ponsel disaku rolan berdering, pria itu sedari
tadi sudah pulang kerumah bahkan sudah
berganti pakaian dengan baju santai" lan, bu wati tadi pagi nyari lo, mau nagih
uang kontrakan katanya. " beritahu adandi
kepada rolan, tadi pagi sebelum berangkat
adandi mau menjemput rolan, ternyata
rumah pria itu sunyi, dan adandi membatin
bahwa temannya itu pergi sekolah lebih
awal dari biasanya.sedikit tentang sekolah, rolan itu walau
nakal tetap mendapat rangking, satu atau
pun tiga dan dua pasti pria itu selalu
menduduki yang teratas, berhubung dikelas
banyak murid yang kurang pandai dan
banyak murid yang jarang masuk sekolah,
rolan sering masuk, rajin mengikuti upacara,
dan jarang dikenakan sangsing oleh anggota
osis makanya sena sulit menggapai rolan,
nakal rolan bisa dikatakan banyak berkelahipakaian rolan termasuk rapi, walau dengan
rambut acak acakan dan seragam kusut tapi
pria itu masih saja memancarkan aura
ketampanan yang hakikiitu saja.
rolan yang mendengar adandi dari balik
ponsel pun menghela nafas sembari
memijat pangkal hidung " kalau memang
ga ada pake uang gue aja, gausah ganti. "
ucap adandi lagi seakan tahu situasi rolan
saat ini yang jarang pergi ke door pencucian
atau ke bengkel untuk bekerja seperti biasa" gausah dan, gue bisa. " rolan mematikan
teleponnya, sudah sedari rolan pulang
pria itu menunggu sena, namun tetapi
sena belum sama sekali menampakkan
batang hidung nya, tidak lama ponsel
rolan kembali berdering dan rolan pun
berdecak, pasti bu Wati, pemilik rumah.namun pria itu salah—
" halo den.." itu suara kang liyas, penjaga
pagar rumah ayah asuh rolan" kenapa kang? " jawab rolan datar
" anu den, tuan meninggal. " rolan memejam,
pria itu meramas rambutnya kuat, kepala
rolan berdenyut saat mendengar kabar dari
penjaga gerbang alberto, rolan tidak
menyangkal pria itu merasa sedih saat
orang yang sempat rolan kira ayah kandung
nya itu meninggal dunia " den? " panggil
liyas di seberang telpon" iya, saya kesana kang.." telepon terputus,
ada rasa menyesal jauh di lubuk hati rolan,
tempo hari pria itu memaki dan memukul
alberto, ada rasa tidak menyangka, dan
bagaimana ini, hati rolan nyeri.mendadak air mata jatuh begitu saja dari
pelupuk mata rolan, dan bulu mata yang
memayungi mata cantik itu meluruh jatuh
diikuti pejaman mata pria itu, maaf, hanya
itu yang dapat rolan lirihkan, pria itu
menjatuhkan air mata tetapi wajahnya
tidak berekspresi kecuali datarpria itu bangun dari duduknya, rolan
memasuki kamar, memakai sarung dan
baju kaus oblong berwarna putih setelah
selesai rolan keluar dan sena sudah ada
diruang tamu, yang awalnya wanita itu
mau memasuki kamar tetapi melihat
rolan yang baru keluar dengan penampilan
yang berbeda dan rolan balas menatap
sena " baru inget pulang? " sena
membuka korsetnya serta seragam
sekolah, menyisakan bra dan rok
selutut " tadi aku diajak duduk bentar
sama renna.." rolan tidak luput dengan
penggerakan sena, sedari wanita itu
sibuk membuka korset dan seragam kini
beralih membuka roknya, bagian tubuh
wanita itu semua membengkak termasuk
buah dada sena, kaki." alih alih renna, delone? " tambah rolan
cepat " rolan kamu apa sih. " kesal sena" ayah gue meninggal—" rolan
" APA, AYAH AKU MENINGGAL?! " kejut
sena, pria ini melantur, perasaan tadi
pagi ferhat baik baik saja deh." ayah asuh gue naa.." perjelas rolan
bernada malas, lagian bukan mendengar
sampai habis, tapi tidak salah sih, kan ayah
kandung rolan ayah sena, jadi ya gitu,
berhubung sena tidak mengenal albertosusah memang kalau banyak ayah, asekk~
————
dan disini lah mereka, gala, ferasa, ferhat
dan juga thea, rolan duduk di dekat raga
alberto yang sudah dimandikan, dikafankan.
namun belum di shalati, pria itu berbisik
pelan " pa, maafin rolan, makasih ya pa
untuk semuanya, walau papa tau kalau
rolan bukan anak papa tapi papa tetap
baik sama aku.." rolan seka air matanya
secara kasar, tidak bohong, pria itu
sayang kepada ayah asuhnya, sangat.rolan pun bangkit, pria itu pindah duduk
paling belakang, tidak lama pria itu duduk
kang liyas mengantar sebuah amplop
dan menyodorkannya kearah rolan
" ini den, tuan nitip ini ke aden.."
serah kang liyas yang rolan ambil
bingung, tidak lama sena datang dan
duduk disamping suaminya" tuan udah sakit selama dua hari den,
jantungnya kumat waktu den rolan pulang
di hari sehabis aden marah marah sama
tuan, akang teh mau menyampaikan, tapi
kata tuan jangan, tuan bilang takutnya
merepotkan atau menyusahkan aden.."
rolan yang mendengar itu pun memilih
meremas kain sarung yang dirinya kenakan,
pria itu ramas kuat hingga mengusut dibawah
tangannya, sena yang berada disamping
rolan pun menggenggam tangan pria itu
sembari tersenyum kearah kang liyas" akang pamit den. " liyas mengundurkan
diri dari hadapan rolan, rolan benar benar
membutuhkan waktu untuk mencerna
semua ini " oh Iya den, selebihnya ada
diruang kerja tuan alberto " beritahu
liyas " kang, makasih ya. " liyas pun
mengangguk " sama sama atuh den "
lalu liyas pun benar benar pergi dari
pandangan rolan dan hanya menyisakan
sena di dekat rolanrolan bangkit, pria itu melepas genggaman
sena secara kasar tetapi sena hanya dapat
menghela nafas, sudah terbiasa.—————
sena menaiki satu persatu tangga untuk
menuju lantai atas, wanita itu berjalan
pelan dengan perutnya yang sudah
begah, sulit.sena mau melihat rolan dimana, wanita itu
di suruh thea untuk menyuruh rolan turun
dan makan terlebih dahulu agar perut
pria itu tidak kosong setidaknya jika
tidak mau memakan nasi makan sepotong
roti dan meminum apa pun itu akan mengisi
perut rolan, cukup berlarut larutnya.sena terlebih dahulu mengambil arah kiri
wanita itu menyusuri mencari ruangan
alberto, entah mengapa sena yakin rolan
disana tapi setelah menyusuri lorong kiri
sena tidak menjumpai lalu langkah sena
berjalan menyusuri lorong kanan danketemu.
saat sena membuka pintu hati sena
mendadak di hantam batu besar, bukan
hanya hati namun tubuh sena juga, wanita
itu melemas dengan kaki dan tangan yang
menjadi kaku dalam satu waktupemandangan didepan sena sungguh sangat
menyayat hati, rolan pria itu mencium
nafsu bibir ferasa, sepertinya mereka akan
bercinta kalau sena datang lebih telat lagisialan, dasar buaya kubangan.
sena buka pintu ruangan itu lebih lebar,
sena tidak bersuara sampai rolan melihat
sena dengan keterkejutan pria itusena masuk, wanita itu tampar rolan
lalu mencekik kuat batang leher pria itu
walau leher rolan lebih besar dari pada
tangan sena tetapi itu tidak dapat
menghalangi sena untuk menekan
leher rolan marah " KELUAR! " usul
sena terhadap ferasa namun prempuan
itu masih pada tempatnya, baju rolan
sudah tidak menempel di tubuh pria itu
melainkan di lantai dan baju ferasa masih
utuh namun penampilan gadis itu amat
berantakan " KELUAR GUE BILANG,
OTAK LO GA BERGUNGSI UNTUK
NGIRA KALAU ROLAN UDAH BERISTRI?! "
marah sena terhadap ferasa, wanita itu
terlalu tidak tahu diri untuk rolan ungkap
bahwa ferasa gadis baik baik" seharusnya otak lo yang harus lebih
di pahami, rolan ga cinta sama lo sena,
jadi ga seharusnya lo paksa.." sahut ferasa
geram, sena terdiam namun tidak lama
rolan menarik sena menuju kamar pria
itu yang berada di lantai iturolan hempas pergelangan tangan sena,
keduanya berada di kamar dengan pintu
tertutup " kenapa lo selalu aja ganggu
kesenangan gue na? " emosi rolanapa harus rolan tenggelamkan sena
agar hidup rolan tenang?—continued—

KAMU SEDANG MEMBACA
L A M E R O
Teen FictionWARNINGS AREA 21+ 🚫 KONFLIK BERAT !!! ----- Lelaki miskin, rolan lamero degore, anak haram dari dua sepasang manusia, rolan, lelaki bajingan berotak buntu, kehidupan nya yang miskin tidak dapat menghalangi nya dari kegiatan bejat sehari harinya...