"Nyari siapa mbak Erys?"
Erys yang mencak-mencak di depan pagar beralih menatap Bi Narsih yang tersenyum sembari membawa sapu lidi. "Dada sama bunda gak ada di rumah dan aku lupa bawa kunci rumah," Erys menjawab masih dengan rengutan sebal.
Bi Narsih tampak tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Sebentar lagi juga pulang," jawabnya kemudian, masih melanjutkan menyapu bagian depan pagar rumah Nara dan Rajendra.
"Emang Bi Narsih tau pada kemana?" Erys lalu melirik pada rumah om dan tantenya, sangat sepi. "Kok sepi banget, minggu gini Kai gak ribut kaya biasanya Bi?" Erys kepo sekali.
Sudah lima hari empat Erys izin pada bunda dan dadanya, kegiatan rutinnya saat Aidan akan pulang adalah ikut pergi ke rumah eyang Aidan. Kadang menginap seminggu, kadang juga kurang dari itu. Biasanya mereka hanya akan di rumah kalau tidak ya main di pantai. Hari terakhir alias hari ini, tepatnya tadi pagi, Aidan sudah pulang ke London dan Erys bisa melihat matanya terasa membengkak karena menangis. Yah, mau ditahan juga dia pasti menangis jika Aidan pulang.
"Mata aku kelihatan sembab banget gak, Bi?" Sebelum Bi Narsih menjawab, Erys bertanya dengan panik. Pasti memalukan sekali jika dilihat orang dengan keadaan mata bengkak, terdampar di depan rumah yang tertutup.
Bi Narsih mengernyit, tampak baru menyadari. "Banget, mau dikompres di rumah aja?" Erys lalu mengangguk, mengikuti Bi Narsih masuk ke dalam rumah yang memang benar sepi tanpa ada penghuninya.
"Keluarga Mbak Nara sama keluarga Mbak Erys ke rumah sakit jemput Mas Eros," perempuan paruh baya asal Surakarta yang masih lincah dari dulu itu menjawab pertanyaan Erys tadi.
Erys tentu sangat terkejut. Ia ingat, terakhir kali memang Eros sakit tetapi setelah itu memang dia tidak bertemu Eros lagi—tentu karena dia pergi ke luar kota. "Kok gak ada yang ngasih tau aku ya?" Erys bermonolog pelan, mengambil handphone dan melihat pesan barunya tadi belum dibaca.
Bi Narsih memberikan es batu yang sudah dibungkus dengan kain bersih pada Erys yang menerimanya, "tiga hari lalu Mbak Nara dapat kabar kalau Mas Eros pingsan di apartementnya. Terus Bibi dapat kabari akhirnya diopname," jelas Bi Narsih yang kini beralih membuatkan Erys minuman.
"Pingsan?" Erys bergumam. "Berarti parah dong," katanya pelan, Erys menghela napasnya. Andai saja Erys memaksa Eros untuk dibawa pulang, mungkin Eros tidak akan separah itu.
Bi Narsih mengangguk, memberikan jus jeruk pada Erys. "Iya, biasanya paling cuma sakit biasa gak sampai pingsan. Tapi kali ini pertama kali sejak beberapa tahun dulu Mas Eros sampai pingsan," jelas Bi Narsih pada Erys yang tampak tidak mengerti apa-apa. Dia cukup tahu jika anak sulung Rajendra itu sering jatuh sakit padahal tampilannya tampak sehat dan bugar. Bi Narsih juga tahu jika Erys tidak pernah diberitahu karena lebih banyaknya semua rasa sakit Eros karena sepupunya sendiri.
Jika melihat Eros, Bi Narsih selalu mengingat sosok Rajendra dulu. Yang ini lebih rapuh walaupun dari tampilan, Eros lebih gagah daripada Rajendra. Sebenarnya tidak seperti itu, tetapi kecelakaan dulu benar-benar merubah Eros. Hanya doa yang selalu Bi Narsih haturkan, agar putra sulung Rajendra itu bisa bahagia seperti Rajendra yang bahagia bertemu dengn Nara. Walaupun dia juga tahu, yang ini akan lebih susah.
Dan bagai orang tolol, Erys bergumam, "biasanya? Sering? Ya ampun, kenapa gak pernah ada yang ngasih tahu aku ya?" Di mata Erys dulu, Eros laki-laki kelebihan sehat yang menyebalkan hingga terus mengusik kehidupan Erys. Terobsesi membuat Erys sehat, ternyata dirinya sendiri tidak pernah memperhatikan kesehatannya.
Keduanya memilih diam saja menunggu, Erys masih menempelkan es yang mulai mencari di matanya sambil sesekali berpikir dan menghela napasnya. Lalu Bi Narsih memilih mengerjakan pekerjaan lain, meninggalkan Erys sendiri di ruang tamu yang terasa sangat lengang untuk beberapa waktu hingga terdengar suara mobil yang memasuki halaman. Dengan segera Erys menuju ke depan dan melihat mobil dada dan papa Rajendra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall Apart
General FictionSequel of Fall in Love Eros Kalnandra Nararya Adam mengenal Erys Serapina Adam bahkan sejak Erys masih dalam kandungan tantenya. Nama Erys pun pilihan Eros, mereka sedekat nadi dan tidak terpisahkan walau bahkan oleh jarak umur yang terpaut jauh. Ba...
