Bab 47

33 5 0
                                        

Olivia menatap sendu rumah yang selalu menyambutnya dengan penuh kehangatan dan keramahan luar biasa setiap kali ia datang kemari. Senyum hangat dari orang-orang rumah ini bisa membuat Olivia merasakan kasih sayang tulus sampai ia merasa kalau hanya di sini ia bisa merasakan hidup yang sesungguhnya.

Namun, kini semua itu telah sirna. Tidak ada lagu kehangatan dan keramahan yang menyambutnya. Pintu rumah mewah yang didominasi warna putih itu tertutup rapat, membiarkan Olivia berdiri di depannya dalam waktu cukup lama. Menunggu sampai orang yang ada di dalam sana membukakan pintu dan membiarkan ia masuk.

Lima belas menit berlalu, tapi pintu rumah itu belum juga dibuka. Olivia tahu kalau kehadiannya sudah tidak diinginkan lagi sehingga ia diabaikan seperti ini. Sungguh sakit sekali hati Olivia. Namun, semua ini adalah resiko dari apa yang telah ia lakukan dulu. Jadi, Olivia tidak akan menyerah dan tetap berdiri di sini sampai pintu terbuka.

Rasa pegal menggunakan high heels akan dilawan olehnya. Semua ini harus dilakukan agar Olivia bertemu dengan orang yang ada di dalam rumah ini. Karena cuman sekarang Olivia punya kesempatan untuk bisa bertemu dengannya.

"Aku bakal tunggu sampai Bunda mau ketemu sama aku," ucap Olivia menyemangati diri sendiri, "Aku yakin Bunda mau dengerin penjelasan aku dan bantu aku buat bisa balikan sama Joe."

Olivia sedang berdiri di depan kediaman keluarga Gajendra untuk bertemu dengan Arini. Olivia sudah putus asa karena Joe belum juga mau memberinya kesempata untuk bisa menjelaskan soal dirinya yang pergi di hari pertunangan dulu, sehingga Olivia memilih untuk menemui Arini. Olivia tahu Arini adalah orang yang bijaksana dan tidak akan mengambil keputusan kalau cuman mendengar dari satu pihak saja.

Selain itu, Olivia juga tidak mau membuang waktu menunggu Joe sampai ingin menemuinya. Karena menunggu lama dapat membuat kesempatan untuk kembali bersama hilang. Meski, Olivia tahu kalau Joe bersikap seperti itu karena masih marah padanya dan belum bisa memaafkan kesalahan yang telah dilakukan Olivia dulu.

Tiba-tiba saja pintu rumah keluarga Gajendra terbuka, lalu memperlihatkan kepala pelayan bernama Ira di depan pintu. Olivia tersenyum sambil berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh ketika tahu kalau perjuangannya berdiri depan rumah ini tidak sia-sia.

"Nyonya Arini ada di taman belakang. Beliau bilang Nona Olivia bisa menemuinya di sana," ucap Ira begitu berdiri di depan Olivia, lalu mempersilahkannya masuk, "Silahkan, Nona."

"Terima kasih, Mbak Ira," balas Olivia bahagia.

Olivia masuk ke dalam rumah tersebut sambil mengingat kenangan dulu. Setiap kali ia masuk ke rumah ini Joe sudah berdiri di depan sana, merentangkan kedua tangan, lalu memeluknya dengan erat, setelah itu mereka pergi ke taman belakang atau ruang keluarga. Hal yang paling menyenangkan ketika Olivia di sini adalah ketika seluruh keluarga Gajendra berkumpul.

Pandu dan Aditya adalah orang yang paling berisik, mereka selalu bertengkar saat membicarakan sesuatu. Sementara, Joe lebih banyak diam sambil menyimak pertengkaran kakak dan adiknya itu, lelaki itu bakal bersuara saat diminta untuk memisahkan Pandu dan Aditya.

Sedangkan, Arini dan Bara lebih memilih menikmati waktu mereka dengan mengobrolkan sesuatu sambil memantau anak-anaknya. Olivia sangat senang karena bisa merasakan kehangatan keluaga Gajendra, apalagi kehadirannya selalu disambut dengan baik.

Kini rumah mewah itu hening. Dari informasi yan Olivia dapatkan kalau sekarang Pandu dan Joe sudah tinggal di apartemen. Sementara, Aditya masih di tinggal di sini, tapi jarang pulang karena sibuk dengan grup band nya. Mereka mungkin bakal datang ke rumah ini saat tidak sibuk.

Olivia kembali menitihkan air mata saat berhenti di depan foto keluarga Gajendra yang terpajang di dinding dekat tangga, dan foto lainnya yang ada di bawah foto tersebut, tertata rapih di atas meja kaca setiap potret momen penting keluarga tersebut, terutama momen ketika wisuda Pandu, Joe, dan Aditya. Kebahagiaan ketiga beserta Arini dan Bara tampak jelas.

Love, MaybeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang