Tepukan tangan meriah menandai pesta kemudian dimulai.
Erys tertawa kecil saat melihat Eros dan Rajendra berdiri bersebelahan. Sama-sama memiliki ekspresi datar. Kaivan dan Nara yang juga bersebelahan tampak sama-sama ceria. Memang adil sekali pembagian wajah dan wataknya.
"Mama bener-bener menikmati waktu di sana," Dadanya yang berdiri sambil merangkul pundak bundanya sedang menggelengkan kepalanya kecil. "Sekarang malah gak tega ninggalin tanamannya."
Erys kembali tertawa, omanya itu hanya memanggil via video call saja tidak bisa datang kemari karena tanaman di rumah sedang segar-segarnya. "Oma udah jadi petani sejati," komentar Erys.
"Mama juga gak datang waktu nanti kita anniversary?" Bunda Arena bertanya.
"Biar adil pasti enggak."
Erys mendengarkan orangtuanya yang saling mengobrol, sesekali dia membawa pandangannya mengelilingi restoran. Hanya sedikit orang—kebanyakan dia mengenalnya karena memang hanya orang terdekat. Sahabat Papa Rajendra dan Mama Nara.
Ada segerombolan anak muda juga di sana, mungkin lebih tua beberapa tahun dari Erys. Anak-anak teman mama Nara pastinya karena sekarang sudah heboh sekali bercerita masa lalu.
"Eros ini sudah punya pacar?" Tanya seorang perempuan seusia Mama Nara, Tante Luna namanya. Erys perhatikan memang yang paling heboh. "Tambah ganteng-ganteng banget anak lo Nar, tapi kayanya Rachel sukanya sama yang sulung." Terkikih heboh, Tante Luna memukul pelan pundak Mama Nara. Tantan Tante Luna juga menunjuk pada perempuan berambut lurus di sampingnya yang daritadi mencuri tatapan malu-malu pada Eros.
Erys tersenyum tipis, dia tidak merasakan ketidaknyamanan. Dia tidak tahu karena dia memang tidak cemburu atau sangat mengerti Eros, Eros tidak pernah bisa menatap perempuan lain kecuali dirinya.
Lalu Mama Nara tampak tertawa, "Lo udah tua juga masih tahu aja yang ganteng. Gak
lihat Mamanya secantik apa?"
"Asbun lo Nar!" Mereka tertawa bersama lalu membahas hal-hal lain juga sedangkan Eros masih diam saja di tempat.
Erys merasakan Eros terus saja mencuri tatap padanya tetapi Erys sudah memberitahu jika dia mau Eros bergabung dengan keluarganya dulu, jangan menempel pada Erys terus karena ini acara mereka.
"Nanti," Erys memberikan kode dengan mulutnya tanpa suara agar Eros yang tampak tidak betah itu membetahkan diri.
"Oy Chan!" Lalu Tante Luna yang memang kelebihan energi itu memanggil Dadanya. "Sini gosip."
Erys mengikuti kedua orang tuanya yang menggerombol itu, menyalami satu persatu dan tersenyum. "Erys. Anaknya Dada Chandra."
"Udah gede ya? Jarang Tante lihat kamu," Tante Diva—seorang wanita berkerudung besar yang sangat kalem itu menatapnya dengan senyuman.
"Iya Tante, aku seringnya di rumah aja. Kadang main sama Kai di rumah Mama Nara tapi waktu Tante-tante main kesana pasti aku gak ada," Erys menjawab dengan sopan.
Diva tersenyum lalu mengangguk, "Kalau Eros, Kaivan sama Erys berdiri sampingan pasti orang-orang langsung tahu saudaraan ya? Mirip semua."
Kaivan yang sejak tadi diam saja langsung bereaksi, "Tolong Tante Diva yang cantik, aku gak mau disamain sama dia." Tunjuknya pada Erys sambil menyeringai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall Apart
Fiksi UmumSequel of Fall in Love Eros Kalnandra Nararya Adam mengenal Erys Serapina Adam bahkan sejak Erys masih dalam kandungan tantenya. Nama Erys pun pilihan Eros, mereka sedekat nadi dan tidak terpisahkan walau bahkan oleh jarak umur yang terpaut jauh. Ba...
