18. Loving You

387 24 3
                                        

Lampunya sudah menyala.

Erys berdehem pelan sembari menjauhkan tubuhnya dari Eros dengan canggung. Masih berasa di bibirnya rasa bibir Eros. Matanya tidak sengaja bertabrakan dengan netra Eros yang menatapnya. Terasa memabukkan.

"Erys?"

Erys tersentak saat mendengar Aidan memanggilnya, lalu dengan gerakan kaku Erys berjalan-berlari pelan menuju Aidan. Meninggalkan Eros yang menatapnya dengan senyuman tipis. Tetapi Erys yang sudah berada di hadapan Aidan melirik pada Eros sebentar lalu segera mengalihkan pandangannya saat Eros ternyata masih saja menatapinya.

"Aku mau pulang dulu, lihat—" Aidan melirik pada Chandra yang mengangkat botol wine dengan senyuman mengembang, "—papa mana bolehin minum kalau disini jadi better aku pulang. Gak papa?"

Erys yang setengah melamun tidak menjawab pertanyaan Aidan sampai Aidan memanggil namanya lagi, "oh eh boleh-boleh, lagipula aku jadi pasti di suruh masuk sama bunda," Erys menjawab sambil meringis meminta maaf karena sudah tidak fokus.

Aidan tersenyum maklum, "tidur sana, besok ada kelas?" Tanyanya sembari menepuk kepala Erys pelan.

Erys menggelengkan kepalanya, "aman, karena mau UAS jadi tinggal masa tenang aja." Jawab Erys tersenyum lalu Erys bersama sang bunda mengantarkan para perempuan beserta Aidan untuk pulang.

"Jangan mabuk Kai," Nara memperingati Kaivan yang akan mengicip wine dengan jari teracung. "Mas Rajen disini aja ngawasin bocah nakal, okay?" Nara memberikan Rajendra senyuman sedangkan yang diberi senyuman hanya dapat memgangguk lemah seolah ingin ikut pulang saja membuat Erys tertawa.

"Ah mama gak asik," Kaivan cemberut namun kembali tersenyum saat tatapannya saling bertubrukan dengan Chandra yang seolah memberikan rencana mengelabuhi Nara.

Nara menggelengkan kepalanya lalu pandangan Nara berlabuh pada Eros yang malah sudah meminum wine-nya, "Eros juga jangan banyak-banyak. Erys bilangin tuh kalau sama Mama gak pernah nurut," Nara menatap Erys membuat Erys yang mengangguk-anggukkan kepalanya sontak terdiam.

"Eh kok aku?" Tanyanya tidak mau, Erys lalu menatap Eros yang ternyata menatapnya juga. Dengan segera Erys mengalihkan tatapannya dengan pipi yang memerah karena mengingat dia yang mencium Eros tadi.

"Ya udah deh kita pulang dulu, dokter dan calon dokter jangan banyak-banyak minumnya." Vero pamit karena Lily sudah memasang wajah mengantuk. Padahal dia juga ingin ikut minum walaupun sedikit namun memang sudah tua lebih baik cepat pulang.

"Aman," Kaivan mengacungkan jempolnya. "Ai gak tinggal aja? Nanti tidur sama gue," Kaivan menawari Aidan.

Aidan tersenyum, "kapan-kapan deh, gue lagi puasa minum nih." Jawab Aidan. "Nanti gue chat kalau mau nginep," lanjutnya kemudian membuat Kaivan mengangguk.

Setelah itu semuanya kembali ketempat semula kecuali Chandra, Rajendra, Kaivan, dan Eros. Erys bahkan sudah mengunci kamarnya karena malas meladeni Kaivan jika mengulah. Pikirannya masih melayang pada kejadian tadi dan sumpah demi apapun, Erys malu bertemu dengan Eros.

"Gila banget lo, berani-beraninya nyium Kak Eros?" Erys bergumam pelan, tangannya memegang bibir sambil berkaca. Dapat Erys lihat pipinya yang memerah.

Erys akan bangkit ke kasur saat merasakan perutnya tiba-tiba nyeri hebat dan terasa basah di bagian belakangnya. Dengan cepat Erys berbalik lalu melihat ada darah tembus di celana belakangnya. "Shit! Pantes gue kayak orang gatel gini. Duh mana sakit perut banget," Erys berjalan menuju laci untuk melihat stok pembalutnya namun yang ditemukan adalah kekosongan.

"Stupid, kenapa bisa sampai lupa beli pembalut lagi?" Erys bergumam panik saat melihat stok pembalutnya habis. Beberapa hari lalu dia mengide membuat underpad dengan pembalut sampai lupa membeli lagi. "Bunda punya gak ya?" Erys menggigiti kukunya karena gugup.

Fall ApartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang