Joe yang sedang berdiri di depan cermin untuk melihat penampilannya mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya. Joe menyuruh masuk dan muncul Arini yang begitu cantik mengenakan dress abu-abu dengan rambut yang disanggul bow bun.
"Joe, kamu sudah selesai?"
Joe yang sedang menggulung lengan kemeja kanannya melirik sekilas Arini yang tengah melangkah ke arahnya, "Dikit lagi, Bun. Kenapa?"
Namun, tidak ada jawaban. Joe mengernyit heran, lalu mendongak menatap Arini yang sudah berdiri di samping cermin. Arini menatap lekat Joe, seolah tengah memastikan kalau keadaan putra keduanya itu baik-baik saja.
"Kenapa, Bunda?" tanya Joe mengalihkan tatapan ke cermin, "Ada yang salah sama penampilan Joe?"
Perasaan penampilan Joe biasa saja. Mengenakan kemeja warna putih lengan panjang yang digulung sampai siku dan celana jeans warna hitam. Sesuai dengan dresscode ulang tahun Arini hari ini. Tapi, kenapa sang ibunda menatap Joe khawatir kaya ada sesuatu yang aneh darinya.
"Bunda cuman mau memastikan kamu marah gak sama Bunda bawa Alissa kemari hari ini," Arini akhirnya menjawab sambil mendekati Joe, lalu menggulung lengan kemeja putra keduanya itu yang tidak sama, "Setelah Bunda pikirin dengan baik, rencana yang Bunda lakuin emang sedikit kelewatan. Harusnya Bunda minta tolong kamu buat bujuk Alissa buat datang daripada rencana bikin jebakan gini."
Sebenarnya, Joe sempat marah mendengar rencana Arini dan berniat untuk tidak datang. Karena tidak berani bertemu dengan Alissa ketika ia mengetahui yang sebenarnya terjadi. Namun, Joe tahu kalau Arini melakukan rencana itu karena ingin sekali bertemu Alissa dan mengenalnya lebih dalam.
Karena sejak pertama kali mendekati Alissa hingga detik ini Joe belum mengenalkan ke Arini dan Bara. Meskipun keluarga Alissa dan Joe sudah saling mengenal lama. Bahkan, Joe sempat mau dijodohkan dengan Alissa waktu belum tahu kalau perempuan itu adalah anak Gunawan.
"Aku emang sempat marah waktu dengar rencana Bunda yang..." Joe menggantungkan ucapannya karena bingung mencari kalimat yang tepat untuk dikatakan tanpa menyinggung perasaan Arini, "Gitulah."
"Bilang aja yang aneh, gak masuk akal, sama kelewatan," kata Arini sambil memukul lengan Joe, lalu melirik sebal anaknya itu, "Gitu amat susah."
Joe meringis merasakan sakit di lengan yang habis dipukul, "Ya, aku gak mau bikin Bunda tersinggung."
"Bunda gak tersinggung." Arini berkacak pinggang selesai merapihkan gulungan lengan kemeja Joe, "Bunda bakal tersinggung kalau kamu gak jujur demi melindungi perasaan Bunda. Justru sekarang adalah waktunya Bunda buat tahu kalau tindakan Bunda itu salah apa gak dari kamu."
"Intinya aku gak marah sama Bunda sekarang, walau masih kaget sama rencana Bunda kalau tiba-tiba muncul dipikiran aku," ucap Joe yang tengah mengusap lengannya, "Aku sekarang lagi kepikiran Alissa bakal marah apa gak kalau tahu semuanya."
Apalagi kalau tahu Joe mengetahui rencana Arini dan tidak memberitahunya, pasti bakal bikin Alissa marah dan kecewa padanya. Itulah yang membuat Joe kepikiran sampai saat ini. Hubungan mereka baru saja menemukan titik terang, tapi masa harus dihadapkan dengan masalah.
"Soal itu kamu tenang saja, Bunda sama Intan sudah sepakat gak bakal kasih tahu rencana ini dan berusaha buat kelihatan biasa aja nanti."
Arini juga baru kepikiran gimana perasaan Alissa kalau mengetahui rencananya ini. Sudah pasti bakal berpengaruh ke hubungan Alissa dan Joe depannya. Bisa jadi hubungan yang sudah mereka bangun rusak seketika karena rencana Arini yang bodoh ini. Arini menyesal.
"Kalaupun Alissa tahu soal rencana ini kamu tenang aja Joe, biar Bunda yang selesaikan semuanya." Arini berusaha bersikap tenang dan meyakinkan Joe kalau semuanya bakal baik-baik saja, "Kamu gak perlu khawatir. Bunda bakal tanggung jawab atas apa yang sudah Bunda lakukan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Love, Maybe
RomansaDalam suatu hubungan tidak hanya ada cinta saja, tapi perhatian, pengertian, dan saling memahami pasangan merupakan bagian terpenting untuk membuat hubungan bisa terjalin dengan baik. Itulah yang dilakukan Joe Angkasa Gajendra untuk tetap bersama de...
