47. dilema y sala de CCTV

1.8K 112 13
                                    

rolan berada dirumah berdua dengan ferasa,
ferasa sedari tadi misuh misuh tidak jelas,
sedang rolan hanya berdiam telentang
menatap atap plafon pada rumah, sedang
ferasa yang merasa rolan tidak memperduli
kannya pun menengadah menatap rolan
yang baringnya lebih tinggi dari ferasa

" kamu kenapa sih, kamu ga seneng aku
disini sama kamu, kita udah bebas rolan.."
ferasa membelai dada bidang rolan, tau
sendirikan kalau rolan suka bertelanjang
dada, jadi tidak heran

rolan menatap ferasa tersenyum, pria itu
belai helaian rambut ferasa " bukan gitu
Sa, hidup aku belum tenang kalau dia,
pelacur itu belum aku cerai, apa lagi
dia bawa anak aku sama dia. " aneh,
maksud rolan ini bagaimana, sena minta
cerai dirinya tentang sampai sampai sena
rolan paksa berhubungan badan agar
mereka kembali terikat, dan ini rolan
kembali mengatakan seolah olah sena
lah yang tidak mau lekang dari rolan
padahal rolan unsur pertama dari
semua pakar permasalahan ini

so funny.

rolan menarik nafas dalam lalu membuang
nya dengan perasaan gusar, bak orang yang
bosan dengan sesuatu, ferasa yang kesal
pun menepuk dada bidang rolan dengan
kekesalan " lan kamu kenapa sih.." ferasa
rasa bahwa ferasa ini objek membosankan

rolan menggeleng dan menatap ferasa
dengan seksama, bagai orang yang hilang
ingatan rolan melihat wajah ferasa bagai
melihat wajah prempuan yang menghantui
rolan dengan cinta selama ini

senala castila.

" aku baru tau kamu punya tato inisial
huruf n disini. " tunjuk ferasa tepat di
atas nadi rolan, kemudian wanita itu
tarik tangan rolan kearahnya untuk
ferasa lihat lebih jelas, dengan wajah
biasa saja rolan menatap ferasa " lan?
perasaan nama aku ga ada awalan n
deh, ini huruf apa? " bertanya tanya ferasa
dibuatnya, entah lah, rolan juga bingung

rolan memang benar menatap ferasa
namun pikiran nya berkecamuk dan suara
ferasa bagai dibawa angin, tidak terdengar.
" rolan, lan, ROLAN?! " rolan terkejut pelan,
menggelengkan kuat kepalanya guna
menyadarkan diri " kamu bener bener ya,
udah ah aku mau pulang, besok jumpa
di cafe aroa dekat sekolah kamu, aku
tunggu, liat aja kalau kamu terus ga fokus
kaya gini, aku kesel.." ferasa pergi, gadis
itu menutup pintu kamar rolan sedikit kuat
sedang rolan malah memukul kepalanya
sendiri, ada apa dengan rolan?

————

hari demi hari telah rolan lalui, hari ini hari
rabu, rolan sudah memiliki jadwal sedari
kemarin sore sudah pria itu bahas bersama
teman temannya, yaitu ingin membagi harta
peninggalan alberto sebagai bentuk sedekah
untuk panti asuhan, rumah sakit jiwa, panti
jompo, dan UNICEF.

rolan benar nyata tidak berhak atas
semua yang alberto miliki, palingan hanya
beberapa yang pria itu perlukan untuk
kehidupannya, rolan juga sedang memutar
otak untuk diri rolan habiskan kemana
ini semua, termasuk perusahaan alberto
di seluruh pelosok negera, terdiri dari
hotel, penerbangan dan perusahaan
Albert compony di pusat kota Jakarta

" lo yakin baik baik aja lan? " tian mendekat,
pasalnya sudah dari tiga hari ini rolan terlihat
tidak baik, sepertinya kondisi rolan buruk.

" gue ga perlu diperhatiin. " dosa tergelak
mendengar ungkapan rendah dari sosok
di hadapannya yang sedang memegang
kotak berisi pakaian yang baru baru

" pucet gitu udah tiga harian.." sahut adandi
yang berdiri bersandar di mobil hilux
Toyota single cabin pick up kepunyaan
rolan, pria itu beli dua hari lalu, benar benar
persiapan matang untuk mengangkuti barang
bawaan mereka, sepertinya dari pagi ini
mereka akan full seharian berkerja

" ferasa mana, ga ngikut, terus lo ga di
perhatiin gitu, kek nyuruh makan atau apa,
makin makin selera lo lan, aneh. " mereka
tau ferasa baik, lemah lembut, namun
entah mengapa gadis itu bagi mereka
kalau soal perhatian kurang, apa yang
di gamoni temannya satu ini yaa?

L A M E R O Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang