Mama Vio tersenyum kecil dan memegang tabung tersebut, "mereka adalah Lyra dan Kael, keduanya adalah ciptaan penelitian kami."
Fayra dan kedua sahabatnya tertegun mendengar pernyataan Mama Vio, "hebat.... mereka betul-betul terlihat seperti manusia!" Seru Fayra.
"Keduanya dibuat dengan menggunakan seluruh kemampuan dan keahlian leluhur, pada catatan, keduanya memiliki kemampuan bertarung yang kuat, dan juga mereka bisa mengembalikan/mengulang masa lalu tapi itu hanya sekali saja." Ujar mama vio yang mengagetkan trio sahabat.
"Yah? Itu tidak mungkin... Mana mungkin ada hal seperti itu." ujar Laras kurang percaya.
"Awalnya Tante juga tidak percaya, Namun....." Mama Vio berhenti dan hanya mengelus tabung tersebut.
"Jadi sekarang mereka bisa mengembalikan waktu ke masa lalu?" Tanya fayra.
"Tidak" satu kata dari mama Vio yang mengagetkan trio sahabat.
mama Vio melihat Fayra dan kedua sahabatnya seraya menggelengkan kepala, "Keduanya sudah digunakan." Ujarnya.
Fayra, lerina, Laras terdiam sebentar dan "HAH?!!" serentak ketiganya.
ketiganya hanya bisa menganga dan saling pandang lalu melihat kembali ke mama Vio, "Siapa? Dan bagaimana bisa?" Tanya lerina.
Mama VIo menghela nafas dan melihat kebawah, "Gevon... Gevon yang sudah menggunakannya, Tante dan demon mengetahuinya saat Gevon sendiri yang memberitahu kami." Ungkapnya.
Fayra, lerina, Laras tambah bingung, "jika begitu apa penyebabnya? Lalu mengapa keduanya masih disini, dan terlihat masih bagus seperti belum digunakan?" Tanya Laras.
"Nanti Tante kasih tau, intinya mereka berdua sekarang berada di sisi Gevon..." Ujar mama vio yang kemudian berjalan ke alat yang lain.
Fayra memasang wajah malas dan hanya mengangguk, melihat lekat Kael yang 'tampan juga' batin Fayra.
"Intinya mereka seperti alat yang gagal setelah ada yang berhasil." Ujar mama vio.
Trio sahabat itu manggut-manggut mengerti, "hebat banget Cok... Jadi gue pernah hidup, namun di ulang lagi gitu?" Ujar lerina tidak menyangka dan tidak bisa berkata-kata.
Mama Vio melihat mereka dan tertawa, "Hahah... Kalian pasti merasa ini cukup mengejutkan." seru mama Vio disela-sela ketawanya.
'tidak, ini bukan lagi mengejutkan... Tapi, sangatttttttt mengejutkan!! ' Batin trio sahabat melihat tawa mama Vio.
•••••••••••••~^~•••••••••••••
Melissa berjalan menuju mobil diikuti Gevon dan kedua bodyguard mereka, yang pastinya Kana dan kirin.
Mereka masuk kedalam mobil, dengan Melissa dan Gevon duduk dibelakang dan Kana yang menyetir ditemani Kirin disampingnya.
"Kenapa evon tidak bilang kalau bisa berkelahi, hm?" Tanya Melissa ke putranya, Gevon hanya tersenyum berusaha meluluhkan ibunya dengan senyuman.
"Huh... Dasar anak nakal." Ujar Melissa sambil mencubit pelan pipi putranya.
pak..
Melissa, Kana dan kirin dikagetkan oleh suara dari atas mobil.
"Musuh?" Ujar Melissa yang melihat langit-langit mobil.
"Tenanglah mama, evon yakin itu bukan musuh bisa saja itu hanya ranting yang jatuh." ujar Gevon, Melissa melihat Gevon dan melihat ke Kana dan Kirin.
"Sepertinya begitu" ujar Melissa yang kembali tenang.
'apakah kalian tidak bisa lebih hati-hati? Kalian mengagetkan ibuku.' batin gevon.
'maafkan kami tuan, si kecil tadi hampir berciuman dengan ranting pohon.' ujar seseorang dari tempat lain.
'huh.. terserahlah, tapi pastikan sekitar tetap aman."
'siap bos/siap tuan!!'
"Gevon Alexander Wijaya." Panggil Melissa membuyarkan pikiran Gevon.
Gevon tersentak dan segera melihat ke Melissa, "Iya, Mama?"
"Kenapa melamun? Kamu sakit? Atau lapar?" tanya Melissa cemas, tangannya terulur mengecek suhu kening putranya.
Melihat wajah ibunya yang penuh perhatian, Gevon tersenyum kecil lalu memeluk Melissa erat. "Evon bahagia, Mama... Evon pastikan penderitaan Mama akan Evon kembalikan pada mereka," bisiknya pelan, suaranya penuh tekad.
Melissa terdiam, suara Gevon terlalu kecil membuatnya tidak bisa mendengar apa yang dikatakan. "Kamu bilang apa, sayang?" tanyanya seraya mengelus kepala Gevon.
Gevon hanya menggelengkan kepala dan berkata, "Tidak, Mama. Tidak ada apa-apa." dia tetap memeluk ibunya, seolah tak ingin melepaskan.
Melissa hanya mengangguk pelan, membalas pelukan itu sambil mengusap lembut kepala anaknya.
"Tuan muda, Helikopter yang Anda minta sudah siap di depan," ujar Kirin setelah menutup telepon.
Melissa mengernyit bingung. "Helikopter?"
"Iya, helikopter." jawab Gevon santai. "Katanya Oma dan Opah ada di mansion utama Wijaya sekarang, jadi Evon mau ke sana. Bolehkan, Ma?" ujar Gevon dengan mata berbinar penuh harap.
Melissa terkekeh kecil, dan mengangguk. "Baiklah, baiklah. Apapun yang Evon inginkan."
---
Lorong gelap yang hanya diterangi lampu temaram, Bau darah dan debu memenuhi udara, menambah suasana mencekam. Haris berdiri kaku, matanya menatap ngeri ke arah mayat-mayat yang berserakan di depannya.
"Apa yang akan kita lakukan pada mayat-mayat ini, Galen?" tanyanya, suaranya bergetar.
Galen tidak langsung menjawab, dia menyesap rokoknya perlahan, pandangannya tenang, nyaris dingin. Setelah beberapa saat, dia akhirnya berbicara.
"Yang mati, bakar mereka hingga jadi abu. Yang masih hidup..." Galen berhenti sejenak, melihat korban yang merintih lemah di lantai. "Bawa ke laboratorium 06."
Haris menelan ludah. "Kau... kau mau menjadikan mereka boneka?" tanyanya tak percaya.
Galen mengangkat bahu. "Kalau mereka bisa bertahan, maka mereka layak diberikan kejutan." Suaranya datar tanpa sedikit pun emosi.
Dia berdiri dari kursinya, melangkah melewati mayat-mayat tanpa rasa kasihan. Setiap langkahnya menggema di sepanjang lorong. Sebelum pergi, dia berbalik memberikan instruksi terakhir.
"Oh, ya... untuk keluarga Astoria, kecuali Kemala. Bawa mereka semua ke laboratorium 10. Itu tempat yang cocok untuk mereka."
Haris terdiam dan hanya mampu mengangguk, Langkah kaki Galen semakin jauh, tapi tiba-tiba sebuah suara menyelinap di pikirannya.
Papa.
Kenapa? balas Galen singkat, suaranya nyaris seperti bisikan.
Percakapan itu terjadi melalui alat komunikasi canggih keluarga Wijaya, yang tertanam di belakang telinga mereka.
Bagaimana keadaan di sana? tanya orang itu.
Aman. Semuanya terkendali, Bagaimana dengan Mama?
Mama baik-baik saja, bahkan sekarang sedang tidur nyenyak.
Galen menghela napas kecil, senang mendengar kabar itu. Baguslah. Jika begitu, Langsung kembali ke mansion utama.
Siap, Papa!
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
KAMU SEDANG MEMBACA
Melissa
Randomperpindahan jiwa / transmigrasi Lerina yang awalnya mencari udara di taman, namun saat lagi asyik nya melamun, kepalanya malah dihantam sesuatu membuat nya transmigrasi ke tubuh seorang wanita antagonis beranak 1. ******...
