43. Let Me Go

253 25 4
                                        

Erys masih terengah setelah lari dari depan rumah sakit. Lantai teratas menjadi tujuannya, tempat dimana keluarganya selalu di rawat di rumah sakit.

"Bunda!" Erys memeluk bundanya saat melihat bundanya duduk bersama Mama Nara. "Kok di luar?" Tanyanya heran saat melihat mereka di luar.

"Kok pada kumpul?" Tanyanya cepat saat melihat mereka dengan formasi lengkap—kecuali Ale tentu saja. "Oh, Kaivan?" Kecuali Kaivan juga, semuanya di depan.

Jangan-jangan terjadi sesuatu pada Eros saat Erys tidak mengaktifkan handphonenya?

"Eros bilang mau bicara sama Kai," Nara yang menjawab. Senyumnya lembut pada sang keponakan. Jujur saja, Nara seperti melihat dirinya dulu yang bingung. Mungkin Rajendra juga melihatnya, maka dari itu dirinya mengerti. Kalaupun Erys tetap dengan Aidan, Nara mengerti. Kondisi yang sama bukan berarti memiliki ending yang sama.

"Oh?" Erys menghembuskan napasnya lega, tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Eros. "Kak Eros baik-baik aja?" Tanyanya dengan suara mencicit pelan.

"Nanti kamu coba masuk," Chandra merentangkan kedua tangannya lebar, memberikan kode agar putrinya datang ke pelukan. "Kamu jangan-jangan dinakalin Kak Ale biar lupa sama Dada?" Tanyanya sembari menaikkan satu alisnya.

Erys tersenyum lalu memeluk dadanya, cuma sebentar saat Om Vero juga meminta pelukan membuat Chandra cemberut. "Udah rata ya."

Mereka semua terkekeh geli sedangkan Rajendra masih dengan senyum tipisnya. "Sana masuk." Rajendra memberi kode Erys agar masuk ke dalam. "Kita ke ruang sebelah. Biar anak muda."

Erys ingin mencegah para orang tua agar tidak meninggalkannya tetapi mulutnya terkunci rapat. Tidak bisa mengeluarkan perkataan apapun bahkan saat wajahnya sudah memelas.

Saat sendirian, Erys menguatkan diri dahulu dengan mengambil dan menghembuskan napas pelan-pelan. Membuka pintu dengan pelan untuk kemudian membelalakkan matanya lebar, sangat lebar. Jika tadi Erys berharap para orangtua menemaninya, sekarang Erys bersyukur hanya ada dirinya, Eros, dan Kaivan saja di sini.

Eros mengacungkan sebuah pisau buah dimana bagian yang tajam ke arah tubuh Eros sendiri dan gagangnya di arahkan pada Erys. Kaivan di sampingnya pun tampak membelalakkan matanya tidak percaya apalagi saat Eros mengatakan, "Before saying goodbye, wouldn't be better to kill me first, Erys?"

Rasanya Erys bisa mati berdiri menatap netra Eros. Rasanya Erys ingin menangis saat melihat perubahan Eros hanya dalam waktu satu bulan kurang. Bagaimana bisa orang yang gagah berubah seperti mayat hidup begini?

Eros tampak kurus dengan wajah dan bibir yang sepucat kertas. Kantung matanya menghitam seolah tidak tidur banyak hari, tulang pipinya menyusut banyak seolah tidak makan berhari-hari, dan wajahnya tidak terawat seolah tidak ingin hidup dalam beberapa waktu terakhir.

"Kak, lo gila?" Kaivan berusaha merebut pisau itu tetapi Eros menatapnya tajam.

Sangat tajam. "Shut up!" Teriaknya sambil melotot.

Kaivan menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menyugar rambut dengan kasar. "Fuck!" Umpatnya dengan emosi. Dia sungguh capek, lama-lama Kaivan juga butuh perawat kalau kakaknya semakin menggila.

Pandangannya menatap Erys yang masih menganga di depan pintu lalu Kaivan melotot. "Go." Ujarnya melirik Eros yang bahkan tidak mengalihkan tatapannya dari Erys.

Erys mengerti. Dia berjalan pelan menghampiri Eros. "Instead of ngacungin pisau, bukannya Kak Eros harusnya bilang halo?" Berusaha terlihat santai, Erys masih berjalan pelan hingga menyentuh bed Eros.

Tetapi yang tidak ia duga, Eros melompat hingga berdiri di samping Erys dan membawa tangannya menggenggam pisau itu. "Kill me. Kill me."

"Are you crazy?" Ketenangan Erys buyar saat melihat tingkah nekat Eros.

Fall ApartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang