Setelah kejadian menyebalkan bersama cinta pertamanya, Seunghwan segera menyusul Hoshi ke kantor polisi. Ia menghentikan sebuah taksi yang melintas di depannya. Di dalam taksi, ia termenung, memikirkan sikap menyebalkan Minhyun yang masih saja tidak sadar bahwa dialah orang yang selama ini Seunghwan cari.
"Ih, menyebalkan!" serunya tiba-tiba, diiringi air mata yang perlahan mengalir di pipinya.
Taksi berhenti di depan kantor polisi. Seunghwan turun dengan cepat dan langsung menuju pintu masuk. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat Hoshi, Mingsun, dan Shinwa keluar dari kantor dengan wajah lesu. Tanpa berpikir panjang, ia berlari menghampiri mereka.
"Hoshi-ya!" panggilnya dengan nada cemas.
Hoshi yang melihat Seunghwan dari kejauhan bergumam dalam hati, "Apa yang harus kulakukan untuk melindungi Seunghwan?"
Seunghwan, yang kini berdiri di hadapan mereka dengan senyum penuh harap, bertanya, "Bagaimana? Apa kata Detektif Park? Kenapa kalian cepat sekali keluar? Ayo masuk lagi! Aku ingin mendengar siapa dalang di balik semua ini!"
Namun, Hoshi menghentikan langkah Seunghwan dan menjawab dengan tenang, "Detektif Park masih menyelidikinya."
Seunghwan mengerutkan kening, merasa bingung. "Lalu? Aku juga harus mendengar apa yang terjadi di dalam rekaman kamera itu!"
Shinwa menggelengkan kepala pelan, diikuti Mingsun yang tampak berat hati untuk berbicara.
"Kenapa kalian menggeleng seperti itu? Apa yang terjadi?" tanya Seunghwan, nada suaranya mulai menunjukkan kepanikan.
Mingsun akhirnya menjawab sambil menatap mata Seunghwan dan memegang pundaknya. "Isi kamera itu... kosong. Tidak ada apa-apa."
Hoshi segera memisahkan tangan Mingsun dari pundak Seunghwan dan menambahkan, "Ya, tidak ada jejak apa pun di kamera itu. Semua data di dalamnya sudah hilang."
Seunghwan menatap mereka dengan tidak percaya. "Aku harus mendengar sendiri dari Detektif Park!" ujarnya keras. Namun, Shinwa kembali menghalanginya.
"Percuma saja. Tidak ada yang bisa kau dapatkan sekarang, Seunghwan," kata Shinwa tegas.
Hoshi kemudian menjelaskan, "Saat ini, tim Detektif Park sedang melacak asal kamera itu. Kamera itu sangat langka dan kemungkinan bukan diproduksi di sini."
Seunghwan terdiam, mencoba mencerna informasi yang baru saja ia dengar.
"Saat ini, kita hanya bisa menunggu kabar dari pihak kepolisian," lanjut Hoshi.
"Tidak! Kita juga harus mencarinya! Aku yakin kita bisa membantu polisi menemukan jawabannya!" balas Seunghwan dengan tekad membara.
Shinwa dan Mingsun awalnya tampak ragu. Namun, karena Hoshi merasa ide itu masuk akal, mereka akhirnya mengalah dan memutuskan untuk mengikuti Seunghwan.
"Baiklah, apa yang harus kita lakukan terlebih dahulu?" tanya Hoshi sambil menatap Seunghwan.
...
Selama perjalanan pulang, Minhyun duduk termenung di kursi belakang taksi. Wajahnya masih diliputi kekesalan yang mendalam. Bukan hanya karena jebakan yang ia rancang dengan sempurna gagal total, tetapi juga karena Minjae dan Jinwo, sahabat yang selama ini selalu mendukungnya, memilih meninggalkannya begitu saja.
Namun, di balik kemarahan yang terus membakar hatinya, ada sesuatu yang lain sesuatu yang lebih lembut dan membingungkan. Tatapan itu. Tatapan Seunghwan yang terus menghantui pikirannya. Itu bukan tatapan penuh kebencian atau dendam seperti yang ia harapkan. Sebaliknya, ada kesedihan mendalam di sana, bercampur dengan kekecewaan yang sulit ia pahami.
Minhyun memejamkan matanya, mencoba mengusir bayangan Seunghwan dari pikirannya. Tapi semakin ia berusaha melupakan, semakin jelas wajah itu muncul. Bahkan kata-kata Seunghwan terngiang di telinganya, terutama kalimat yang ia lontarkan saat tangan Seunghwan mendarat di pipinya.
"Siapa dia sebenarnya?" gumam Minhyun, perlahan mengusap pipinya yang kini terasa dingin. "Tatapan itu... seolah aku mengenalnya. Tapi tidak mungkin. Tidak mungkin itu dia."
Ia membuka matanya, menatap keluar jendela taksi yang dipenuhi dengan bayangan kelabu kota. Perasaannya berkecamuk. Apakah mungkin ada sesuatu yang lebih dari sekadar musuh di antara mereka? Namun, sebelum ia bisa menemukan jawabannya, taksi berhenti di depan rumahnya.
Minhyun menarik napas dalam-dalam, mencoba menghapus kebingungan yang menyelimuti hatinya. Tapi satu hal yang pasti tatapan Seunghwan telah meninggalkan jejak yang sulit dihapus.
~Bersambung~
KAMU SEDANG MEMBACA
SEUNGWAN is MINE
Fanfiction"Semangat, memiliki ambisi kuat tidak mudah menyerah untuk bertemu dengan cinta pertama" itu lah motto Seungwan seorang siswi yang tidak menjabat apa - apa, sekolah yang berpindah - pindah membuat ia menjadi pribadi yang kuat, meski ia tidak pandai...
