Lima belas menit berlalu begitu saja tanpa ada percakapan apa pun. Hanya musik yang sengaja Joe putar dari Youtube melalui smart TV untuk menghilangkan keheningan. Sembari bersandar pada sandaran sofa, Joe terus menatap Alissa yang masih terdiam sejak datang ke apartemennya.
Perempuan itu hanya menunduk sambil memegang cangkir berisikan teh hangat yang dibuat oleh Joe begitu tiba di sini. Selama itu pula, Joe sengaja tidak menanyakan apa-apa pada Alissa, membiarkannya untuk menenangkan diri lebih dulu.
Bahkan, Joe tidak tahu kapan dan naik apa Alissa saat datang ke apartemennya. Tahu-tahu Alissa menghubungi Joe dan mengatakan sudah berada di lobi apartemen. Ketika menghampiri Alissa, Joe melihat wajah perempuan itu muram dan gerak tubuhnya gelisah. Joe menduga terjadi sesuatu selama Alissa bersama Garash hari ini.
Meski isi kepalanya sudah muncul berbagai macam pertanyaan yang ingin tahu apa yang terjadi, tapi Joe menahan semua itu untuk membuat Alissa nyaman. Jadi, Joe singkirkan dulu penasaran yang ada di dalam benaknya.
"Kang Joe."
Suara Alissa menyadarkan Joe dari lamunan. Setelah sekian lama diam, Alissa akhirnya bersuara menyebut nama Joe yang ada di sampingnya. Tetapi, Alissa belum berani menatap kedua mata Joe. Alissa masih tidak enak karena menemui Joe setelah bersama Garash seharian ini.
"Iya, Alissa."
Joe langsung merespon sambil mengelus lembut rambut Alissa. Namun, Alissa kembali diam, terlihat ragu untuk bicara saat merasakan tangan Joe yang mengelus lembut rambut perempuan itu. Sentuhan itu begitu tulus sampai Alissa ingin menangis. Kegelisahan yang dirasakan Alissa juga perlahan-lahan menghilang, berganti dengan kehangatan.
"Aku gagal buat ngobrol sama Garash soal Sofia yang aku tahu waktu ke Bandung."
Saat mendengar isakan Alissa yang tertahan, Joe langsung mendekati perempuan itu. Mengambil cangkir dari tangan Alissa, lalu diletakkan di atas meja. Joe memeluk erat Alissa, mengusap lembut punggung serta kepala sang perempuan secara bergantian untuk membuatnya tenang.
"Keluarkan Alissa. Jangan ada yang kamu pendam. Menangislah bila perlu."
Mendengar suara bariton Joe yang lembut membuat Alissa tidak bisa menahan air mata yang menumpuk di kelopak mata. Meski, Alissa sangat bersalah karena harus meluapkan semua ini pada Joe yang seharusnya tidak tahu apa-apa soal kisah asmaranya.
"Dia minta maaf, Kang." Alissa tidak bisa lagi menahan untuk tak bercerita pada Joe soal yang terjadi antara dirinya dengan Garash, "Dia sadar sudah bikin aku menderita dan menyesal selama ini."
Usai membeli kado untuk pernikahan Kenan, Alissa dan Garash pergi ke bioskop untuk menonton. Garash bilang ingin menebus kesalahan tidak datang saat hari valentine. Setelah membeli tiket, Alissa melihat kedua mata Garash yang menyorotkan kesenduan begitu dalam.
Ada rasa bersalah yang terpancar serta memohon kepada Alissa agar percaya bahwa tidak ada satupun perubahan dari perasaan lelaki itu untuknya. Kesalahan yang dilakukan selama dua tahun terakhir memang ulahnya, tapi bukan berarti perasaan lelaki itu pada Alissa berubah.
"Alissa, gue minta maaf sudah gak datang untuk nonton bareng lo waktu valentine. Gue harap bisa menebusnya hari ini. Gue juga minta sudah bikin lo menderita selama ini dan nyakitin perasaan lo."
Kalimat itu sukses membuat Alissa mematung lama. Hanya menatap kedua mata Garash yang berkaca-kaca tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Suara yang begitu lirih akan penyesalan membuat Alissa tersentuh dan berdebar kencang. Namun, semua itu tidak sebanding dengan kekecewaan yang Alissa rasakan selama ini, terutama tahu soal Garash pernah pacaran sama perempuan lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love, Maybe
RomanceDalam suatu hubungan tidak hanya ada cinta saja, tapi perhatian, pengertian, dan saling memahami pasangan merupakan bagian terpenting untuk membuat hubungan bisa terjalin dengan baik. Itulah yang dilakukan Joe Angkasa Gajendra untuk tetap bersama de...
