31. Fix Me Up

267 23 1
                                        

Erys menggeliat, malas sekali rasanya harus bangun tidur. Tadi malam dia pulang hampir pukul satu dini hari, mengendap-endap tentunya. Jika saja Eros langsung tidur dan tidak sibuk tersenyum-senyum, pasti Erys tidak akan pulang dini hari. Dan jika saja dia tergoda, pasti bukan langit-langit kamarnya yang dia lihat tetapi kamar Eros.

Matanya kembali terpejam karena dia sudah memutuskan untuk tidur hingga siang, sebelum itu mengecek handphone terlebih dahulu siapa tahu Eros mencarinya. Tetapi nihil, tidak ada Eros yang mencarinya.

"Dasar," gumamnya pelan, melempar handphonenya dan kembali terpejam tanpa sadar ada yang memandanginya di samping sembari tersenyum tipis.

Erys yang tertidur merasakan sesuatu membelai pipinya, awalnya belaian seringan bulu hingga kemudian menjadi rasa hangat tangan menangkup pipinya. Tunggu dulu, seharusnya tidak ada orang di kamar. Tetapi, Erys membuka matanya lalu terbelalak saat melihat Eros di sampingnya. "Astaga ngangetin aja!" Erys memukul lengan Eros pelan, tangannya yang lain menyentuh dadanya yang berdetak sangat cepat.

Eros tertawa kecil, bangkit dari posisinya untuk kemudian duduk di ranjang Erys. Wajahnya sudah tidak sepucat tadi malam, dalam hatinya Erys menghela napas lega. "Selamat siang." Sapa Eros.

"Ini masih pagi ya," Erys cemberut, lalu ikut duduk di hadapan Eros. Tangannya menyentuh dahi Eros, "udah normal. Dan btw, siapa yang ngebolehin masuk sini? Masa masuk kamar anak gadis pagi-pagi gini," ujar Erys yang menyipitkan matanya.

Eros menggelengkan kepala lalu kembali tertawa kecil, "bunda kamu tadi."

"Oh bunda, nanti aku bilangin biar gak sembarangan ngasih cowok masuk kamar deh," kata Erys, satu alisnya naik untuk menggoda Eros.

"Jangan." Jawab Eros cepat. "Lagipula kamu masih kelihatan cantik di kondisi apapun."

"Tentu aja, Erys emang paling cantik sedunia. Tiada yang bisa menyaingi kecantikannya. Coba ulangi," Erys memberi perintah dengan senyuman membuat Eros tertawa terbahak.

"Erys memang paling cantik sedunia, tidak ada yang bisa menyaingi kecantikannya. Erys paling berharga buat Eros, jangan pergi ya?"

Sialan Eros ini, seharusnya cukup apa yang Erys minta bukannya menambahi hingga pipinya pasti memerah sekarang. Tetapi Erys berusaha cool saat mengingat sesuatu, "sorry, kayaknya semalam aku khilaf. Lebih baik perjanjian dibatalin aja ya?"

Wajah Eros yang tadinya tertawa cerah langsung memucat, alisnya mengernyit dalam. "Kenapa?" Tanyanya pelan.

Erys pura-pura tidak tahu saat menjawab, "Kak Eros kan udah punya calon tunangan, aku gak mau dibilang pelakor. Sekarang pilih aku atau dia? Ya walaupun belum nerima perasaan kakak tapi aku orangnya posesif juga loh," Erys memandang Eros dengan tajam padahal dalam hati tidak kuat menahan tawa.

Bisa lihat wajah Eros berubah blank, seolah tidak menyangka pembahasan ini akan naik lalu tiba-tiba saja Eros terbahak dan meringsek memeluk Erys. Digoyang-goyangkannya badan Erus. "Kamu pernah bilang kakak bodoh kan? Kakak emang bodoh," mengatai dirinya sendiri dengan riang, kalau bukan Eros pasti Erys tidak pernah menemui orang seperti itu.

"Jadi?"

Eros tersenyum, melepaskan pelukannya lalu merangkum wajah Erys agar menatap matanya. Erys melihat netra Eros yang menatapnya penuh rasa damba dan terasa bahagia karena kebahagiaan itu pun bisa Erys rasakan. "Erys. Akan selalu Erys yang kakak pilih, kamu bukan pelakor karena dia cuma kerja sama kakak." Mengalirlah cerita bagaimana Eros yang meminta Ratu menjadi pacar bayarannya.

Erys menahan senyum karena cerita Eros dan Ratu memang berhubungan, "Oke, Cartier ya?"

Terbahak lagi, Eros menciumi seluruh wajah Erys. "Berapa?" Tanyanya sungguh-sungguh. Hanya perhiasan, hidup pun akan Eros berikan jika Erys meminta. Sedalam itu rasa cintanya, hingga hal kecil yang Erys lakukan untuk menjauh darinya, membuat Eros hampir mati. Obsesi dan cintanya, terlalu besar.

Fall ApartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang