah bersedih saat ini. "Kak Eros?" Erys menatap semuanya dengan kening berkerut. "Dia gak tahu aku sadar?"
Kaivan yang menjawab, "udah gue telepon tadi, dia buru-buru kesini—" Kaivan mengecek jam tangannya. "Mungkin masih macet."
Nara juga menganggukkan kepalanya, "Dia pasti sebentar lagi datang. Anak sulung Mama itu udah kaya Zainudin satu bulan ini." Nara berjalan mendekati Erys lalu mengelus tangan Erys dengan pelan. "Mama sampai kasihan, takut juga."
"Takut apa?" Erys menjawab.
Kaivan tadinya duduk saja di sofa tetapi segera bangkit dan pindah duduk di sebelah mamanya, "takut lo gak ngenalin Kak Eros karena dia udah jadi zombie manusia." Katanya dengan wajah datar.
Mengalirlah cerita bagaimana Eros selalu menunggunya tidak kenal waktu. Makan tidak nafsu, bekerja juga tidak fokus, bahkan tidur juga tidak pernah nyenyak.
"Dada sering lihat dia nangis waktu cuma kalian berdua, malam hari." Chandra tersenyum pada putri semata wayangnya. "Dada sedih kalau anak Dada yang paling cantik ini sama keponakan kloningan Kak Adam sakit."
Mendengar cerita itu, mata Erys kontan berkaca-kaca. Kak Erosnya yang sudah dia jaga pola makan dan hidupnya dengan susah payah itu, Kak Eros yang sudah dia paksa banyak makan itu, dan Kak Eros yang akhir-akhir ini tampak bahagia mungkin sedang bersedih membuat hati Erys teriris.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall Apart
General FictionSequel of Fall in Love Eros Kalnandra Nararya Adam mengenal Erys Serapina Adam bahkan sejak Erys masih dalam kandungan tantenya. Nama Erys pun pilihan Eros, mereka sedekat nadi dan tidak terpisahkan walau bahkan oleh jarak umur yang terpaut jauh. Ba...
