34. Face The Music

368 26 0
                                        

Ada kalanya menghadapi Eros tidak mudah, suatu waktu Eros muncul dengan wajah lelah penuh tekanan tetapi hanya dengan memeluknya atau kebersamaan mereka—raut bahagia Eros langsung muncul. Atau saat Aidan muncul tiba-tiba dalam bentuk panggilan telepon, Eros selalu menatapnya seolah Erys akan hilang begitu saja jika tidak Eros dekap dengan kuat maka dari itu Erys merasakan pelukan Eros terlalu kuat dan sesak.

Sebenarnya selama ini, Erys bukan berusaha menerima cinta Eros tetapi Erys berusaha memahami Eros. Setelah banyak waktu yang mereka habiskan berdua—setiap hari Eros selalu mendatangi Erys— maka semakin sadar pula Erys jika Eros tidak lengkap. Walaupun selalu berusaha menampilkan diri baik-baik, terkadang ketakutan dan luka itu hadir di mata Eros.

Sikap posesif Eros juga semakin menjadi hingga terkedang membuat Erys lelah, dia jiwa yang bebas tentu tidak bisa bergerak sesukanya membuat Erys lelah. Tetapi saat melihat bagaimana Eros menatapnya dengan netra itu, rasa lelahnya langsung meluap. Erys tidak tahu apakah Eros masih rutin konsultasi pada Om Ale atau sudah tidak, karena jika menyangkut tentang masalah kesehatannya maka Eros berubah menjadi Eros yang tertutup.

Jika sudah begitu, mereka hanya akan diam duduk bersisihan. Memperhatikan bagaimana raut Eros atau bagaimana tiba-tiba muncul keringat sebesar biji jagung. Kalau sudah begitu, Erys langsung memeluk Eros erat, mendengarkan detak jantungnya yang bertalu hingga berangsur tenang kembali namun akan berubah kencang lagi saat menatap Erys—dengan pipi yang agak memerah. Entah kenapa, menurut Erys sekarang, Eros lucu sekali. Gampang blushing, salah tingkah, dan tingkah manis lainnya. Sangat berkebalikan dengan Eros yang Erys kenal beberapa tahun kebelakang.

Kali ini pun Erys ingin mencoba melihat batas Eros, sebelum dia mengobrol dengan Om Ale.

"Aku kan udah bisa naik mobil, udah punya SIM juga." Erys memulai, menilai reaksi awal Eros yang langsung menegang seolah tahu apa yang Erys inginkan. "Nah kata temen-temen aku juga udah pro, Kak Eros kan pernah bilang aku boleh naik mobil nih kemarin. Sekarang gimana?"

"Boleh ya?"

Eros menggelengkan kepalanya, menolak menatap Erys juga.

"Kak Eros," Erys membawa tangannya untuk menyentuh kedua pipi Eros, mengarahkan untuk menatapnya yang sedang tersenyum. "Percaya deh, aku bakal hati-hati. Kak Eros bisa ikut aku terus rasakan, aku udah handal kok. Kan kakak udah janji juga kemarin."

"Kalau kamu sudah hati-hati apa orang lain juga?" Eros menatap Erys dengan pupil mata mengecil disertai keringat dingin yang keluar pelan-pelan di pelipisnya. Dia hanya berbicara saja, tidak benar-benar rela membiarkan Erys menyetir.

Om Ale memang tidak memberitahunya mengenai penyakit Eros, tetapi Om Ale selama ini menjadi guide-nya. Tidak masalah meminta Eros menghadapi traumanya naik mobil, tetapi pelan dan hati-hati.

"Gak ada apa-apa nanti, kita belajar naik di bangku depan dulu?"

"No." Eros bangkit dari duduknya, tampak berjalan sempoyongan dengan badan bergetar ke dalam kamar. Erys bangkit mengikuti Eros yang terserang panic attack. Erys sadar ini pasti susah apalagi psikologi sama sekali bukan basicnya.

Merengkuh tubuh Eros yang masih bergetar, Erys memaksa Eros menatapnya. "Sorry, maaf Kak Eros. Sekarang tatap aku—" Erys membawa netra Eros menatapnya. Terlihat jelas sekali wajah Eros yang pucat.

Eros tidak bisa fokus, kilasan-kilasan bagaimana mobil mereka terhantam dari samping kiri—tempat duduk Erys—lalu bagaimana mobil berguling dan Erys yang berlumuran darah memenuhi pikirannya. "S-sakit... sakit. T-tolong Erys, tolong." Gumamnya tidak sadar.

"Hei, aku di sini. Aku baik-baik aja. Kak Eros dengar aku." Erys berusaha mengembalikan kesadaran Eros. Hanya dengan kata-kata tidak mempan, Erys memilih mengecup sudut bibir Eros. "Look at me. Just look at me."

Fall ApartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang