49. Bitterness

149 8 4
                                        

Waktu berlalu dengan sangat lambat bagi semua orang di sekitar Erys.

Doa yang terus Eros panjatkan ternyata tidak menjadi kenyataan secepat itu. Nyatanya kondisi Erys tiba-tiba memburuk seolah kabar baik tadi hanya angin lewat.

Sepanjang nafas yang Eros hembuskan terasa seperti nyawanya yang kian terkikis. Tarikan tajam nafasnya mengirimkan gelenyar rasa sakit pada dada. Rasa sakitnya bahkan terkadang membuat Eros kehilangan kesadaran.

Nyawa Erys sekarang bergantung kepada seutas benang dengan berbagai selang penunjang kehidupan yang terpasang. Kontan membuat Erys menjadi pesakitan. Hanya dalam tiga hari, rona kemerahan di wajah Erys sudah hilang digantikan pucat yang menyesakkan.

"Sudah?"

Chandra tersenyum tipis memandang keponakannya. Menepuk bahu Eros dengan pelan, "biar Dada yang jaga Erys hari ini, kamu pulang saja dulu."

Tetapi Eros hanya menggeleng. Dia enggan meninggalkan Erys barang sebentar, takit jika dia pergi akan terjadi hal-hal yang akan membuatnya menyesal kemudian. "No need. Dada bisa temani Bunda di rumah." Jawabnya datar. Dia tidak punya tenaga untuk memberikan riak bahkan pada suaranya.

Chandra tampak menghela napasnya pelan. "Kamu butuh istirahat Eros." Katanya pelan.

Kembali Eros jawab dengan gelengan kepala, bibirnya hanya mengucapkan satu kata. Kalimat yang akhirnya membuat Chandra menyerah. "Maaf."

Keduanya kini hanya duduk diam memandangi Erys yang tertidur dengan tenang. Chandra sudah tidak berusaha membujuk. Eros sangat keras kepala dan dia juga tidak kuasa membiarkan Eros bersedih. Dia praktis menyayangi Eros seperti anaknya sendiri.

"Jangan terlalu khawatir," ujar Chandra menyandarkan bahunya di sofa. "Erys gadis kuat. Dia selalu bisa melewati semua ini. Dulu bisa, sekarang juga bisa."

Eros tidak menjawab, tetapi tatapannya yang kosong berubah sedikit melembut.

Dia hanya tidak bisa menunggu. Melihat Erys yang bisa kapan saja pergi darinya membuat hati Eros hancur. Mata yang selalu memandangnya lembut itu kini tertutup rapat, bibir yang memberikannya kecupan dan kata-kata penyemangat itu kini terkatup rapat, dan tubuh yang sering memeluknya ini terbaring kaku.

Bagaimana Eros tidak merasa hancur?

Chandra yang melihat Eros kembali melamun hanya bisa menghembuskan napasnya lelah. Dia masih ingin menemani sang anak, tetapi dia tahu, Eros akan terus seperti ini jika masih ada orang di sekitarnya.

"Jangan lupa tidur, besok sarapan biar dibawakan Kaivan atau Bunda." Chandra berdiri dari duduknya, "jangan terus diposisi ini, oke? Kamu butuh istirahat."

"Ya." Eros menjawab singkat.

Lalu Chandra perlahan berdiri menuju bed Erys, menatap anaknya lembut dan memberikan kecupan panjang di dahi Erys. "Cepat bangun, sayang. Dada dan Bunda selalu menunggu kamu." Bisiknya lembut, Chandra kian menunduk dan berbisik lirih, "Eros... kasihan." Hanya itu sebelum dia memberikan satu kecupan lembut dan berdiri menuju pintu keluar.

Hening.

Pintu tertutup dan semua tampak hening. Satu menit, dua menit, tiga menit ... lima menit dalam keheningan sebelum Eros juga perlahan berdiri.

Tatapannya terkunci pada tubuh Erys, tanpa mengalihkan pandangan sejengkalpun. Lembut sekali tangan Eros menggenggam tangan Erys, mengelusnya dengan sangat pelan.

Fall ApartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang