"Lyra, bagaimana?"
"Saya dan yang lain melakukan tugas masing-masing tuan, saya yang bertugas mengacak sistem keamanan mereka."
"Apakah sudah selesai?"
"Tentunya sudah tuan, bahkan tuan besar, para tetua sudah berkelahi di atas."
"Kapan kira-kira mereka selesai?"
"Kalau itu, saya juga tidak tahu tuan muda."
"Jika mereka sudah selesai, katakan kalau mama dan lainnya, aku bawa pulang kembali ke kota."
"Baik, tuan muda."
"Bagaimana, Evon? Ayah dan yang lain baik-baik saja?"
Gevon segera melihat ibunya dan mengangguk, "iya, ma. Mereka sekarang baik-baik saja pastinya, sebaiknya mama dan teman mama ikut Gevon pulang kembali ke tempat asal."
Melissa tersenyum dan melihat tiga sahabatnya yang mengangguk dengan semangat.
"Gue juga udah capek, nih." Lelah Fayra ke Melissa.
"Baiklah, mari kita pulang." Ajak Melissa pada mereka yang langsung berlari keriangan.
√√√√√√√√
"Altherion! Sialan Lo!"
Galen tersenyum kecil pada orang yang terbaring dengan dua tembakan, satu di kaki kiri dan di tangan kanan.
"Bagaimana bisa Lo tau semua sistem dan rencananya!!" Teriak Lucian pada Galen yang duduk manis di kursi depannya.
"Lucian... Kamu memang pintar, tapi sayang sekali. Ilmu akan kalah dengan hadiah dari Tuhan langsung."
Tangan kiri lucian terkepal mendengar penuturan dari orang di depannya.
"Lyra!" Panggil Gevon.
Lyra melangkah masuk kedalam ruangan yang cukup luas, dia memberi hormat pada Galen.
"Tuan besar, saya kesini ingin menyampaikan kalau tuan muda, nyonya besar dan sahabatnya sudah kembali ke kota."
Galen mengangguk, Lucian sendiri melirik Lyra dan entah mengapa sosok robot didepannya ini seperti bukan robot biasa.
"Biar ku beritahu, alasan mengapa Lo bisa kalah." Gumam Gevon di depan Lucian.
"Dia adalah Lyra, salah satu dari dua robot Wijaya. Kemampuannya sangatlah istimewa, bahkan dia bisa melacak seluruh sistem dan mematikan sistem yang dia kehendaki di wilayah yang dia tempati."
Lucian mengigit bibirnya, jadi robot ini adalah alasan Sistem keamanan dan lainnya mendadak menjadi eror.
"Dan dia juga bisa mengulangi waktu. Simpel bukan? Aku menang karena simpati tuhan, dan kepintaran leluhur."
"SIALAN LO!"
Lucian mengangkat tangan kirinya dan mengarahkan sebuah pistol kearah Galen.
"Tuan!"
Doorr....
"Sangat buruk." Ucap Galen yang berhasil menghindari pistol tersebut.
Lucian tidak terima dan saat akan menembak lagi, lehernya disuntik oleh Lyra yang cairannya bahkan berwarna aneh.
"Tuan.. bagaimana dengan orang ini? Apakah bunuh disini saja?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Melissa
Randomperpindahan jiwa / transmigrasi Lerina yang awalnya mencari udara di taman, namun saat lagi asyik nya melamun, kepalanya malah dihantam sesuatu membuat nya transmigrasi ke tubuh seorang wanita antagonis beranak 1. ******...
