Bab 29

46 6 0
                                        

Selesai melakukan operasi transplatasi hati dan memberitahu keadaan pasien kepada walinya, Joe melangkah lemas di lorong koridor Rumah Sakit Harapan Kasih. Menatap balasan chat Alissa yang hanya dibaca olehnya.

Joe merasa ada sesuatu yang tengah dialami oleh Alissa karena perasaannya berbeda ketika mendapat balasan chat itu. Ada kegelisahan dan kekhawatiran. Joe tidak masalah jika minggu kemarin tidak bisa makan malam dengan Alissa karena perempuan itu sedang ada di rumah orang tuanya.

Namun, sekarang Joe merasa Alissa menolak untuk makan malam dengannya karena menghindarinya. Alissa tengah menyembunyikan sesuatu yang sepertinya tidak boleh diketahui oleh Joe. Hal itulah yang membuat Joe kepikiran.

"Apa terjadi sesuatu sama dia?"

Entah kenapa Joe curiga kalau Alissa mendengar ucapannya malam itu. Makanya, Alissa tidak mau makan malam dengan Joe. Padahal saat mengatakan itu Joe sudah memastikan kalau Alissa sedang tidur. Kalau memang benar Joe tidak tahu harus berbuat apa-apa.

Alissa pasti terkejut mengetahui bahwa Joe menyukainya selama ini. Pastinya membuat Alissa kebingungan. Joe baru saja bersungguh-sungguh mendekati Alissa, jangan sampai berakhir dengan cepat karena kebodohannya itu.

Joe mengatakan suka pada Alissa begitu saja ketika melihat wajah perempuan itu yang begitu tenang ketika tertidur. Dalam hatinya muncul dorongan untuk bilang suka kepada Alissa. Cuman ia tidak tahu kalau Alissa mendengarnya.

"Apa aku telepon dia aja? Buat tahu semuanya. Tapi..." Joe melirik jam yang ada di layar ponsel, "Takutnya sudah tidur atau lagi sibuk kerja."

Joe memasukkan ponselnya ke kantung baju scrub. Ia akan menelepon perempuan itu besok saja saat pagi. Meski perasaannya ingin sekali menanyakan hari ini juga, tapi Joe tahu batasan untuk tidak mengganggu Alissa di malam hari.

Joe pergi ke ruangannya untuk berganti pakaian. Joe berinisatif saat pulang nanti akan melewati IBS. Meski tidak akan bertemu Alissa, tapi setidaknya perasaan Joe bisa tenang kalau melewati kantor perempuan idamannya itu.

Usai berganti pakaian, Joe pergi ke parkiran basement. Melajukan mobilnya dari kawasan rumah sakit menuju IBS. Joe hanya akan lewat saja, walau perasaannya meminta masuk ke dalam agar bisa bertemu Alissa. Namun, Joe abaikan demi kenyamanan Alissa.

Jalanan masih ramai meski sudah jam sebelas malam. Kendaraan berbaris panjang begitu berhenti di lampu merah. Joe memandangi suasana di luar sana selama menunggu lampu merah. Tatapannya berubah tajam saat melihat Alissa sedang duduk sendirian di kafe.

"Ngapain dia di sana?"

Saat akan menelepon, Joe melihat seorang lelaki duduk di kursi depan Alissa. Tersenyum sambil menatap lekat Alissa. Joe kenal sekali lelaki itu. Garash. Tatapan Joe kembali pada Alissa yang juga tersenyum.

Tanpa sadar tangan Joe mencengkram erat stir mobil. Berusaha menahan kesal melihat Alissa yang tampak senang bersama dengan Garash. Meski tatapan dan raut wajahnya datar saat menatap Alissa, tapi Joe merasakan sakit pada hatinya. Apalagi saat melihat Garash menyampirkan jaket pada Alissa. Perasaannya semakin sakit.

"Aku lupa kalau ada masa lalu yang harus aku singkirkan dari Alissa."

Joe melajukan mobilnya begitu lampu lalu lintas berwarna hijau. Menaikkan kecepatan saat jalanan tidak terlalu padat. Tidak terkendali menjalankan mobil. Ia sedang melampiaskan kekesalannya melihat Alissa yang bersama Garash.

"Apa yang harus aku lakukan Alissa? Buat bikin kamu melupakan masa lalu kamu dan melihat aku."

Tepat saat itu, Joe menerima chat baru dari Alissa yang langsung membuatnya menempikan mobil. Joe mengambil ponsel dari car holder. Tiba-tiba saja senyumnya muncul saat membaca chat dari perempuan yang tengah dipikirkannya saat ini.

Love, MaybeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang