Bab 41

55 8 0
                                        

Joe yang sedang berdiri di depan cermin tidak bisa menyembunyikan senyum bahagia karena akan memberikan kejutan valentine kepada Alissa malam ini. Ia terus membayangkan momen-momen indah yang akan dihabiskan bersama dengan sang pujaan. Meski entah semua itu akan terjadi atau tidak karena Joe tidak mengetahui apakah Alissa punya janji atau tidak dengan Garash untuk merayakan valentine.

Namun, yang pasti Joe yakin kalau apa yang dilakukannya ini tidak akan berakhir sia-sia. Lebih baik ia mencoba daripada tidak sama sekali. Mengenai hasil yang akan didapatkan itu urusan nanti. Yang terpenting ada usaha dulu.

Joe kembali memeriksa penampilannya yang mengenakan kemeja hitam yang dipadukan dengan celana putih. Untuk menarik perhatian Alissa, Joe sengaja melipat bagian lengan kemeja sampai siku. Ia iseng mencari di internet kalau perempuan suka sekali dengan lelaki yang lengan kemejanya dilipat sama siku.

Selain itu, Joe tidak ingin mengecewakan Alissa. Maka dari itu, Joe harus berpenampilan rapih. Ya, walaupun tidak bisa dipungkiri kalau wajah lelah dan kurang istirahat masih terlihat jelas. Padahal Joe sudah tidur cukup tadi.

Joe melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kiri, "Sudah waktunya aku pergi."

Joe mengambil parfum dari atas meja rias, lalu menyemprotkan pada kemeja, leher, dan pergelangan tangan. Kemudian, mengambil kunci mobil dari atas meja belajar setelah memastikan penampilannya benar-benar rapih. Setelah itu, Joe pergi dari apartemen menuju IBS.

Tidak lupa, Joe mampir ke toko bunga yang ada di dekat apartemen untuk membeli buket bunga yang akan dipersembahkan kepada Alissa. Joe melirik paper bag berwarna hijau dan putih yang ada di kursi penumpang sampingnya. Senyum Joe terbit melihat semua persiapan valentine untuk Alissa sudah siap.

Cuman masih ada satu persiapan yang belum Joe pastikan. Restoran. Haris belum menghubungi kembali Joe untuk memberitahu restoran yang telah direservasi untuk malam ini. Namun, lelaki itu sudah membaca chat Joe. Mungkin Haris masih rapat sehingga belum mengabari. Nanti juga bakal berkabar.

Usai menaruh ponsel ke kursi penumpang sampingnya, Joe kembali melajukan mobil menuju IBS. Beruntung jalanan malam ini tidak begitu macet, sehingga Joe bisa sampai 30 menit lebih cepat. Tapi, yang menjadi masalah sekarang adalah debaran jantung Joe yang semakin kencang. Gugup karena setelah sekian lama ia tidak melakukan hal seperti ini.

Joe kembali melirik jam tangannya selesai memarkirkan mobil, "Seharusnya Alissa sudah selesai kerja dan kayanya sebentar lagi turun. Lebih baik aku siap-siap."

Joe keluar dari mobil sambil membawa buket bunga dan paper bag putih berisikan coklat di tangannya. Untuk gelang memang sengaja tidak Joe bawa. Karena ia ingin memberinya sebagai kejutan saat Alissa pergi makan malam bersama nanti.

Joe sadar bahwa setiap langkahnya menarik perhatian orang-orang di sekitar, terutama para karyawan IBS. Mungkin karena buket bunga serta penampilan Joe yang tampak lebih rapih dari biasanya menjadi pusat perhatian. Namun ia tidak peduli. Joe berdiri di depan pintu masuk IBS, menunggu Alissa keluar.

Kali ini, Joe sedang mencoba peruntungan diri. Apakah ia akan bertemu dengan Alissa dan pergi bersama atau ia melihat Alissa bersama dengan Garash yang akan pergi merayakan valentine. Semua tergantung yang terjadi.

"Aku hanya bisa berdoa dan berharap."

Joe hanya ingin keberuntungan menghampirinya di hari valentine ini. Karena kali ini, ia bersungguh-sungguh untuk menyatakan cinta pada Alissa. Tidak akan menunda-nunda lagi.

*****

Sementara itu, Alissa tengah mengetuk-ngetukan jemari di atas meja sambil memandangi jam dinding yang ada di ruangan Ayo Indonesia Sehat yang sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Lima belas menit lagi film yang akan ditonton tayang, tapi Garash belum datang. Itu artinya Garash tidak akan menepati janji untuk nonton bersamanya.

Love, MaybeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang