41. Somethin' Stupid

337 19 3
                                        

Erys memandang jalanan dari gedung The Royal Marsden Hospital dengan gamang. Tangannya menggenggam ponsel dengan erat sesekali helaan napas lelah keluar dari mulutnya.

Selalu seperti itu saat mendengar kabar dari Indonesia. Hatinya akan menjadi berat dengan banyak pikiran memenuhi kepalanya. Tidak pernah tenang dan selalu cemas, tidak ada pilihan yang tidak membuatnya cemas. Tetapi memilih pilihan lain diantara lainnya, tetap membuat cemas.

"Aku gak papa di sini sama mama sendiri—" suara Aidan terdengar dari belakangnya lalu sosoknya menyentuh rambut Erys pelan. "Kalau kamu cemas den—"

"Nope." Erys membalikkan badannya lalu tersenyum tipis. "Aku cuma cemas, lagipula di sana ramai sedangkan di sini cuma ada Tante sama Ai. Katanya Ai harus selalu semangat dan karena aku orangnya happy virus jadi harusnya aku stay di sini." Ujar Erys dengan senyuman yang perlahan melebar.

Aidan tersenyum, "Erys sekali. Keras kepala." Gumamnya sembari menyentil dahi Erys pelan.

"You know me so well, Ai. Kalau kata Kaivan sih aku cegil alis cewek gila."

Omong-omong Kaivan, sudah hampir tiga minggu Erys di sini, sepupunya itu belum menghubungi sama sekali. Entahlah, Erys hanya merasa Kaivan mungkin sekarang sebal padanya yang pergi tanpa pamit.

"Ah, Kaivan ya? Dia satu minggu ini sering telepon," Aidan menarik tangan Erys agar duduk di sofa. Tante Airin sedang tidur di Apartement Aidan, Erys yang memaksa karena tubuh Tante Airin akhir-akhir ini melemas.

"Oh ya? Dia bahkan gak telepon aku sama sekali." Erys mencebik.

Aidan terkekeh melihat Erys, "dia kesal karena rencana liburan kalian batal. Mungkin."

"Jangan bilang begitu," Erys menatap Aidan, "dia cuma kesal karena gak aku ajak. Palingan juga dia bakal nyusul bareng Om Ale."

"Kamu tahu? Dia memang bilang begitu," ucap Aidan menunjukkan bukti percakapan pesannya dengan Kaivan yang mengatakan akan ikut Ale beberapa hari lagi.

"Ketebak, tujuan utama dia memang liburan. Ai jangan percaya kalau dia ngomong macam-macam."

Keduanya lalu terkekeh bersama membuat suasana menjadi lebih hangat. Aidan menatap Erys dengan hangat begitupun sebaliknya dan suasana perlahan berubah lebih intim.

Tubuh Aidan semakin maju, tatapannya mengunci mata Erys dengan dalam. Bibirnya mengulas senyum tipis yang amat manis. Erys yang diperhatikan merasa berdebar, lalu saat wajah keduanya semakin mendekat. Tanpa sadar Erys mengalihkan pandangannya dan mengerjap.

Sekelebat saja, wajah Eros yang sendu melewati pikirannya. Tanpa ada persiapan, Erys merasa ada sesuatu yang menahannya dan itu berbentuk bayangan Eros yang berwajah sendu. Seolah jika Erys menerima perlakuan intim Aidan, Eros yang berwajah sendu akan hancur. Dan Erys jadi tanpa sadar menghindar.

"Maaf." Aidan menarik dirinya lalu terkekeh, wajahnya sontak memerah. Tidak berani menatap Erys.

Erys menatap Aidan dengan pikiran gamang. Perasaanya bercampur aduk, tetapi dia lega sesuatu. Wajah Aidan, tidak tampak sesakit tiga minggu lalu. Lalu dengan kesadaran penuh, Erys membawa tangannya mengelus pipi Aidan pelan. "Kalau aku sakit terus berat badanku turun, Ai selalu nyubit pipiku sambil ngomel." Erys juga jadi teringat pada Eros yang pipinya sudah lebih penuh.

Aidan menangkap tangan Erys di pipinya. "Ai jadi sadar... kalau kamu emang calon istri yang baik."

***

Kaivan membawa kopernya mendekati pintu kamar. Besok dia akan terbang ke London bersama Ale untuk menjenguk Aidan. Dan tentu saja menemui Erys.

Aidan adalah teman baiknya sejak kecil, dia tahu bagaimana hubungan Erys dan Aidan yang dekat. Bahkan perasaan bertahun Erys pada Aidan, tentu Kaivan yang paling mengerti. Dan dia juga cukup mengerti, perasaan Aidan pada Erys bukan jenis perasaan antara wanita dan pria biasa. Terkadang Aidan terlihat menyukai Erys, terkadang terlihat hanya menganggapnya sebagai adik.

Fall ApartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang