"Kenapa?"
Mengucek matanya yang masih sangat berat untuk dibuka, Erys menatap Kaivan yang berdiri di depan pintu kamarnya malas. Tadi Erys begitu kesal pada Eros, tidak sadar hingga tertidur sampai langit sudah hitam pekat. "Lama, gue ngantuk."
"Eits," Kaivan menahan pintu yang akan Erys tutup lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, "lo tidak mendefinisikan young and wild, liburan ya tidur pagi dong. Malah mirip orang tua yang udah pada tepar," Kaivan menarik tangan Erys yang memberontak.
"Heh mau kemana? Gue mendefiniskan anak muda banget ya, suka rebahan." Erys menguap beberapa kali sementara tangan digendeng, oh lebih tepatnya ditarik Kaivan menuju halaman bersantai di tengah-tengah villa.
Kaivan berdecak, "tapi ini liburan," semakin cepat saja langkahnya dalam menggeret Erys. Membawanya berdiri di hadapan Aidan yang mengangkat sebelah alisnya.
Melihat ada Aidan yang bahkan tampak segar setelah menyetir lama membuat Erys membelalakkan matanya. Dengan cepat menarik tangannya dari genggaman Kaivan lalu merapikan rambutnya yang pasti berantakan.
"Hai, baru bangun?" Tanya Aidan membiarkan Erys dan Kaivan mengikutinya duduk di sofa.
Erys menganggukkan kepalanya, "Ai gak istirahat?" Tanyanya kemudian.
"Udah tadi, itu—" Aidan menunjuk pada sudut bibir Erys dengan senyuman geli membuat Erys panik mengira karena ada iler yang menempel di wajahnya. "Bercanda, Erys." Aidan terpingkal setelah membuat Erys cemberut.
"Ai," Erys memanyunkan bibirnya dengan mimik wajah dibuat semenggemaskan mungkin.
Kaivan berdecih dengan wajah tampak mengernyit, "dasar bocah edan," katanya menjentik dahi Erys.
"Iri aja bos," Erys memeletkan lidahnya pada Kaivan lalu mengambil snack yang tersedia banyak di meja. "Terus mau ngapain?" Tanyanya kemudian, Erys kira mereka akan pesta barbeque tapi tidak ada apa-apa disini selain snack yang sangat banyak hingga menggunung. Erys meringis, bahaya jika dia kalap.
"Menikmati malam," jawab Aidan merebahkan kepalanya di bantalan sofa sembari menatap langit malam yang penuh bintang, "main game, makan, dengerin musik, cerita-cerita dan masih banyak lagi. Kapan lagi kumpul di suasana setenang ini kan?"
Erys tersenyum dan mengangguk, mengikuti Aidan yang sudah di posisi serta menarik Kaivan agar ketiganya menatap langit malam. Erys menghembuskan napasnya dengan pelan dan lembut, "jadi ingat kalau masih kecil gak ada masalah, main terus bareng. Kita kan sering lihat langit malam gini kalau malam minggu," Erys mengingat momen-momen saat mereka masih kecil, yang tidak ada masalah orang dewasa.
Umur mereka yang terpaut tidak terlalu jauh serta keperibadian yang semuanya ekstrovert membuat mereka nyaman satu sama lain. Kaivan pun turut menatap langit, "hm, terus Erys nangis karena gue jahilin tapi centil lagi kalau Aidan belain." Lanjut Kaivan jahil.
Aidan tertawa terbahak, "udah centil dari bayi ya kamu itu. Tapi kenapa masih belum punya pacar?" Tanya Aidan ikut jahil seperti Kaivan.
Erys cemberut lalu dengan nada yang dibuat main-main, Erys menjawab, "kan aku gak mau pacaran dulu," Erys menjeda kalimatnya. "maunya langsung nikah sama Ai." Lanjutnya sembari tertawa lalu diikuti Aidan dan Kaivan yang juga turut tertawa
"Iya nanti lulus dulu," jawab Aidan.
Erys tertawa, membawa kedua tangannya mengikat tangan Aidan dan Kaivan erat, "tapi ngantuk, kalau aku ketiduran nanti ditinggal?"
"Ya iyalah, biar ditemenin genderuwo." Ujar Kaivan lalu menunjuk pada suatu arah dengan wajah bergidik ngeri, "gue punya feeling ada something di sana—" ujarnya dengan nada yang meyakinkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall Apart
Fiksi UmumSequel of Fall in Love Eros Kalnandra Nararya Adam mengenal Erys Serapina Adam bahkan sejak Erys masih dalam kandungan tantenya. Nama Erys pun pilihan Eros, mereka sedekat nadi dan tidak terpisahkan walau bahkan oleh jarak umur yang terpaut jauh. Ba...
