"Brownis, blackforest, cappuccino, susu coklat, jus jeruk, sama ayam geprek. Itu makanan sama minuman favoritnya Alissa."
Joe yang sedang berdiri di balkon kamar untuk menikmati angin malam sehabis makan langsung menoleh ke belakang. Melihat Aditya yang sedang bersandar pada kusen pintu sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
"Ini gue saking dukung banget lo buat dapatin dia sampai nanya ke Cherissa apa aja yang disukai sama Alissa," sambung Aditya tanpa mengalihkan tatapan dari ponsel, "Gue senang lo sudah bisa move on dan cewek yang lo deketin juga kelihatan baik-baik."
Tentu saja Aditya masih harus menjadi mode pura-pura tidak mengenai 'siapa Alissa' karena tadi Joe tidak memperkenalkan perempuan itu secara detail. Jadi, Aditya menganggap Alissa baik dari foto yang diperlihatkan saat makan malam tadi.
Aditya menatap Joe dengan mata memicing penuh penghakiman, "Jangan bilang Bang Joe gak tahu lagi soal makanan favoritnya Alissa selama ngedeketin. Duh lo gimana sih Bang deketinnya."
Joe mendengkus melihat tatapan Aditya yang menghukumnya sebagai lelaki tahu apa-apa. Padahal Joe sudah sering kasih Alissa vitamin untuk menjaga kesehatannya. Joe membalikkan badan menghadap sepenuhnya Aditya, kemudian bersandar pada pagar balkon dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
"Tahu dia suka sama makanan coklat aja." Joe menggeleng, "Sisanya gak tahu soalnya dia tiap aku bawain coklat suka senang. Tapi makasih banyak buat infonya."
Aditya menyilangkan kedua tangan di depan dada, "Bang, kali ini lo harus benar-benar serius dan gercep buat dapatin Alissa. Berdasarkan informasi yang gue dapat dari Cherrisa tuh si Garash kayanya bukan lawan yang mudah."
"Abang tahu. Soalnya pas lihat dia sama Alissa bicara di rooftop waktu itu, Abang bisa merasakan kalau Garash masih berpengaruh besar di hati Alissa. Sedikit saja Abang lengah bisa jadi kesempatan buat dia balik lagi sama Alissa."
"Makanya jangan lengah mulai sekarang. Fokus nih buat deketin dia, sempatkan waktu kalau bisa buat pergi, sama yang penting jangan sampai komunikasinya jelek." Aditya mengacungkan jari telunjuknya, "Ingat yang menjadi masalah Alissa dan Garash adalah komunikasi. Berarti ini adalah peluang buat Bang Joe rebut hatinya Alissa."
Joe mengangguk paham. Terlalu asyik berada di zona nyaman sampai tidak sadar dengan rintangan yang akan menghampiri. Inilah rintangan yang harus Joe hadapin untuk mendapatkan Alissa. Jangan buang waktu seperti dulu lagi.
"Cuman gue penasaran saja sih Bang." Aditya menatap serius Joe, "Apa yang lo suka dari Alissa?"
Joe bergumam cukup lama sambil tersenyum ketika mencari tahu apa yang sebenarnya membuat ia menyukai Alissa sampai seperti ini, "Kalau Abang kasih alasan klasik percaya ga?"
"Apa itu?"
Joe dan Aditya tersentak kaget, lalu menoleh menatap Pandu yang baru datang dan ikut bersandar di kusen pintu satunya lagi. Joe terheran dengan bakat kakak dan adiknya yang suka muncul tiba-tiba.
"Apa itu Joe. Aku juga pengen tahu," ucap Pandu tidak sabar, "Cepat."
"Aku suka karena dia anggap aku sebagai Joe apa adanya. Dari dulu sampai sekarang."
Pandu dan Aditya mengangguk dengan mulut menganga. Mereka paham maksud dari ucapan Joe barusan. Benar-benar alasan sangat klasik.
"Sejak pertama ketemu sampai sekarang dia gak pernah ngelihat aku sebagai anak dari Gajendra. Padahal dia sudah tahu kalau aku tuh siapa dan dari keluarga seperti apa, tapi tatapannya ke aku gak pernah berubah." Joe tersipu malu setiap kali mengingat tatapan Alissa padanya, "Tatapan dia selalu ngelihat aku sebagai Joe yang dikenal olehnya dan lainnya yang gak bisa aku kasih tahu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Love, Maybe
RomanceDalam suatu hubungan tidak hanya ada cinta saja, tapi perhatian, pengertian, dan saling memahami pasangan merupakan bagian terpenting untuk membuat hubungan bisa terjalin dengan baik. Itulah yang dilakukan Joe Angkasa Gajendra untuk tetap bersama de...
