19. Too Sweet To Handle

551 34 3
                                        

Sinar matahari serasa menusuk mata Erys yang terpejam, sungguh mengganggu kenikmatan tidurnya. Seolah itu belum cukup membuatnya terbangun, Erys menarik selimut yang membungkus tubuh hingga menyentuh dagunya. Harum ini... terasa asing namun familiar. Yang pasti bukan harum seperti aroma kamarnya, ini seperti....

Eros!

"What the hell! Gue ngapain lagi?" Dengan cepat mata Erys terbuka sembari mengedarkan pandangannya hanya untuk menemui kejutan. Ini bukan kamarnya, ini kamar Eros!

Menatap jam yang sudah pukul delapan pagi, Erys segera meloncat turun dari kasur. Berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih tercecer, Erys menghela napasnya pelan. Pasti di depan masih ada Nara atau bahkan Kaivan, Eros pasti sudah bekerja begitupun Rajendra jadi masih sedikit aman.

Berjalan pelan menuju keluar, Erys menguap lebar sembari merentangkan kedua tangannya. Dia tersenyum mencium harum roti bakar yang semerbak. "Morning Mama!" Erys memeluk Nara dari belakang. "Pasti kaget kan tiba-tiba aku udah di sini?" Tanyanya menyengir.

Nara tersenyum, mengacak rambut Erys yang sudah berantakan. "Enggak tuh, tadi malam mama yang buka pintunya waktu kamu ketiduran digendong Eros." Jelas Nara membuat pipi Erys memerah.

"Kak Eros loh yang ngajak kesini, aku mana tau. Dada sama bunda udah tahu kan ya?" Erys bertanya karena dia tidak mengabari kedua orangtuanya, jelas lah karena dia baru saja bangun.

"Sudah, kakak tadi bilang."

Suara datar yang khas itu membuat Erys menegang, dalam hati mengumpat karena ternyata Eros masih ada di rumah. Pelan Erys membalikkan badannya kehadapan suara itu sambil meringis, "kok belum kerja?" Erys bercicit pelan menghampiri Eros yang sedang mengaduk susu.

"Nungguin lo yang kebo maksimal," ujar Kaivan yang datang dari arah kamar sudah dengan penampilan rapi. "Lo emang terlalu santai menjalani hidup sih," katanya melihat Erys yang masih kumal.

Erys mengendikkan bahunya, "lagian mau UAS juga jadi gue males ngampus. Btw lo wangi banget tapi matanya kayak panda," Erys menunjuk pada lingkaran hitam di bawah mata Kaivan yang nampak sangat jelas. "Semangat ya Pak Dokter, perjalanan lo masih panjang," Erys memberikan semangat namun bibirnya tampak menyeringai mengejek.

Nara tertawa saja lalu menepuk bahu Kaivan, "jadi gini ngelihat kloningan Mas Rajen kalau mau ujian ya?" Katanya.

Erys mengerutkan keningnya, "mungkin lebih mirip Om Ale atau Om Vero. Dia bukan mirip Papa Rajen yang irit ngomong, Kaivan itu kebanyakan ngomong, Mam." Erys menunjuk Kaivan yang langsung cemberut mendengar perkataan itu yang sudah sangat sering Erys katakan.

"Bener juga, kayaknya beginilah penampilan Chandra kalau jadi mahasiswa kedokteran dulu," Nara tertawa melihat gantian Erys yang cemberut. "Udah, sarapan dulu oke? Mama mau ke kamar dulu ada kerjaan," Nara pamit untuk kembali ke kamarnya, meninggalkan Eros, Erys serta Kaivan yang memulai sarapan.

"Duduk," Eros membawa Erys untuk duduk di sebelahnya. Eros juga membawa susu yang tadi dia aduk ke hadapan Erys beserta roti bakar rasa coklat dan keju yang ternyata Eros pembuatnya, untuk Erys.

"Loh gue gak dibuatin?" Tanya Kaivan saat melihat semua roti bakar sudah ada di piring Erys sedangkan di hadapannya hanya ada sandwich yang pasti buatan Nara.

"Buat sendiri," jawab Erys sambil memeletkan lidahnya mengejek lalu Erys mulai makan roti bakarnya dengan sengaja berlagak seperti food vlogger.

"Makan saja jangan banyak omong, Kai." Eros memperingati Kaivan yang akan menyahuti perkataan Erys namun dengan segera bungkam karena sang kakak sudah buka suara. "Erys juga, makan jangan banyak omong nanti tersedak." Kini gantian Erys yang mendapat wejangan.

Fall ApartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang