Ada masa dimana Erys mempertanyakan apa tujuan hidupnya. Jika sudah lulus ingin bekerja dimana, apakah ingin melanjutkan studi ke luar negeri atau bahkan jadi ibu rumah tangga.
Jadi ibu rumah tangga sering terlintas di pikirannya saat menatap Aidan, cinta pertamanya. Saat ini, melalui handphone, Erys melihat Aidan yang sibuk memasak. Bisa Erys bilang bahwa Aidan itu husband material, bagaimana Aidan memasak sungguh memukau. "Kalau pulang jangan lupa masakin aku. Aku terus yang masakin kamu, Ai." Erys yang sekarang menyeruput minuman kesukaannya cemberut.
"Ya beberapa bulan lagi kan pulang," jawab Aidan tenang. "Atau kamu yang mau kesini?" Tanyanya sembari mengangkat satu alis.
Erys tertawa, "boleh emang? Nanti kalau dibolehin aku langsung berangkat loh," jawabnya bercanda.
"Boleh." Aidan menjawab dengan serius, saking seriusnya sampai Erys mengerjapkan mata.
"Eh beneran?"
"Boleh, mumpung ada waktunya kan?" Jawaban Aidan sungguh ambigu, membuat Erys terserang rasa canggung padahal mereka tidak pernah di situasi canggung.
"Iya, lagipula Ai di sana masih lama jadi kapan aja bisa ke sana."
Aidan tersenyum tipis, "semoga." Lalu saat melihat Erys yang mupeng, Aidan tertawa terbahak. "Ekspresi kamu."
Erys lalu tersenyum, mengalihkan pembahasan hingga waktu menunjukkan pukul delepan. Erys harus bersiap-siap karena akan pergi bersama Eros. "Jangan lupa jaga kesehatan, jangan lupa makan dan tidur yang cukup, dan jangan stres."
"Erys juga."
Mereka mengakhiri panggilan dengan saling tersenyum, Erys kini berpindah posisi menjadi telungkup lalu memejamkan matanya sebentar. Rasanya seperti punya dua gebetan, Erys tahu akan bagaimana ekspresi Eros jika mengetahui Erys bersama Aidan tetapi reaksi Aidan bagaimana padanya dan Eros sungguh membuat Erys penasaran.
"Udah deh mending ganti baju," malas memanjakan rasa penasarannya, Erys segera beranjak untuk memilih baju yang akan dikenakan.
Pertama dia menggunakan dress sampai mata kaki lalu dipadukan dengan cardigan. Daripada menggunakan heels, Erys lebih suka menggunakan sneakers. Casual tetapi tetap trendy. Lagipula Erys tidak tahu mereka akan pergi kemana karena Eros juga tidak memberikan clue.
"Erys sayang, Eros udah di bawah." Arena muncul dari pintu yang terbuka. "Duh cantiknya anak bunda." Puji Arena sembari mengedipkan satu matanya.
"Ih bunda, cantik banget atau cantik aja?" Tanya Erys tetsenyum malu.
"Coba tanya Eros," Arena cekikikan, membuka pintu kamar lebih lebar lalu merangkul pundak anak semata wayangnya. "Pasti jawabannya cantik banget."
"Udah ketebak," Erys mengangguk. "Btw, Tante Airin sama Om Ale gak ada rencana jenguk Ai?" Tanya Erys, mengingat persahabatan bundanya dan mama Aidan yang sangat erat, pasti bundanya itu tau info.
Arena mengerutkan keningnya, "Airin akhir-akhir ini sibuk, gak pernah curhat juga." Jawabnya.
"Hm," Erys mengerutkan keningnya. "Ai kayanya kurang enak badan akhir-akhir ini, bisa jadi Tante Airin sibuk khawatirin itu," Erys ingat bagaimana Aidan yang lesu saat itu, bodohnya tadi tidak bertanya bagaimana hasil pemeriksaan.
"Oh iya?"
Erys mengangguk, "aku—"
"Erys."
Erys mengatupkan mulutnya saat melihat Eros yang menghampirinya dengan senyum tipis. "Hai." Sapanya sembari tersenyum makin lebar.
"Hallo, sekarang?"
Eros mengangguk. "Bunda, Eros izin ajak Erys jalan-jalan," Eros menundukkan kepalanya sedikit lalu tersenyum tipis pada Airin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall Apart
General FictionSequel of Fall in Love Eros Kalnandra Nararya Adam mengenal Erys Serapina Adam bahkan sejak Erys masih dalam kandungan tantenya. Nama Erys pun pilihan Eros, mereka sedekat nadi dan tidak terpisahkan walau bahkan oleh jarak umur yang terpaut jauh. Ba...
