Malam itu, pecahan kamera dengan ukiran kode "Technoji" masih tergeletak di meja, menjadi pusat perhatian Hoshi, Seunghwan, Mingsun, dan Shinwa. Mingsun mengeluarkan ponselnya, mencoba mencari informasi lebih lanjut tentang perusahaan pembuat kamera CCTV.
"Technoji... Mereka salah satu perusahaan yang bergerak di bidang teknologi keamanan, salah satu produk buatan mereka adalah CCTV, sepertinya mereka cukup terkenal dan memiliki banyak klien besar," kata Mingsun membaca informasi yang dia dapatkan dari ponselnya. "Tapi ada sesuatu yang aneh. Perusahaan ini ternyata belum memiliki legalitas dan izin resmi, sehingga harus ditutup setelah beroperasi selama lima tahun."
"Kalau semua ini ada hubungannya dengan Technoji, mungkin kita sedang menghadapi sesuatu yang besar," gumam Shinwa.
"Aku rasa kita harus mulai berhati-hati karna kita tidak tahu orang gila macam apa yang kita hadapi," tambah Hoshi dengan nada serius.
Seunghan nampak khawatir. "Lalu apa hubungannya denganku?" Gumam seunghwan dalam hatinya.
Semua terdiam dan mencoba mencari informasi tentang perusahaan yang ditutup itu dengan ponsel yang mereka.
...
Di atas meja kayu kecil, Wui Bong duduk sigap memasukan mi dari dalam cup ke dalam mulutnya. Sesekali ia melirik ponselnya, seolah menunggu seseorang yang akan segera menghubunginya. Setelah itu, ia kembali menaruh ponselnya dan menyeruput kuah dari dalam cup hingga habis.
"Aihs, kenapa sangat sulit menemukan si brengsek itu!" Gerutu Wui Bong dengan wajah kesal.
Hyujin, teman satu geng Wui Bong, tampak kebingungan dengan masalah yang dihadapi temannya. "Bahkan sampai sekarang, semua kejadian itu tetap menjadi memori yang paling buruk," katanya.
Wui Bong langsung menatap Hyujin tajam. "Pikirkan saja sendiri!" Balasnya sembari melempar sumpit mi ke arah Hyujin.
"Tapi masalahnya, kenapa kasus ini muncul lagi? Padahal kejadian itu kan sudah lama berlalu!" Kata Hunjin, mencoba menganalisis situasi.
Wui Bong membenarkan yang diucapkan Hyunjin."Intinya, aku tidak berslah dan aku harus membersihkan namaku. Kalau tidak..."
"Kalau tidak, ibumu akan menguburmu ke dalam tanah sampai kau menjadi ubi." Kata Hyujin sembari tertawa menyela perkataan Wui Bong.
Wui Bong tersenyum dan langsung meninju perut Hyujin karena kesal dengan candaan itu.
...
Pagi harinya, Minhyun sudah berangkat ke sekolah dengan mengayuh sepeda sekuat tenaga. "Masih ada harapan sebelum petugas kebersihan membersihkan seluruh gedung sekolah," gumamnya dalam hati.
Matahari pagi seolah belum sepenuhnya menyinari bumi, tetapi Minhyun terus mengayuh seped hingga tiba di depan gerbang sekolah. Ia bahkan melihat Pak Ilsun, penjaga sekolah, masih tertidur di posnya.
Karena gerbang sekolah masih terkunci, Minhyun terpaksa meninggalkan sepedanya di bawah pohon, tepat di samping pagar gerbang. Ia kemudian memanjat gerbang dengan hati-hati. Beruntung, gerbang tidak terlalu tinggi sehingga ia bisa memanjatnya dengan mudah.
Setelah berhasil masuk ke dalam area sekolah, tugas berikutnya adalah menyelinap ke dalam gedung tanpa ketahuan. Minhyun menuju pos penjaga dan mencoba mengambil kunci dari saku celana Pak Ilsun dengan sangat hati-hati.
Meski jantungnya berdegup kencang, Minhyun akhirnya berhasil mengambil kunci tersebut. Ia lalu berjalan dengan mengendap agar pak Ilsun tak terbangun.
Sesampainya di depan pintu sekolah, ia segera membukanya dan masuk kedalam dengan perlahan agar tak mengeluarkan suara apapun. Suasana di dalam sekolah sangat sepi dan hening, tak ada tanda-tanda kehadiran siapa pun selain dirinya. Minhyun berjalan menyusuri lorong hingga melihat jejak sepatu berwarna cokelat yang tampak kering dan memudar jejak yang terlihat seperti sepatu yang menginjak tanah kemarin.
Ia mengikuti jejal itu yang semakin jelas, menaiki tangga jingga ke lantai dua. Di lorong lantai dua, jejak itu terus mengarah ke dalam ruang kelas B-C.
Minhyun membuka pintu kelas dengan perlahan, rasa penasaran membuncah di dadanya. Ia mengikuti jejak sepatu yang mengarah ke bangku dan berakhir di salah satu loker dengan nama Son Seunghwan. Ia langsung memotret jejak sepatu itu, namun tiba-tiba loker Seunghwan terbuka dengan sendirinya tanpa Minhyun menyentuhnya.
Deg! Jantung Minhyun serasa berhenti. Dengan langkah ragu, ia membuka loker dengan lebar. Saat matanya melihat isi loker, tubuhnya seketika lemas. Di sana, ada dua kertas merah. Kertas yang pernah ia lihat saat kematian Sejong. Ingatan kelam itu membanjiri pikirannya, membuatnya mematung di depan loker."
Namun, ketegangan itu pecah ketika tangan seseorang tiba-tiba menyentuh pundaknya.
~Bersambung~
KAMU SEDANG MEMBACA
SEUNGWAN is MINE
Fanfiction"Semangat, memiliki ambisi kuat tidak mudah menyerah untuk bertemu dengan cinta pertama" itu lah motto Seungwan seorang siswi yang tidak menjabat apa - apa, sekolah yang berpindah - pindah membuat ia menjadi pribadi yang kuat, meski ia tidak pandai...
