perpindahan jiwa / transmigrasi
Lerina yang awalnya mencari udara di taman, namun saat lagi asyik nya melamun, kepalanya malah dihantam sesuatu membuat nya transmigrasi ke tubuh seorang wanita antagonis beranak 1.
******...
"Baiklah, kita sudah sampai Nyonya." Ujar Kael seraya membuka pintu kamar.
Melissa dibuat menganga melihat kamar yang ada didepannya, penuh dengan warna emas dengan gaya yang mewah dan berkelas.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Melissa mengangkat jarinya menunjuk kearah kamar dan bertanya pada Kael dengan alis terangkat sebelah, "Ini kamar Utama?"
Kael menggelengkan kepalanya, "Tidak, Kamar utama tidak bisa diakses tanpa adanya Tuan Galen, jadi saya hanya bisa mengantarkan anda ke kamar tamu." Ujar Kael.
Melissa hanya bisa tersenyum canggung dan melihat sekeliling, "Apakah semua kamar seperti ini?" Tanya Melissa.
Lagi-lagi Kael menggelengkan kepalanya, "Semua kamar disini cukup berbeda nyonya, tapi tetap ada persamaan di gaya dan futuristik kamar."
"Oh....amazing." Gumam Melissa, Melissa berjalan ke kasur dan duduk dengan hati-hati agar tidak merusak.
Melissa melihat kearah Kael, "Apakah ada yang salah?" Tanya Melissa khawatir melihat wajah suram Kael.
Kael melihat Melissa dan segera menggelengkan kepalanya, "tidak ada Nyonya.." gumam Kael tapi membuat Melissa percaya.
"Kael... saya disini jabatannya apa?" Tanya Melissa pada Kael.
Kael melihat Melissa dan menunduk, "maafkan saya Nyonya.. saya hanya tidak ingin anda khawatir."
"Sudah sewajarnya saya khawatir jika ada masalah di keluarga Wijaya, tapi saya lebih khawatir jika masalah itu disembunyikan." Ujarnya serius.
Kael terdiam dan tersenyum kecil, "Saya hanya khawatir bahwa disini ada pengkhianat, Nyonya." Ujar Kael melihat Melissa.
"Pengkhianat, apakah kalian sudah lama menemukan siapa pengkhianat tersebut?" Tanya Melissa pada Kael.
Kael menggelengkan kepalanya dan menghela nafas, "Seluruh data atau informasi tentang ilmuwan yang dicurigai tidak ada yang salah." Ujarnya.
"Apakah ada orang yang kalian curigai dari awal?" Tanya Melissa yang berikan anggukan oleh Kael.
"Saya dan tuan muda mencurigai Rian, Nyonya." Ujarnya pada Melissa.
Melissa mengangguk mengerti, "Rian...akhh!" Setelah satu kata dari mulut Melissa keluar, kepalanya tiba-tiba saja dipenuhi dengan memori yang tidak jelas.
"Nyonya! Anda tidak apa-apa??" Tanya Kael, seraya mendekat ke Melissa.
Melissa menggelengkan kepalanya dan mengambil nafas panjang, "Kael, saya ingin istirahat... Bisakah kamu keluar?" Ujar Melissa yang diangguki oleh Kael.
Setelah Kael keluar, Melissa membaringkan tubuhnya dikasur dan menutup matanya.
'Rian? Ada apa kesini?'
'Nyonya, saya disini karena ingin memberikan anda obat kestabilan kehamilan.'
'Tapi dokter menyarankan agar tidak sembarangan mengonsumsi obat.'
'Nyonya, saya adalah ilmuwan dari keluarga Wijaya, saya hanya ingin memberikan anda obat tambahan agar nanti proses persalinan bisa lancar.'
'hm.. baiklah.'
'......'
'apakah ada hal lain?'
'Nyonya, obat ini adalah obat langka dan sulit untuk pembuatannya, saya harap anda tida memberitahukan kepada orang lain maupun tuan Galen.'
'Galen? Mengapa? Lagipula Galen pasti tidak butuh obat seperti ini.'
'obat ini spesial untuk anda, Nyonya, saya harap anda bisa mengerti.'
'ah.... Baiklah jika begitu..'
••••••••
'Kenapa obatnya tidak bekerja? Kenapa hanya efek sampingnya saja yang berefek padanya..'
'Rian... Kamu!'
'Nyonya, saya disini untuk mengunjungi anda yang akan melahirkan...'
'ukhh!'
'Padahal obat itu untuk membuat janin anda mati tapi kenapa tidak bekerja, malah obat itu hanya membuat anda menjadi emosional dan sensitif... Tapi tidak apa-apa, selama saya menyuntikkan anda cairan ini.. saya bisa terselamatkan.'
'Rian! Aku pasti membunuhmu!! Uhkk!'
'maafkan saya Nyonya, tapi mungkin cairan ini mungkin bisa membunuh anda jika raga anda menyerah... Hahaha..'
•••••
"Tidak!!"
"Rian!! Sialan! Pengkhianat itu!!" Melissa mengcekram erat selimutnya.
Melissa mengatur nafasnya yang memburu dan mengigit bibirnya, "apakah itu penyebabnya ragaku tertukar dengan raga lerina." Gumam Melissa.
"Saat itu aku bisa saja mati jika ragaku tidak tertukar dengan raga Lerina..." Melissa dengan gercep turun dari kasur dan keluar dari kamar.
'Rian! Lo pasti akan mati disini!' batin Melissa menggebu-gebu.
~•~•~•~•~•~•~•
"Jangan bercanda!" Seru Fayra yang tidak rela sahabatnya difitnah diikuti dengan anggukan kepala Lerina yang tidak percaya dengan perkataan Rian.
Sedangkan Laras hanya diam memandangi Axel yang terbaring didalam, Rian melihat Fayra lalu melirik kearah Laras dan tersenyum.
"Nona-nona, saya adalah ilmuwan di keluarga Wijaya untuk apa saya berbohong tentang hal yang bisa saja membahayakan nyawa saya, kan?" Ujarnya dengan wajah percaya diri.
Fayra mengepalkan tangannya dan bisa saja tinjunya melayang ke muka Rian jika saja Lerina tidak menahannya, "Mau Lo ilmuwan, Professor, ataupun apapun itu! Gue kagak akan pernah percaya dari omong kosong Lo yang menyesatkan!"