aresa datang menjemput sena dirumah sakit,
rolan sedari di mobil sudah tidak sadarkan
diri dan sampai pukul 1.09 dini juga belum
kunjung sadar, dengan enaknya pria itu
tertidur setelah bertanya polos kepada
sena bahwa bagaimana pendapat sena
tentang isi hati rolan yang rolan ucap
dengan keadaan menggigil lemassaat sudah mendapati aresa di depan
pintu, sena yang awalnya duduk menatap
rolan dari arah sofa pun kini berdiri dari
duduknya, tidak lupa sena bawa jaket
kulit rolan yang sudah terlepas dari
pria itu menyisakan kaos putih, sena
pakai untuk menutupi pakaiannya yang
terbuka berhubung juga cuaca malam
ini semakin berangin dingin, niat sena
malam ini menemani rolan namun
aresa bilang sheela membutuhkan
sena " makasih ya resa udah repot repot
jemput aku kerumah sakit malem malem "
aresa menganggukkan kepala" sama sama nala.." nala lagi nala lagi, dari
nama panjang sena mengapa harus nala,
kalau rolan dengar lagi aresa memanggil
sena dengan sebutan nala maka entahlah
pasti pria yang terbaring tenang di brangkar
itu akan mengamuk—————
" lan, maaf, seharusnya aku lebih lagi
merhatiin kamu.." ferasa genggam jari
jemari rolan tetapi pria itu singkirkan
pelan, menolak genggaman ferasa,
rolan sedari bangun sudah mendapati
ferasa, padahal pria itu sangat berharap
bahwa sena lah yang ada di sisinya
saat pertama kali bangun dari tidurtatapan rolan tidak lepas dari jendela
yang angin pagi nya masuk seliuran
menerbangkan kain gorden yang ada
" kamu kenapa cuekin aku lan, kan aku
udah minta maaf sama kamu " rolan acuh,
pria itu lebih memilih menatap birunya
langit pagi ini di banding mendengar
ferasa mendrama" pergi sebelum gue usir ferasa! " tegas
pria itu tanpa menatap ferasa sedikit pun,
ferasa dengan berat hati pun bangun dan
pergi meninggalkan ruang rawat rolan,
saat keluar tidak lupa prempuan itu banting
kuat pintu ruangan rolan, rolan pun
menerima itu dengan mata terpejamferasa yang dua tahun lalu dan ferasa
sekarang sangat jauh perbedaannya, ferasa
yang rolan kenal tidak pernah berkata
kasar bahkan tidak pernah cemberut juga
ambekan, prempuan yang sangat rolan
cinta dulu sifatnya sangat berbanding
balik dari yang sekarang—————
seorang prempuan berjalan mondar mandir
dengan putung rokok di selipan jemarinya,
sesekali wanita itu tariki rambutnya sendiri
bagai orang frustasi akan satu hal, wajah
wanita itu tampak kesal, dan balkon kamar
di lantai atas menjadi tempat singgahanwanita itu mengeluarkan ponsel dari saku
rok mininya sembari menyesap rokok
risau, sudah kesekian kali wanita itu
menelpon nomor yang sama namun
tidak ada balasan, terus menerus pula
dirinya coba dan pada akhirnya terjawab" sial, ma, aku ga mau ngelakuin ini lagi. "
tuturnya kesal, wanita itu buang asap
rokoknya ke udara yang lewat" febiela, kamu satu satunya orang yang
bisa mama minta tolong, jadi tolong mama.."
suara di seberang sana juga ikut merasa
risau, makanya sebisa mungkin dirinya
pastikan bahwa semua baik baik saja
hanya sampai semua selesaifebiela tanalira, saudari kembar ferasa,
ferasa gealina, belahan jiwa dan hidup rolan." febiela ga mau ma, dia kasar, febi gasuka,
febi ga mau lagi ketemu rolan. " febi teramat
bersikeras tidak mau lagi melakukan tipu
daya ini, tolong, biarkan febi menyerah" febi, kamu mau ferasa ga tenang?! "
mengeras tegas suara dibalik telepon,
diana, ibu fera dan febi—" ma, mama bisa ga sih jangan nuntut
aku buat hal ga jelas ini, aku ga mau,
lagian mama ngelakuin ini buat apa?? "
febi menggigit gigit kuku jari nya tergesa,
tidak tenang, putung rokoknya febi buang
jauh melewati pembatas balkon

KAMU SEDANG MEMBACA
L A M E R O
Teen FictionWARNINGS AREA 21+ 🚫 KONFLIK BERAT !!! ----- Lelaki miskin, rolan lamero degore, anak haram dari dua sepasang manusia, rolan, lelaki bajingan berotak buntu, kehidupan nya yang miskin tidak dapat menghalangi nya dari kegiatan bejat sehari harinya...