Bab 32

48 10 0
                                        

Joe sampai tepat di depan Thirtynine pukul 14.30 WIB dan memilih untuk diam saja di mobil sambil menunggu Alissa. Joe tidak tahu Alissa sudah ada di dalam atau masih di kampus. Joe sengaja tidak mau memberitahu perempuan itu agar tidak terkejut dan canggung. Takutnya Alissa menyangka kalau Joe mengikutinya ke Bandung.

Joe mengamati sekitar Thitynien untuk mencari tanda keberadaan Alissa di sini, tapi tidak ada apa-apa. Jadi, Joe hanya menunggu sambil menatap layar ponsel. Sesekali ia mengarahkan pandangan pada pintu kafe itu untuk meliha siapa yang masuk dan keluar.

"Aku hanya perlu memastikan saja," ucap Joe sambil menatap pintu kafe, "Alissa gak mungkin kenapa-napa. Dia pasti baik-baik saja."

Joe berusaha untuk menenangkan dirinya dari kegelisahan dan kekhawatiran soal Alissa, tapi ia tidak berani menghubungi perempuan itu. Karena mungkin apa yang didengarnya nanti dari Alissa dapat membuat perasaan Joe tidak karuan.

*****

"Jangan lupa datang ke nikahan aku, Alissa." Kenan memberikan undangan pernikahannya pada Alissa, "Datang boleh sama siapa aja. Gak ada aturan harus sama pasangan kok."

Selesai mengobrol di halaman belakang Thirtynine, Alissa berniat untuk pergi ke hotel agar bisa beristirahat. Kenan mengambil kopernya yang dari ruangan khusus pegawai kafe istirahat yang Alissa titipkan sebelum pergi ke kampus. Setelah mengambil koper, Kenan memberikan undangan pernikahannya ke Alissa.

"Apaan sih." Alissa tersenyum sambil menerima undangan dari Kenan, "Aku bakal bikin kamu kaget sama orang yang bareng aku nanti."

Kenan pura-pura terkejut, "Masa sih. Aku penasaran banget. Tolong dibawa, ya."

"Tapi jangan menyesal kalau mata istri kamu bakal lihatin dia terus."

"Tenang aja, Kamila bukan aku yang selalu belok kalau lihat yang bening."

Alissa tergelak, "Aku bilangin Kamila, ya."

"Jangan dong. Tinggal hitungan hari nih. Masa gue harus bayar pinalti sih ke WO."

"Iya deh." Alissa melirik jam tangan dipergelangan tangan kanannya, "Kenan, aku pulang ya. Aku capek banget hari ini."

"Hati-hati, ya. Maaf gak bisa anterin kamu ke hotel." Kenan melirik keadaan kafe yang mulai ramai, "Sudah banyak orang yang datang soalnya. Terus yang kerja juga cuman dikit."

"Santai aja. Aku nanti di depan pesan gocar."

"Oke."

Alissa keluar dari Thirtynine sambil menyeret koper berukuran kecil yang membawa barang-barangnya. Tepat saat itu, ia kembali merasakan kemarahan, kecewa, dan sakit hatinya masih, tapi lebih dominan dengan kehampaan. Alissa merasa bahwa semua perasaan itu tidak terlalu mempengaruhi dirinya.

Padahal seharusnya, Alissa menangis kencang saat mendengar cerita soal Garash dan Sofia dari Kenan. Seharusnya menampik dengan emosi dan tidak mempercayainya, tapi Alissa malah diam dan mendengarkan begitu saja. Alissa tidak mengerti sama perasaannya.

Tanpa Alissa ketahui kalau Joe langsung keluar dari mobil saat melihat dirinya keluar dari Thirtynine dan melangkah menuju trotoar. Hati Joe seperti teriris pisau saat melihat Alissa menunduk murung. Meski tidak melihat wajahnya secara langsung tahu, tapi Joe kalau Alissa sedang sedih.

Langkah Alissa langsung terhenti saat melihat Joe ada di hadapannya. Hati Joe semakin saat melihat Alissa yang mulai menitikkan air mata saat beradu tatap dengannya. Bahkan, dada perempuan itu naik turun karena sesak nafas. Entah apa yang telah dialami perempuan itu sampai terlihat menderita dengan kesedihannya.

"Alissa."

Joe memanggil lembut Alissa. Saat akan menghampiri, Alissa lebih dulu berlari ke arahnya sambil menangis, lalu memeluk Joe dengan erat. Tangisan itu kian kencang seolah Alissa tengah meluapkan perasaan yang dirasakan saat ini.

Love, MaybeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang