Bab 37

34 7 0
                                        

Mobil milik Joe berhenti di depan rumah kontrakan Alissa. Saat melepaskan sabuk pengaman, Joe melihat Alissa yang melamun. Wajahnya menunjukkan kebimbangan akan sesuatu yang tengah dipikirkan. Joe tahu apa itu. Garash.

Besok Alissa mulai kerja dan pasti bakal ketemu sama Garash di IBS. Setelah tahu apa yang terjadi, Alissa pasti bingung harus bersikap seperti apa pada lelaki itu. Pastinya rasa marah, kecewa, sampai sakit hati bakal muncul ketika melihat wajah Garash.

Apalagi usai menonton film, Joe bilang sudah waktunya untuk pulang ke Jakarta saat itu Alissa berubah. Keceriaan yang sempat menemani kebersamaan mereka seketika hilang. Alissa diam dengan wajah murung. Kedua mata perempuan itu menunjukkan ketidak siapan menghadapi sesuatu yang sedang ingin dilupakan.

Sepanjang jalan menuju Jakarta, Alissa tidak banyak bicara dan hanya melamun. Alissa akan mengeluarkan suara ketika ditanya oleh Joe. Itupun terkadang tidak ada respon atau harus dipanggil berkali-kali.

Sungguh Joe tidak tega melihatnya. Ia ingin membawa Alissa pergi ke suatu tempat yang tidak mengingatkannya pada Garash. Membiarkan perempuan itu menikmati hidupnya dengan penuh kebahagiaan tanpa rasa sakit hati sedikitpun. Joe tidak mau melihat Alissa seperti ini.

"Gimana kalau kita makan malam dulu?" tanya Joe sambil memandangi Alissa yang tengah melamun, "Bukannya kamu bilang kita bakal mulai makan malam lagi, setelah kamu pulang dari Bandung."

Lebih baik Joe ajak pergi dulu Alissa untuk makan malam sampai perasaannya bisa tenang dan siap untuk menghadapi besok. Joe yakin Alissa masih membutuhkan waktu sampai benar-benar siap bertemu dengan Garash setelah tahu semuanya. Sebaiknya tidak dibiarkan sendiri. Joe harus bersama Alissa.

Ketika Alissa menoleh dan beradu tatap. Joe lihat luka serta kekecewaan dari kedua mata perempuan itu terpancar jelas. Senyumnya yang tidak sampai ke mata membuktikan bahwa perasaannya tidak sedang baik-baik saja. Alissa seolah bertanya pada Joe kenapa kebahagiaan yang dirasakannya harus singkat.

Karena bersama dengan Joe Alissa benar-benar bisa melupakan Garash. Dapat menikmati waktu penuh kebahagiaan tanpa memikirkan rasa sakit hati yang dirasakan. Menertawakan sesuatu tanpa beban sedikitpun. Joe tidak melakukan banyak hal untuk mendekati Alissa, tapi caranya untuk meyakinkan Alissa bahwa Joe akan selalu ada bersamanya lah yang membuat perasaan Alissa tersentuh.

Selain itu, dari sekian banyak hal yang pernah dilakukan oleh Joe. Alissa benar-benar berdebar ketika Joe meneleponnya saat ia sedang sendirian di bioskop. Ketakutan Alissa kalau Joe tidak kembali hilang. Lelaki itu serius menunjukkan perasaan sukanya dan keyakinan akan selalu ada untuk Alissa.

Sudah seharusnya Alissa tidak berpikir panjang untuk membalas perasaan Joe. Toh dari awal mereka bertemu lagi di IBS, Alissa sudah merasakan tertarik pada Joe. Jadi, sebaiknya Alissa mulai memantapkan hati pada Joe dan melupakan masa lalu yang telah mengkhianatinya.

"Boleh, kebetulan aku lapar."

"Mau makan di mana? Mau aku atau kamu yang tentuin tempatnya?"

"Kang Joe," jawab Alissa sambil tersenyum tipis, "Soalnya Kang Joe suka punya rekomendasi tempat makan yang bagus."

Hal lain yang membuat Alissa tertarik pada Joe adalah tidak pernah menanyakan sesuatu mengenai apa yang terjadi kepadanya. Biasanya saat melihat perempuan sedih pasti akan ditanya alasannya, tapi Joe diam sambil memandangi Alissa. Sekalinya bertanya tentang keadaan atau perasaan Alissa, seperti 'kamu baik-baik aja' bukan 'kamu kenapa'

Saat Alissa menangisi Garash, Joe hanya menanyakan 'kamu sudah gak nangis' dan tidak pernah menanyakan penyebab. Lalu mengeluarkan kata-kata yang membuat perasaan Alissa tersentuh saat mendengarnya. Joe lebih memilih menenangkan Alissa, daripada mencari tahu alasannya. Joe tidak mau semakin melukai perasaan Alissa hanya untuk memenuhi ingin tahunya.

Love, MaybeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang