Dari banyaknya cerita yang Erys baca, yang sangat membekas di ingatannya adalah cerita dengan sad ending. Tetapi di dunia nyata dia tidak suka ending yang menyedihkan. Lalu saat ini Erys merasa kisah percintaannya yang bahkan belum dimulai dengan Aidan itu sebagai sad ending. Alias mentok sampai disana saja.
Hidupnya kini hanya berputar dengan kuliah, keluarga, dan Eros. Eros sudah seperti anak yang harus mengikuti ibunya kemanapun. Kecuali saat Eros bekerja, setelah itu mau Erys gabut ke mall pun Eros akan ikut.
Selain itu, Eros selalu memberikan apapun yang Erys butuhkan. Bukan hanya membelikan barang-barang kelewat mewah yang membuat Dadanya menggelengkan kepala, hal sekecil potong kuku pun Eros sering melakukannya untuk Erys.
Ditanya apakah Erys baper, jelas! Siapa yang tidak? Dari awal juga Erys sudah baper, tetapi terhalang rasa cintanya pada Aidan dulu saja. Lalu saat ini, sosok Aidan sudah kabur dalam benaknya. Tidak ada lagi berimajinasi di malam hari tentang Aidan, tidak ada lagi tersenyum-senyum membayangkan wajah Aidan dan tidak ada lagi bermimpi menikahi Aidan.
Tentu saja, karena dua puluh empat jam Erys selalu ditempeli Eros.
"Kak Eros agak kesana sedikit bisa?"
Erys menyenggol badan Eros dengan tubuhnya tetapi Eros tidak bergeser seinchi-pun. "Ih!"
Eros tertawa pelan lalu mencuri kecupan di pipi Erys membuat Erys kembali memekik. "Nanti diciduk Dada lagi!" Matanya melotot lebar sambil mencebik.
Teringat kejadian dua minggu lalu saat Eros yang menempelkan bibirnya pada pipi Erys selama bermenit-menit. Erys biarkan saja sampai suara Dadanya yang mendengus-dengus sampai di telinga mereka berdua.
"Tau lah!" Erys akhirnya pasrah saja ditempeli Eros bagai lintah. Keduanya sedang menonton drama, Eros tidak melihat, dia hanya menempeli Erys saja.
Adegan dalam drama itu menunjukkan romansa adik dan kakak tirinya, bagaimana keduanya saling melindungi karena orang tua mereka yang tidak berada di tempat yang sama. Erys sampai meneteskan air mata saat mendekati episode akhir.
Bagaimana cinta keduanya diuji oleh status persaudaraan walaupun tanpa hubungan darah sama sekali. Memang drama lawas sekali tetapi Erys malah suka.
"Benci kalau sad ending gini," Erys melemparkan tisu bekas air matanya ke pangkuan Eros. "Cowok kenapa suka ambil keputusan sendiri sih. Sedihnya malah si cewek ditinggal selamanya. Benci." Bibirnya manyun dengan mata yang memerah.
"Iya."
"Lagian gak salah kenapa mau nyerahin diri? Kenapa gak duduk baik-baik nyari mufakat, jangan langsung nyuruh nikah sama cowok lain." Tiada henti Erys mengomentarinya membuat Eros tersenyum tipis. "Kak Eros setuju sama cowok itu?"
Eros menggeleng. Dia juga tidak setuju, dia tidak bisa bila tanpa Erys. Eros akan berusaha mencari jalan keluar tanpa harus berpisah dengan Erys.
"Kan!" Erys mengambil tisu dan mengelap air matanya lagi. "Kalau gini kan sakit semua."
"Iya, sayang."
Bagai tidak tahu tempat, Eros mengelus kepala Erys sambil mengecupinya lamat-lamat. Tidak sedetikpun Eros menjauhkan dirinya dari Erys, membelainya dengan teramat lembut dan penuh cinta. "Cantik." Bisiknya lembut.
Biasanya Erys akan tersipu-sipu malu walaupun gengsi, namun kali ini bibirnya malah cemberut. Menatap Eros dengan sengit. "Oh jadi kalau aku gak cantik, gak bakal dielus-elus gini?" Tanyanya sewot. Moodnya berubah dengan sangat cepat.
Eros mengerjap dua kali, menatap Erys heran lalu tersenyum lebar saat sadar tanggal berapa sekarang, Erys akan mendapatkan tamu bulanannya sebentar lagi. "Tetap dielus-elus," jawab Eros sambil tersenyum. "Yang penting Erys." Perubahan emosi yang cepat dan bagaimana Erys gampang menangis pasti sebentar lagi tamu bulanannya akan datang. Eros sudah hafal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall Apart
RomanceSequel of Fall in Love Eros Kalnandra Nararya Adam mengenal Erys Serapina Adam bahkan sejak Erys masih dalam kandungan tantenya. Nama Erys pun pilihan Eros, mereka sedekat nadi dan tidak terpisahkan walau bahkan oleh jarak umur yang terpaut jauh. Ba...
