Ada yang mengatakan, jangan jatuh cinta kalau tidak mau sakit hati karena jatuh cinta dan sakit hati, lebih banyak menjadi satu paket. Ada juga yang mengatakan, kalau mencintainya jangan sepenuh hati—secukupnya tetapi pas—karena yang sepenuh hati jika terluka maka kehancuranlah yang menjadi akhirnya.
Erys pernah jatuh cinta dan masih jatuh cinta, pada Aidan. Sosok yang sempurna di mata Erys, yang selalu menjadi mimpi terbesar Erys dan selalu menjadi nama yang Erys panjatkan saay berdoa. Aidan tidak pernah memberikan penolakan, tetapi Erys juga tidak tahu bagaimana perasaan Aidan padanya. Jika sayang, Erys yakin Aidan sangat menyayangi tetapi cinta? Entahlah, Erys selalu berharap jika itu memang cinta.
Lalu ada Eros, yang tidak pernah Erys duga. Sepupu yang selalu ada untuknya lalu memilih menjauh hingga menjadi asing saat kemalangan menimpa mereka, yang selalu memberikan seluruh perhatiannya pada Erys dan baru Erys sadari jika Eros mencintainya dengan segenap jiwa. Erys terkadang sedih melihat Eros yang asing, doanya agar Eros kembali menjadi kakak sepupunya dulu yang selalu menyayanginya. Tetapi lihatlah lelaki itu, lelaki yang pernah Erys katakan jangan mencintai seseorang seratus persen, lelaki yang kini tersenyum lebar pada Erys.
"Temanku mau kesini, gak malu?" Erys membiarkan Eros berjalan menghampirinya lalu memeluk Erys lembut. "Kakak kan pemalu."
Eros terkekeh kecil, "Kai ikut. Kakak mau tahu gimana kalau kamu kumpul dengan temanmu," Eros memberikan alasan uang Erys yakin hanya mengada-ada, bilang saja tidak bisa sehari tidak melihatnya. Duh, tatapan Eros yang penuh rindu padahal baru saja tadi pagi saling bertemu membuat Erys hanya bisa menggaruk pelipisnya.
"Paling bergosip," Erys mempersilahkan Eros duduk di kursi taman, biasanya Erys dan teman-temannya memilih duduk di gazebo. "Bawa kerjaan?" Tanyanya yang baru sadar Eros membawa tas laptop.
Eros menganggukkan kepalanya, "biar gak gabut." Jawabnya sembari tersenyum.
"Dih? Tau-tauan banget pakai kata gabut." Erys tertawa. Mana pernah Erys mendengar kata-kata seperti itu keluar dari mulut Eros.
"Kan kamu yang ngajarin," bisik Eros sembari mencuri kecupan di pipi Erys. Biar Erys beritahu, semua love language diborong Eros semua, seringnya sih physical touch dan act of service. Kadang-kadang words of affirmation padahal Eros yang Erys lihat adalah lelaki dingin irit bicara. Tidak tahu saja Erys jika Eros hanya banyak bicara jika di depannya, lebih daripada di depan orang tuanya.
"Nanti pake headphone aja ya? Biasanya aku sama teman-teman itu berisik banget," lebih tepatnya, Erys belum menceritakan hubungan ini pada teman-temannya. Bukannya tidak mau, memang tidak sempat juga. Bisa bahaya jika temannya berbicara macam-macam.
"Gak papa," Eros menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Aduh, Erys tidak yakin kalau nanti pembicaraan tidak melebar kemana-mana. Apalagi Erys dan teman-temannya adalah wanita pada umumnya, suka pembahasan yang meloncat-loncat. Dan ternyata ketakutan Erys berdasar.
"Kak Eros tambah hot aja," Myra menatap penuh minat pada Eros, suaranya juga normal seolah yang dibicarakan tidak berada lima langkah darinya.
"Kai di kampus gagah, kalau di rumah lucu banget." Kini Vera yang memandang Kaivan dengan mata berbinar. "Dia tahu gak sih gue naksir berat?" Vera berbisik pada Erys yang sibuk ngemil.
Erys mengendikkan bahunya, "mana gue tahu."
"Lagipula mana mau dia sama lo," Gladys melemparkan kulit kacang pada Vera. "Lo mah playgirl, segala cowok ganteng lo sukain."
Erys tertawa mendengar itu begitupun Myra. "Di prodi gue gak ada yang seganteng itu," Myra berada di prodi yang mayoritas berisi perempuan pun menyeletuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall Apart
Aktuelle LiteraturSequel of Fall in Love Eros Kalnandra Nararya Adam mengenal Erys Serapina Adam bahkan sejak Erys masih dalam kandungan tantenya. Nama Erys pun pilihan Eros, mereka sedekat nadi dan tidak terpisahkan walau bahkan oleh jarak umur yang terpaut jauh. Ba...
