S2: M ||| 47: Sanguis Venari

223 4 0
                                        


"Gevon.." panggil Melissa dilobby Mansion, seketika sekumpulan orang di Lobby berbalik melihat Melissa yang terlihat tergesa-gesa dengan nafas memburu.

"Melissa/mama." Jawab serempak Galen dan Gevon yang sedikit terkejut dengan kedatangan Melissa yang tiba-tiba muncul.

Melissa melihat Galen dan ingin memeluknya, namun melihat ayah dan ibu serta para mertua di sini membuatnya tahan diri.

Melissa mendatangi mereka dan duduk ditengah antara Gevon dan Mama Vio, "Mama sudah tau siapa pengkhianat di keluarga Wijaya." Ujar Melissa mengagetkan mereka.

Galen  berdiri dan mengangkat Gevon ke Sofanya, sedangkan dia duduk ditempat Gevon seraya memegangi telapan tangan Melissa, "kamu yakin?" Tanyanya.

Melissa menganggukkan kepalanya dan melihat Galen dengan wajah yang sedikit ditekuk, "Galen... Semuanya..aku ingin bilang kalau sebenarnya Selama 7 tahun terakhir itu.."

Semau orang terdiam menanti penuturan Melissa, sedangkan Gevon melihat tajam ke arah Kael yang terlihat senyum cengengesan.

Melissa menelan ludahnya kasar dan menghela nafas, "aku tidak bersama kalian... 7 tahun itu Jiwaku tertukar dengan Jiwa gadis yang lebih mudah dariku.. dan itu Lerina.."

Semua orang terkejut tapi terkecuali pada ayah dan anak itu, Galen tersenyum dan mengelus kepala Melissa. "Aku tau." Ujarnya yang kembali mengagetkan Melissa.

"Kamu tau..?" Gumam Melissa kaget, dia pikir Galen akan marah dan menghindarinya.

"Iya, aku sudah tau sekitar 2 tahun lebih awal." Ujarnya seraya memberikan elusan ke Melissa.

Melissa melihat sekitarnya dan kembali melihat Galen, "Jadi kamu tau kalau Rian yang meracuniku." Ujar Melissa yang dihadiri dengan diamnya mereka semua, bahkan Galen terlihat menekukkan alis.

"Rian?" Gumam Galen yang diam-diam mengepalkan tangan kanannya, dan dibalas dengan anggukan kepala Melissa.

Kael mendekat dan berkata, "kan! Tuan Gevon tidak mungkin berbohong ataupun memfitnah seseorang tanpa sebab." Ujarnya dengan bangga.

"Saat itu.. diusia 7 bulan kehamilan, aku diberikan semacam obat oleh Rian yang katanya untuk kestabilan Kehamilan, aku ragu awalnya tapi tidak bisa menolak saat dia berkata kalau dia adalah ilmuwan dikeluarga ini." Ungkap Melissa.

Galen melihat Melissa dan menggenggam tangan Melissa erat, "kenapa kamu tidak pernah bilang...?" Tanyanya dipenuhi amarah dan rasa bersalah.

"Aku terhasut oleh kata-katanya yang bilang bahwa obat itu langka dan sangat sulit untuk dibuat lagi... Jadi aku tidak bilang padamu karena ini juga termasuk permintaannya.." ujar Melissa yang membuat semua orang disana menahan amarah.

"Ayah, mama, Semuanya... Gevon tau kalian pasti terkejut dengan ini, tapi sekarang sahabat mama sedang dalam bahaya." Ujar Gevon yang mengagetkan Melissa dan lainnya.

"Apa yang terjadi? dimana mereka?" Tanya melissa pada Gevon yang melirik Mama Vio. 

"Tadi aku meninggalkan mereka di Lab 05," ujar Mama Vio, membuat seluruh ruangan tersentak.

Tanpa pikir panjang, Melissa langsung berbalik dan berlari menuju koridor pusat lift silinder, sepatu haknya bergema di lantai logam futuristik yang bercahaya biru. Galen, Gevon, dan Mama Vio mengikuti cepat di belakangnya.

Namun, sebelum memasuki kapsul lift berlapis energi transparan itu, Gevon menahan Kael, "Kael, kamu tidak ikut." Ujarnya tegas, matanya tajam menatap anak buah kepercayaannya.

"Jalankan Protokol Sigma-2. Segel perimeter level bawah, aktifkan pemindai thermal dan bio-sensor di setiap jalur akses menuju Lab 05. Aku tidak mau Rian kabur dari menara ini."

Kael menunduk cepat dan langsung membuka hologram di pergelangan tangannya.
"Dimengerti, Tuan Muda. Perimeter akan diamankan dalam dua menit."

Lift mulai naik, membawa mereka menuju level bawah Lab 05, menyusuri inti bangunan kaca dan logam itu, sementara Kael berbalik arah, berjalan cepat ke arah ruang kendali pusat seraya mengabari Ke kakaknya apa yang terjadi.

Disisi lain, Rian tersungkur jatuh di lantai setelah di tinju oleh Laras, sedangkan Fayra dan lerina hanya bisa menganga melihat tinju kuat laras yang melayang ke pipi Rian. "Jangan kira kami baru disini, kami bisa dengan mudah dibohongi oleh penjahat sepertimu." Ucap Laras penuh amarah dimatanya.

Rian tersenyum dan mengelap bibirnya yang berdarah, dia bangkit kembali dan tertawa melihat betapa pintarnya gadis yang sudah memukulnya, "Sepertinya, Kamu daritadi diam bukan karena bodoh tapi karena sedang mencerna kata-kataku,kan?" ucap Rian yang kemudian menekan sebuah tombol di hologram.

"Apa yang kau lakukan?!" pekik Fayra saat melihat tabung Axel terbuka, Mereka bertiga terkejut melihat Axel yang bangkit namun matanya terlihat kosong seakan-akan bukan dirinya.

"Akhirnya Ramuan ku berhasil, Lihat Bagaimana aku mengendalikan anak ini selayaknya boneka hanya dengan satu kata." ucap Rian mengejutkan mereka bertiga.

Laras mendekat berusaha menggapai Axel, namun dia malah ditarik kembali oleh lerina dan fayra, "Laras jangan gegabah, gue lihat ada yang salah dengan axel." ucap Lerina yang diangguki oleh Fayra.

Rian tertawa dan mengeluarkan sebuah Ramuan dari sakunya, "Akhirnya, ramuan ku berhasil. Lihat, bagaimana aku mengendalikan tubuh ini hanya dengan satu kata. Racun Sanguis Venari ini bukan hanya mengikat sel darah merah, tapi juga mengakses sistem saraf pusat, mengendalikan setiap gerakan dan pikiran. Sekarang, Axel hanya sebuah boneka, bergerak hanya dengan perintahku."ucap rian menambah rasa amarah laras.

"Sialan kau!" marah laras yang ingin melancarkan sebuah tinju ke Rian tapi tiba-tiba saja Axel berada didepannya membuat Laras berhenti sebelum tinjunya mengenai wajah Axel.

Laras mengigit bibirnya lalu menurunkan tangannya dan mundur, "Sekarang waktunya giliran kalian." ucap Rian yang kemudian menepuk tangannya sekali.

Suara desis kembali terdengar dari seluruh lab yang luas.

Tabung-tabung di sekeliling ruangan mulai terbuka satu persatu, membangkitkan beberapa sosok dengan tatapan kosong seperti Axel.

"Tahan mereka!" perintah Rian.

Laras, Fayra dan Lerina segera berbalik tapi tidak bisa karena pintu Lab hanya bisa diakses oleh mereka yang punya kartu, "Kita terjebak..." desis Lerina.

 "Kalian akan jadi bonekaku berikutnya. Dan setelah itu... Melissa akan bersujud di hadapanku. Ia akan tunduk, seperti kalian semua." Tawa Rian menggema di lab.

"Lepaskan!!" teriak Lerina saat tubuhnya ditangkap salah satu bonek. Laras dan Fayra ikut terkepung, tangan-tangan dingin menarik mereka mundur, menjepit gerakan.

Rian melangkah mendekat, mengambil suntikan berisi cairan merah menyala. Jarumnya panjang, berkilat tajam di bawah cahaya laboratorium.

"Hahaha... Satu suntikan, dan selamanya kalian akan jadi milikku.."

Rian tersenyum dan mengambil sebuah suntik dengan jarumm terlihat tajam, "Hahaha..." tawa Rian yang bersiap menyuntikkan Lerina dengan ramuan buatannya.

"LERINA!!" Jerit Fayra dan Laras, Namun waktu seakan melambat. Jarum suntik itu kini hanya beberapa sentimeter dari leher Lerina. Air mata mulai menetes dari mata Lerina, tak berdaya.

MelissaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang