S2: M|| 42

1.9K 52 2
                                        

"Apa-apaan ini?" Fayra mendesis pelan, matanya mengerjap kagum menatap bangunan megah di depannya. Rasanya seperti berada di mimpi, melihat mansion futuristik yang berdiri di tengah lanskap bersalju, dikelilingi pegunungan menjulang tinggi.

"Jangan bilang, lo masih mengira ini dunia lain, Fay," goda Laras, sambil memutar bola matanya.

"Laras, ini lebih gila daripada yang bisa kubayangkan," jawab Fayra dengan mata berbinar.

Mereka bertiga berdiri di depan Mansion Wijaya, sebuah bangunan megah berbentuk silinder dengan lapisan kaca transparan yang berpendar biru, diterangi cahaya neon halus di sepanjang sisinya. Helipad melayang di puncaknya, sementara drone kecil berpatroli di udara, menjaga area sekitar.

"Selamat datang di mansion warisan Wijaya." seru Mama Vio kepada mereka. "Seperti yang kalian lihat, tempat ini diincar oleh banyak pihak. Dalam konflik lama, mansion ini menjadi titik strategis utama yang harus dikuasai."

Fayra menatap Mama Vio penuh kebingungan. "Tunggu, apa maksud Tante? Kenapa sebuah rumah bisa jadi target utama?"

Laras melirik Fayra dan memegang dagunya seraya berkata serius, "Gue pernah dengar legenda tentang mansion ini."

Fayra menoleh cepat. "Legenda? Yang mana?"

"Legenda Wyzen Tower," jawab Laras, menatap lurus ke arah mansion.

"Katanya, mansion ini memiliki teknologi yang jauh melampaui zamannya, dirancang untuk bertahan ratusan tahun tanpa rusak atau berubah sedikit pun. Tidak ada tumbuhan liar atau hewan yang bisa masuk ke dalamnya."

Fayra terdiam, mencoba mengingat sesuatu. "Oh, gue tahu itu! Gue pernah baca di buku sejarah tentang peristiwa tahun 1450. Katanya mansion ini ada di pulau terpencil, dan cuma orang tertentu yang bisa menginjakkan kaki di sini."

Mama Vio tersenyum mendengar ucapan Fayra. "Ingatanmu ternyata masih bagus, Fayra. Para leluhur kami memang menyebarkan kisah mansion ini lewat berbagai cara, termasuk melalui buku. Namun, tujuan sebenarnya dari penyebaran kisah itu tetap menjadi rahasia."

Lerina, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Kalau boleh tahu Tante, kenapa mansion ini begitu diperebutkan?"

"Karena teknologi, keistimewaan, dan sejarah yang melekat padanya," jawab Mama Vio dengan tenang. "Mari, Tante akan tunjukkan sesuatu."

Tanpa menunggu jawaban, Mama Vio melangkah menuju pintu masuk mansion. Saat mereka melewati pintu utama, sensor otomatis berbunyi, dan pintu kaca tebal terbuka dengan sendirinya, menampilkan interior yang jauh lebih menakjubkan.

Fayra, Lerina, dan Laras melangkah masuk, terperangah. Dinding-dinding mansion berkilauan, seperti dilapisi emas bercampur kaca pintar yang bisa berubah warna. Lantai kaca di bawah mereka memperlihatkan air berpendar biru, dengan ikan-ikan bercahaya yang berenang di dalamnya. Sesekali, cahaya dari air itu memantul ke langit-langit, menciptakan efek seolah mereka berjalan di atas danau bercahaya.

"Ini beneran mansion? Kok lebih mirip laboratorium alien?" Fayra berhenti sejenak, menatap kagum pada patung robot humanoid yang berdiri di sudut koridor.

Mama Vio tersenyum kecil. "Ini mansion, Fayra. Tapi, tidak seperti mansion lain yang ada di dunia ini."

Fayra memutar matanya, masih tak percaya. "Ya jelas bukan. Lihat ini! Lantainya aja ada ikan berenang, Tante. Apa mereka pakai WiFi juga?"

Laras memukul pelan bahu Fayra sambil terkekeh. "Fokus, Fay. Tante Vio pasti mau nunjukin sesuatu yang lebih keren pastinya."

Ketika mereka memasuki lift di ujung koridor, Mama Vio menekan sebuah tombol di dinding. Suara lembut terdengar dari arah tak diketahui:

"Lantai bawah 04. Diharapkan kepada tamu terhormat untuk duduk dan menunggu."

Belum sempat mereka bertanya, sofa besar muncul dari dinding dengan bunyi mekanis pelan.

"Astaga, terkejut gue!" Fayra melompat mundur.

Mama Vio hanya tertawa kecil. "Santai saja. Sistem rumah ini sudah dirancang untuk memberikan kenyamanan maksimal."

Mereka duduk di sofa empuk seperti awan. Hanya butuh lima detik sebelum lift meluncur turun dengan kecepatan luar biasa. Ketiganya terdiam, mulut menganga.

Saat pintu lift terbuka, ruangan luas menyambut mereka dengan pemandangan yang tak pernah mereka bayangkan.

"Ini..." Laras kehilangan kata-kata, matanya membelalak melihat alat-alat canggih berjajar rapi. Robot humanoid berwarna perak mengkilap bergerak di sekeliling ruangan, sementara lemari kaca berisi benda aneh seperti sarung tangan logam, helm futuristik, dan senjata berkilauan.

Mama Vio melangkah ke meja besar di tengah ruangan. Sebuah perangkat melayang di udara, memancarkan cahaya hijau berbentuk hologram.

"Ini salah satu warisan leluhur kami," ujar Mama Vio. "Namanya Showbook. Dengan ini, kalian bisa mengakses semua data tanpa perlu menyentuh satu lembar kertas pun."

"Jadi kayak komputer, tapi... ada sulapnya?" Lerina mengangkat alis, masih ragu-ragu menyentuh hologram itu.

"Lebih dari itu," kata Mama Vio sambil tersenyum. "Dan bukan cuma itu. Lihat ini." Dia mengambil sarung tangan logam berkilau dari rak putih.

"Ini Tryllefinger," jelasnya, menyerahkan sarung tangan itu pada Fayra. "Alat ini memungkinkanmu mengendalikan elemen seperti api, air, atau udara. Semua tergantung pada model dan penggunaannya."

Fayra menyelipkan sarung tangan itu di tangannya dengan ragu. "Coba bayangkan api," ujar Mama Vio.

Fayra memejamkan mata. Detik berikutnya, bola api kecil muncul di ujung jarinya, "Astaga! Gue penyihir sekarang." seru Fayra hampir menjatuhkan sarung tangan itu.

Mama Vio tertawa kecil. "Itu baru sedikit dari apa yang bisa dilakukan mansion ini. 95% teknologi di sini otomatis, dijalankan oleh sistem tanpa campur tangan manusia."

Perhatian Fayra teralihkan ke sebuah benda di sudut ruangan yang menyerupai motor, tetapi tanpa roda, "Eh, kalau itu apa? Kok nggak ada bannya?" tanyanya.

Mama Vio mengikuti arah pandangnya dan tersenyum. "Itu motor terbang. Tidak butuh ban, karena digerakkan oleh gas udara yang terkonsentrasi."

"Wow... kayak di film!" seru Fayra dengan mata berbinar.

"Dan itu, Tante?" Lerina menunjuk helm dengan kabel berkelip-kelip.

Mama Vio terdiam sejenak. Ada keraguan di wajahnya sebelum akhirnya berkata pelan, "Oh, itu..."

..............~^~...............~^~...........

( Gambaran untuk mansion Wijaya guys 👌 )

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


( Gambaran untuk mansion Wijaya guys 👌 )

..............~^~...............~^~...........

hay,hay! kak nia kembali nih dengan cerita yang kalian tunggu kan? hehehe, bercanda. maaf yah jika aku baru bisa update sekarang, karena jadwal kosong sedikit itupun aku sempatkan nulis cerita ini. soo, see you lagi guys.

MelissaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang