"Joe, belum balik?"
Joe yang sedang melihat rekam medis pasiennya di komputer seketika menoleh ke belakang untuk tahu siapa yang bersuara. Joe melihat Nando yang sedang berdiri di depan ruangan sambil bersandar pada kusen pintu. Tampak lelah.
"Aku gak akan pulang. Soalnya besok pagi aku jadi asistennya dokter Hendra buat operasi kanker lever," jawab Joe sambil membaca rekam medis lagi, "Terus, ada pasien yang harus aku pantau kondisinya setelah dioperasi tadi sore."
"Wah! Lo benar-benar beruntung bisa jadi asistennya beliau. Gue dengar dari orang-orang katanya dokter Hendra tuh pemilih buat jadi asistennya. Lo pake ilmu apa buat bisa jadi asistennya?"
Joe tersenyum tipis, lalu mengedikkan bahu, "Ilmu apaan. Mungkin dia percaya kalau aku bisa diandalkan buat jadi asistennya."
"Mungkin." Nando melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya menunjukkan pukul sebelas malam, "Lo sudah makan?"
"Belum, tapi aku gak lapar. Kalau mau ditemenin boleh. Kebetulan aku mau ngopi."
"Kalau gitu pesan lewat online aja. Terus kita makan sama ngopinya di sini."
"Bebas."
Nando masuk ke ruangan Joe sambil memesan makanan dan kopi. Nando duduk di kursi yang menghadap meja bundar kecil. Sesekali melirik Joe yang sedang membaca rekam medis pasien.
Begitu selesai memesan, Nando menatap penuh selidik pada Joe yang saat ini sedang memainkan ponsel. Ia merasa kalau akhir-akhir ada yang berubah dari rekannya itu. Joe lebih sering melihat ponsel sambil senyum-senyum.
Soalnya Joe tidak pernah sering lihat ponsel, kecuali ada yang penting atau keadaan darurat. Tapi, kali ini lelaki itu tidak berhenti menatap ponsel. Selalu memanfaatkan waktu yang bisa digunakan untuk memeriksa ponsel. Terkadang Joe tampak sedang menunggu sesuatu dari ponselnya yang tiba-tiba membuatnya bahagia.
"Joe, jujur deh sama gue. Lo punya pacar, ya."
Joe yang terkejut langsung memutar kursinya menghadap Nando, "Apa? Kamu ngomong apa barusan?"
Nando berdecak, "Gak usah pura-pura gak dengar deh. Jadi, siapa cewek lo?"
Joe berekspresi datar, "Gak ada."
Nando tertawa kecil. Meski Joe memasang raut datar, tapi Nando bisa melihat kegelisahan dari gerakan kedua mata rekan satu ruangannya itu. Joe sedang salah tingkah dan gugup. Nando menggeleng sambil menyeringai.
"Joe, gue sama lo sudah temanan dari zaman koas. Jadi, gue tahu kalau sekarang lo lagi bohong." Nando menggeleng sambil tersenyum senang, "Lagi pula, kenapa harus ditutupin sih?"
Joe tersenyum sambil mengusap tengkuknya karena gugup, "Sorry bukan gak mau kasih tahu. Cuman aku sama dia belum pasti aja hubungannya."
"Kenapa?"
"Karena dia belum bisa ngelupain cowok masa lalunya. Jadi, agak sulit buat ngedeketin dia." Joe menyandarkan punggungnya ke kursi dengan muka murung, "Apalagi sekarang cowoknya satu kantor sama dia."
"Selama mereka gak punya hubungan apa-apa, kalau menurut gue gas aja sih. Lihatin perasaan lo yang sebenarnya ke dia."
"Sudah, tapi emang sulit aja."
"Kalau gitu lo bisa manfaatin hari valentine besok. Kasih dia hadiah yang bagus."
Sebenarnya, Joe sudah memikirkan itu. Ia sempat membuat rencana untuk mengajak Alissa makan malam bersama dan memberikan hadiah spesial. Hanya saja Joe yakin kalau Alissa sudah mempunyai janji dengan Garash untuk merayakan valentine besok. Selain itu, Garash juga pasti memanfaatkan valentine untuk bisa memperbaiki hubungan dengan Alissa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love, Maybe
RomanceDalam suatu hubungan tidak hanya ada cinta saja, tapi perhatian, pengertian, dan saling memahami pasangan merupakan bagian terpenting untuk membuat hubungan bisa terjalin dengan baik. Itulah yang dilakukan Joe Angkasa Gajendra untuk tetap bersama de...
