33. ¿quién es su padre?

2.3K 88 4
                                    

windi tergagu sejenak melihat rolan, anaknya
tumbuh baik tanpanya bahkan, windi pikir
rolan akan menjadi gelandangan atau semacam
nyaa, namun windi salah, di hari ini, rolanlah
yang dengan sendiri menghadap windi tanpa
harus terus windi cari lagi

" who are you, mama? " rolan ucap lambat
dikata mama, suara serak ditekan itu membuat
windi naik bulu, bukan hanya fisik yang tumbuh
tetapi bagian dalam rolan juga berbeda, suara
nya membuat windi meremang, mata sayu
rolan menatap windi berkaca, kebencian
dan kerinduan menjadi satu saat ini

" kamu nguping, dasar anak haram. " windi
angkat tangan menampar rolan, tidak rolan
elak, rolan tahan tamparan windi yang tidak
kencang lagi dari beberapa tahun lalu

" kalau rolan ga nguping, rolan ga akan
tau kalau alberto bukan papa rolan " windi
tersenyum miring

" bagus kalau kamu udah tahu, kamu harus
tau rasa gimana ga ada orang yang peduli
sama hadirnya kamu, rolan rolan.." windi
berdecak wanita itu membuat ekspresi kasihan
untuk rolan tetapi rolan tanggapi acuh, sebenar
nya windi tau ayah kandung rolan, tetapi windi
lebih memilih menjebak alberto di banding
ayah kandung rolan sendiri yang dimana
sudah beristri dan hamil juga disaat itu,
sumpah, windi cinta mati terhadap alberto.

jangan tanya bagaimana kegilaan windi
saat mencintai alberto, bahkan saat hamil
rolan yang jelas jelas bukan anak alberto
windi malah memaksa keras agar alberto
mau bertanggung jawab, sempat hendak
mau bunuh diri dan sudah menusuk nadi
nya di tengah malam, paksa yang lain harus
membawa windi kerumah sakit

" ma, kalau rolan bisa milih, rolan juga ga
minta dilahirin. " ungkap rolan datar

" JANGAN BERANI KAMU SEBUT SAYA
MAMA DENGAN MULUT HARAM KAMU,
SAYA GA SUDI!! " windi tolak kuat rolan,
betapa jijik dan tidak sukanya windi dengan
anaknya sendiri

" gue juga ga sudi punya ibu kaya lo, serakah,
lonte gladakan, kerjanya nguras harta orang,
gatau malu lo sialan, ibu setan, biadap, kalau
gue haram, lo lebih haram tolol! " rolan geram,
pria itu tekan kata perkata yang keluar dari
bibirnya, rolan semakin kesal dibuat windi.

" ibu kaya lo pantesnya mati, mana ada surga
di bawah telapak kaki ibu kaya lo, lonte haram. "
begitu lantang rolan berucap sungguh muak
dengan wajah yang terbayang selalu dalam
mimpi buruk nya, datang tanpa diundang

windi menarik nafas marah, windi tampar
rolan terus menerus tanpa henti kanan dan
kiri dengan sekuat tenaga hingga kedua pipi
anaknya memerah padam, sedang Alberto
tidak tahu harus apa, orang yang disebut
ayah selama ini hanya diam tanpa mau
ikut campur, biar lah rolan turun tangan
setelah bertahun tahun berlalu windi pergi
meninggalkan nya sendiri didunia ini

" ANAK SIALAN, GARA GARA NENEK
KAMU SAYA MELAHIRKAN KAMU, KALAU
BEGINI SAYA MEMILIH UNTUK TIDAK
MENGADAKAN KAMU DIDUNIA.." saat windi
hendak kembali menampar dengan cepat
rolan tangkap tangan ibunya, diri rolan
genggam kuat hingga pergelangan windi
terasa sedikit sakit

" LEPAS, LEPAS SAYA BILANG, SAYA GA
SUDI DI SENTUH SAMA ANAK HARAM!! "
histeris windi, tanpa aba aba rolan buang
kasar tangan ibunya dimana windi langsung
mengaduh sakit atas perilaku rolan

drama queen sekali.

" inget ya kamu, kamu bakalan nyesel dan
durhaka sama saya, anak kurang ajar.."
rolan mengacak pelan rambut nya sendiri,
windi yang melihat rolan tertawa pelan pun
terpelongo, apa yang lucu?

" gue durhaka? sama lo? haha.." terbit dalam
lesung pipit pria itu saat tertawa keras, betapa
lucu ucapan yang windi lontar seakan mendoa
kan rolan yang tidak baik seperti ibu pada umum
nya yang mengutuk anak mereka sebagai
anak durhaka kepada orang tua

L A M E R O Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang